Friday, November 21, 2025

"KETIKA PEMIMPIN BERHENTI MEMBACA"

Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy. 


I. PENGANTAR. 
Dunia berubah, lingkungan berubah, bahkan komunitas beriman dan tentu saja kehidupan pemudanya pun berubah seiring waktu dan dinamika konteks. 
Perubahan memang tak pelak, selalu progresif menjawab hakikat keabadiannya, sehingga, dia tidak dapat dihambat apalagi dihentikan. Heraclitus bahkan menyebutkan bahwa perubahan tidak lain prinsip fundamental realitas. Artinya, sebagai hakikat dasar dari segala sesuatu yang ada (perspektif filosofis), tidak ada yang permanen kecuali perubahan. Dengan demikian, tidak ada pilihan lain selain bahwa adaptasi terhadap perubahan menjadi solusi paling tepat jika ingin terus survive melakoni aktualisasi peran. 

Maka, senantiasa membentang tuntutan pada diri seorang pemimpin, termasuk pemimpin di lingkup organisasi pemuda untuk terus memvalidasi daya kepemimpinannya melalui belajar dan manekunkan obsesi kualitatif serta efisiensi dirinya pada bacaan literatur maupun kepekaan dan kesadaran kontekstual. 

Pemimpin jangan pernah merawat sigma "cukup" atau merasa sudah cukup dengan  kapasitas yang dipunyai dan mendayagunakan untuk me-resonansi seluruh peran dan tanggungjawabnya. Lebih dari itu, dia tidak boleh berdiam dan terus mengandalkan pengetahuan lama yang dimiliki sekalipun harus diakui ada banyak dari pengetahuan lama yang tetap relevan untuk dipertahankan. Pemimpin harus bisa menguji dan mengasah kepekaan kritisnya dalam mengenali pengetahuan-pengetahuan mana dari yang lama yang perlu dipertahankan dan mana yang sudah waktunya di lepas agar selalu tersedia "Void" dalam ruang kritis pemikiran dan kesadaran kepemimpinannya. Dengan demikian, pemimpin patut menyatakan tabu pada perilaku hidup tanpa membaca (dalam makna yang lebih luas yakni belajar). 


MENGAPA PERLU TERUS MEMBACA?
secara teoritis, pemimpin terkarakterisasi dan terkonotasi oleh anggapan "unggul", dimana setiap sisi aktual dirinya ditandai oleh apa yang dalam bahasa Perancis disebut "parle" yaitu; bicara atau berkata-kata. 

Pemimpin bukan hanya bisa bicara melainkan harus bicara. Entah itu instruksi, konfirmasi, konfrontasi, diskusi, investigasi dan yang terutama decision making. 
Dalam hal ini kualitas pemimpin ditentukan oleh mutu kata yang diucapkan atau disampaikan. Sesuatu yang sangat menentukan dalam internalisasi dan akumulasi pengakuan serta dukungan anggota-anggotanya.

Melalui progres membaca seorang pemimpin akan terus tumbuh menjadi pribadi pemimpin efektif, terampil dan adaptif karena kekritisannya terasah melalui berbagai sumber (literasi dan aktual konteks). Ini salah satu saripati pemahaman di balik pengetahuan tentang teori perilaku kepemimpinan  (Leadership Behaviour theory).

Kurang lebih pada tahun 2002 ketika mengikuti pelatihan bertajuk KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL, beta teredukasi salah satu perspektif yang meng-underline pentingnya seorang pemimpin untuk terus belajar/membaca karena melalui aktifitas tersebut, pemimpin mampu menginspirasi perubahan dan menginjeksi nalar-nalar inovasi. Pemimpin transformasional, karenanya, memiliki ciri khas berupa terus mengevaluasi diri dan memperluas wawasan, termasuk dengan membaca dan memperdalam ilmu yang kompatibel dengan seluruh tugas kepemimpinannya.
Perspektif Kepemimpinan Transformasional ini, kemudian menjadi salah satu yang merasuk cukup dalam di pikiran dan hati beta serta menyingkap horizon berorganisasi dan berkepemimpinan beta. 

Kembali pada  point pengantar tulisan singkat ini yakni "perubahan", maka menjadi pemimpin pada organisasi pemuda membutuhkan kecerdasan membaca situasi, fleksibel dalam mengelola prinsip serta keyakinan argumentatif dan mahir memposisikan diri guna menyesuaikan pola kepemimpinannya atas dinamika situasi yang terus bergulir. 
Syarat lain yang tidak kalah fundamental adalah kecakapan mempelajari lingkungan dan konteks secara terus-menerus untuk dijadikan patokan presisi pengambilan keputusan. Ini harus menjadi semacam konstitusi mental dari setiap pemimpin organisasi pemuda. Mengapa penting, adalah supaya dia dapat memimpin secara efektif.


BAGAIMANA JIKA PEMIMPIN MULAI MALAS MEMBACA? 
Sebagai orang yang tahu dan pernah merasakan berapa besar manfaat belajar yang salah satunya dibangun melalui metode membaca dan kini menjadi semacam habituasi diri, beta sulit membayangkan bagaimana suatu organisasi mencapai orientasinya dan menjaga kelangsungan hidupnya jika kompromis secara longgar terhadap ciri hidup pemimpinnya yang jarang bahkan malas membaca. Tentu saja kerugian akan terjadi secara simultan baik terhadap pemimpin itu sendiri dengan domino effect pada organisasi. Mengapa? Sebab dia akan menjadi pemimpin yang "felt lost". Tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam fungsinya sebagai pemimpin dikarenakan kehilangan wawasan dan pengetahuan. Padahal pengetahuan itu penting untuk mengambil keputusan yang tepat demi kemaslahatan anggota dan masa depan organisasi yang dipimpin. 
Pemimpin yang kurang berwawasan cenderung mudah limbung/goyah prinsip-prinsipnya ketika disusupi pengaruh informasi bias dan berimplikasi de-kompetensi. Kepemimpinannya menjadi rentan rapuh, loss of integrity, punya potensi negatifis dan anti kritik. 
Selain dari hal-hal ini, kemalasan untuk membaca juga dapat mengakibatkan pemimpin fell behind terhadap kemajuan dalam hal inovasi dan kehilangan kemampuan untuk berubah sesuai perkembangan zaman. Lemah dalam membangun daya imajinasi dan ide-ide visioner, yang strategis dan berjangka panjang bagi organisasi dan progres leveling kepemimpinannya menuju fase yang lebih tinggi lagi. Bobot pengaruh dari kepemimpinannya tidak signifikan untuk menata dan mengasah keterampilan komunikasi dan relasi sosial organisasi untuk menghadapi tantangan sekaligus menginspirasi anggota-anggotanya. 
Pada giliran akhirnya, pemimpin yang tidak lagi belajar dan mengaktivasi diri melalui membaca, berisiko menciptakan kegagalan kepemimpinan yang merugikan organisasi sebab telah memboroskan resources organisasi untuk melahirkan dan membesarkan pemimpin yang tidak ada manfaatnya.


PENUTUP. 
Teruslah "adaptif", tapi jangan lupa untuk selalu merasa kapasitas yang ada saat ini sesungguhnya belum selesai apalagi paripurna. Karena itu, tetaplah membaca dan belajar di bawah naungan "kerendahan hati."

Tuhan memberkati! 

Saturday, September 27, 2025

"REMAH LITERASI DARI SMARTPHONE"


Oleh: Hendry Nofry Pasalbessy


Dalam konstruksi pandangan filosofis dan praktek hidup masyarakat sekuler bergenre pop culture yang semakin rasionalistik, tarikan kuas penggambaran landscape new era nampak sedang tebal-tebalnya menggaris nisbat teknologi modernitas sebagai pemburam peran-peran mendasar dari apa yang saya sebut "agama doktrinal" berbasis kitab ajaran yang ribuan tahun berpijak sebagai spot episenter dari dimensi eksistensi sekaligus sarana survivalitas rohani/jiwa manusia.

Bahwa jika pada agama doktrinal, teks-teks di rujuk sebagai landasan acuan keyakinan, hal ini berbeda dengan era teknologi dimana kehadiran aktual berbagai perangkat fisik dan jaringan hasil olah pikir manusia rasional yang mengandung daya virtual justeru dijadikan landasannya. 

Diantara begitu berserakannya sarana yang diproduksi melalui jaman baru ini, smartphone yang ada dalam genggaman manusia termasuk yang sedang saya gunakan untuk menulis artikel ini, nampak telah menjamah tahta transendensi di balik pengakuan masyarakat modern sebagai salah satu "tuhan" (t huruf kecil). Smartphone mengakuisisi Tuhan konvensional yang dinarasikan agama-agama kitab. 

Bentuk fisik, merk ter-endorse, konten-konten dan aplikasi smartphone tersaji serupa potensi kuasa ketuhanan yang memformulasi dan mentransformasi secara dominan harapan para penggunanya, mengatur dan mengendalikan melalui algoritma (terlepas dari ada atau siapa operator yang mengendalikan).

Algoritma itu sendiri telah mempartisi tiap-tiap penggunanya ke dalam aliran-aliran kepercayaan yang diikuti dan ditekuni secara sukarela hingga melahirkan banyak dogma termasuk dogma post-truth yang ramah dan kompromistis pada pseudo fenomenologi, dimana apapun realitas yang muncul atau sengaja dimunculkan bisa diatur dan dimanipulasi melalui standar ganda nilai. 

Hoax pun telah menjadi semacam credo yang wajar, normal dan sah-sah saja ditaati masyarakat informasi.
Tujuannya tidak lain agar sesuai dengan espektasi yang di cari. Itu sebabnya tidak terlalu keliru bila dikatakan bahwa terasa kita kini sedang mengenyam didikan-didikan bersubstansi hoax secara masif sebagai kebenaran alternatif. Sebagian diantara masyarakat, berlangsung, memeluk dan mencintai hoax nyaris segila-gilanya seperti dalam fenomena para pengikut aliran keagamaan tertentu yang kerap mengalami spiritualitas trance dihipnosi mistisisme. Minimal bisa kita tangkap fenomenanya manakala ada hajatan-hajatan publik besar seperti pemilihan umum dimana politisi dan atau operator survei berperilaku selayaknya pencipta sekaligus penyembah hoax. Tentu saja fenomena ini hanya sekelumit dari begitu banyaknya kondisi dan peristiwa yang permisif beriman kepada praktek hoax. 

Kefanatikkan yang ekstrim dalam mengkonsumsi konten-konten melalui smartphone yang begitu baik hati bersedekah hoax, sangat mungkin suatu ketika akan mengubah dan menurunkan *Tuhan-agama" dari Tahta Langit Suci (terjemahan dari The Sacred Canopy karya Peter L. Berger) untuk kemudian menobatkan  "tuhan-teknologi" sebagai being sang penunduk, penunjuk dan pengarah kehendak atas orientasi humanitas dan transenden manusia. 

Bedanya, jika bagi Berger, agama adalah "Realitas Sosial" tempat manusia mengartikulasi iman, new era nampak paradoks sebab introduksi dasar-dasar keimanannya dilandasi realitas teknologi yang membanjiri adrenalin daya eksis manusia melalui konten-konten media sosial serta dipergunakan sebagai semacam simbolik ritus religiusitas. 

Dalam situasi ini, penting mengaktifkan "Kesadaran imanen" -potensi terkuat- sebagai medium filter yang menyaring intensitas paparan dari kooptasi tuhan-teknologi yang nampak dalam sebongkah smartphone. Meski langkah ini pun tidak mudah karena kita terlanjur berada di pusaran transisi pergulatan triple being yakni, Tuhan-agama, tuhan-teknologi dan tuhan-antroposentrik yang lebih jauh bisa pembaca dalami melalui bukunya Yuval Noah Harari, bertajuk "Homo Deus"

Aktivasi kesadaran kita selalu relevan dan penting untuk mematahkan eksistensi tuhan (t huruf kecil) dalam sebongkah smartphone, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk orang-orang yang kita sayangi termasuk anak-anak kita.

Perlu untuk selalu terlibat bersama dan mengedukasi anak-anak kita saat mengarungi samudera kosmologi virtual smartphone untuk menjaga kemurnian dari pemurtadan iman dan percaya mereka kepada Tuhan (T huruf besar)  yang selama ini kita perkenalkan kepada mereka. 

Bagaimanapun juga smartphone bukan lagi elementer asing dari tubuh, pikiran dan hati manusia, bahkan dalam kiasan tertentu telah menjadi nyawa ekstenal tiap orang yang terutama sangat dihidupi penuh semangat oleh anak-anak. 

Sebab itu, karena kita sudah tidak mungkin lagi menarik device berotak artifisial bernama smartphone dari mereka maka sebaiknya fokuskanlah anak-anak kita pada dimensi positif keberadaan smartphone agar menolong mem-profiling kecerdasan majemuk anak-anak. 

Saya sendiri mengijinkan dan (sedapat mungkin) mengawasi penggunaan smartphone oleh anak-anak saya dengan tujuan mengisi lembar-lembar file kecerdasan di otak mereka. Mulai dari kecerdasan analitik, kecerdasan kinestetik, musikalitas hingga kecerdasan linguistik.

Semoga! 

Saturday, August 9, 2025

TANAH DAN PENGUASAAN OLEH NEGARA

Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy

Saat membuka salah satu platform medsos, saya sempat melihat komentar sehubungan pernyataan salah seorang Menteri pembantu presiden Prabowo bahwa "semua tanah itu milik negara, rakyat cuma dikasih status hak milik."

Miris rasanya jika apa yang dinyatakan oleh yang katanya sebagian dari kumpulan manusia unggul bangsa ini yang dari perspektif teori nilai lebih diasumsikan memiliki kelayakan dianugerahi jabatan mentereng sekelas pembantu presiden.

Bicara soal tanah, tidak dapat dilepas dari memahami bunyi asal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yakni:
"Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat."

Jika kita simak pasal ini, akan ditemukan dua frasa penting yang menjadi intisari diktum. Kedua frasa dimaksud tidak lain:
1. "...dikuasai oleh negara..."
Dikuasai, tidak selalu berarti memiliki, dan memang dalam logika konstitusionalnya demikian. Saat seorang supir men-drive bus, secara Konvensi bus tersebut dikuasai olehnya untuk kepentingan mobilitas penumpangnya, namun fakta ini  tidak otomatis berarti bus itu milik sang supir. Logika yang sama juga bisa dipakai menafsir makna penguasaan tanah oleh negara. Ilustrasi ini hanya logika sederhana untuk memahami kompleksitas dan kedalaman makna di balik pasal 33 ayat (3) UUD-45.
Negara melalui pemerintah hanya diserahi kewenangan untuk mengelola. Sumber kewenangan itu pun diperoleh dari rakyat, bukan milik asasi kekuasaan negara. 

2. "...untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat."
Frasa ini mengisyaratkan makna bahwa karena rakyatlah pemilik sejatinya maka kemakmurannya menjadi tanggungjawab negara. Afirmatif idenya bersumber pada nilai kontrak sosial antara rakyat dengan negara.

Memang harus begitu, sebab sejak semula, rakyat (baik secara individu maupun komunitas) mempunyai natur hak atas hidup, kebebasan dan kepemilikan (termasuk tanah), dan natur itu telah ada jauh sebelum adanya Negara. Demi keteraturan dan jaminan kepastian atas hak itulah, di antara sesama rakyat berkonvensi dan menunjuk negara sebagai instrumen yang kepadanya mereka delegasikan penguasaan hak-hak mereka.
Lisensi alamiah penguasaan ini Dimaksudkan guna menghindari konflik horizontal akibat tidak menghormati,  pengabaian dan pengingkaran hak satu sama lain dalam masyarakat. Jadi, sekali lagi, Negara bukanlah pemilik melainkan hanya penguasa pengaturan hak-hak rakyat. Inilah hakikat kontrak sosial yang ditegaskan oleh salah satu Filsuf ilmu negara, John Lock melalui bukunya. "Two Treatises of Government", John Locke. 

Selain John Lock, filsuf lain sekaliber ini yang menegaskan adanya kontrak sosial penyerahan hak-hak mereka (selalu tuan pemilik) kepada Negara (yang dalam logika paradoksal dapat dikatai "Budak Publik") bisa merujuk pikiran Thomas Hobbes atau Jean Jacques Rousseau. 

Semoga pemerintah dan menteri yang bersangkutan menghayati pandangan ini agar tidak mengartikulasikan otoritas penguasaan sebagaimana di introdusir pasal 33 ayat (3) secara berlebihan yang berujung merugikan dan mengkhianati rakyat. 

Thursday, August 7, 2025

HANYA OLEH SALIB-MU


Karya iman: Hendry Nofry Pasalbessy. 

Dari dalam gemuruh hati ini, aku datang, memandang dan memeluk kaki salib Tuhan. 

Dalam rindu akan ketenangan dan kelepasan, aku taruh seluruh gelisah di kaki salib itu. 

Aku tahu, dari atas salib itu ada darah suci yang tercurah. Mengalir dari derita tubuh yang tidak tercemari dosa.

Oleh pengampunan dan pemulihanlah, salib kasar itu melayakkanku dan seisi rumahku. Sebab itu, imanku membenarkan bahwa "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya."

Dalam pelukku pada kaki salib-Mu, lepaskanlah kami, Tuhan, dari kegelisahan ini. Tapi jangan karena kehendakku dan seisi keluargaku melainkan hanya oleh kehendak-Mu.


==================
8 Agustus 2025

Wednesday, August 6, 2025

DOA PAGI

Pada Bapa yang Maha Kuasa, kami datang melalui perantaraan Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat kami. 
Kami datang dan mengakui bahwa hembusan nafas kami sejak bangun pagi ini adalah anugerah dari-MU. Tidak ada jasa dan kemampuan yang memungkinkan kami bertahan hidup jika bukan karena-MU. Itu sebabnya kami rendahkan hati dan hidup dalam syukur dan melantunkan terima kasih akan hal itu. 

Tuhan, pengalaman hidup mengajarkan kami bahwa kami sungguh berharga di mata-MU. Betapa berharganya hingga Engkau peduli dan mendidik kehidupan kami. 
Bahkan, lebih dari sekedar berharga, hidup kami bernilai karena Engkau mengasihi kami. 
Maka dalam didikan dan kasih yang Engkau curahkan, kiranya ajari kami untuk setia tunduk dan bersabar menanti bagaimana Engkau bekerja dan berkarya bagi dan di dalam hidup kami.

Tuhan, ampuni jika kami merasakan bahwa dalam didikan dan Cinta yang Engkau tunjukkan, Jalan-jalan pemurnian yang disiapkan bagi kami terasa terjal dan berduri. 
Kenyataan ini pahit dan menyesakkan dada kami. Tapi Tuhan, Terima kasih sebab kami berkesempatan mengalaminya. 

Tuhan Yesus, sekuat yang kami bisa, kami akan terus menitikan langkah-langkah kehidupan kami. Kiranya, ya Tuhan, jangan lepaskan tangan-Mu dan buatlah kaki-kaki kami kuat untuk terus melangkah. Kami pegang janji penyertaan-MU dan di dalam iman kami diisafkan bahwa saat memilih ada bersama-Mu, jalan-jalan yang kami lalui adalah jalan yang aman. 

Tuhan, Kami memilih bersandar hanya kepada-Mu dan kami tahu pilihan kami tidak salah sebab di ujung dari kemelut ini pasti telah tersedia harapan kebahagiaan dan sukacita ilahi yang akan kami tuai.

Kepada Tuhan Allah Bapa di dalam Kristus dan Roh Kudus, kami persembahkan doa ini. Haleluya, Amin! 


======================
Rabu, 6 Agustus 2025.



Tuesday, June 17, 2025

"THE DEVIL'S IN THE DETAIL: Pentingnya Memperhatikan Hal-Hal Kecil."

Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy. 


Beberapa temuan yang kasuistik memperlihatkan bahwa sebagian orang cenderung abai memperhatikan hal-hal kecil. Dan, ini bisa di trigger sejumlah faktor, mulai dari kurangnya perhatian, entah karena sudah terlalu stres atau lelah mengurus sesuatu hal yang lain yang dianggap lebih penting, besar dan urgen ataupun didasari sugesti pada nilai dari apa yang dikerjakan. Bisa karena variabel keterbatasan waktu untuk menangani masalah-masalah kecil berbanding tanggungjawab yang lebih besar. Bahkan, bisa juga dilatari kurangnya menyadari betapa pentingnya menangani hal-hal kecil didasari pandangan skeptik dan under estimate. Yang lebih buruk dari itu adalah jika telah habit (menjadi kebiasaan), artinya, memang kebiasaannya mengabaikan hal-hal kecil dan fokus pada hal-hal besar.

Pada sisi lain, tuntutan terpenuhinya progres dan hasil guna menunjang prospek target core orientasi pada sistem tata keorganisasian menyebabkan konsentrasi atas beban aktifitas mau atau tidak mau mengharuskan pemimpin berpikir dan bertindak lebih efektif dan efisien. Ini menyebabkan munculnya pandangan pada beberapa pemimpin yang cenderung mendahulukan penanganan hal-hal besar karena di anggap berdampak langsung pada goal's yang ditargetkan, dibandingkan memboros resources yang tersedia hanya untuk merespon berbagai hal kecil yang mungkin tidak memiliki dampak langsung dan signifikan.

Yang jadi pertanyaannya adalah apakah dalam suatu aktifitas manajerial, ada dan atau munculnya hal-hal kecil yang mungkin bersifat atau sekedar dianggap sekunder tidak perlu direspon? 

Tulisan pendek ini ingin memperkenalkan salah satu pandangan yang cukup substansial yang menyebutkan bahwa "The Devil's in the detail" yang kira-kira dapat diartikan "setan ada dalam hal-hal kecil."

Setelah coba meretrospeksi akar historis kemunculan istilah, "The Devil's in the detail" atau "The devil is in the details" nampak mengandung keterkaitan paradoksal dengan pepatah "God is in the detail" yang dikaitkan dengan arsitek Jerman Ludwig Mies van der Rohe. Seorang arsitek Jerman-Amerika yang di klaim oleh beberapa kalangan arsitek terkemuka sebagai salah satu arsitek paling berpengaruh abad ke-20, ditandai beberapa karya monumentalnya seperti Paviliun Barcelona, Gedung Seagram serta Gedung Farnsworth.
Dia juga terkenal karena kutipannya, "Less is more" (Kurang adalah lebih).

Kembali ke istilah "The Devil's in the detail." Dalam perspektif proses manajemen, ungkapan bernada aphorismatik ini menekankan pentingnya memperhatikan unsur-unsur partikular yang detail dan kecil dalam setiap situasi manajemen, baik itu perencanaan, proses organizing, analisis maupun pengambilan keputusan. 

Afirmatif note di balik argumen ini hendak menerangkan bahwa acap kali, kesalahan atau kelemahan dalam suatu rencana, keputusan, atau analisis tidak terletak hanya pada bias konsep atau ide besar, yang terkait secara regulasi dan uraian tugas formal melainkan dapat terjadi pula pada detail-detail kecil yang kerap dipandang remeh yang tidak ter konstruksi dalam uraian tugas dan aturan, dimana pada kenyataannya pengabaiannya berujung pada dampak yang serius.

Akhirnya, "The Devil's in the detail" mengajarkan kepada kita, terutama para pemimpin tentang bagaimana memandang dan memperlakukan semua instrumental simtomatik secara proporsional dalam kerangka manajerial. Bahwa memperhatikan detail dalam proses manajemen terutama sehubungan perencanaan, operasi, analisis dan atau keputusan adalah penting. Mengapa demikian? Karena sangat mungkin terjadi, peristiwa-peristiwa mismanajemen dan bias pengambilan keputusan dimulai dari kesalahan atau kelemahan yang tersembunyi dalam detail-detail kecil yang mendatangkan bencana administratif dan yuridis. 

Belajar pada pandangan di atas maka, sekalipun atas mana efisiensi dan efektivitas, fokus pada konsep atau ide, operasional dan evaluasi hal-hal besar adalah baik, perlu juga kitanya untuk memperhatikan detail-detail kecil dan tidak memandangnya remeh.

Kiranya tulisan ini bermanfaat. Salam. 

Saturday, May 17, 2025

"KEBETULAN" DALAM PESONA PEMIKIRAN TIGA FILSUF (Karl Popper, Aristoteles dan David Hume)

Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy. 


Sore tadi, sepulang kegiatan repetisi paduan suara yang berlangsung di Kapel Rehuel Rumah Sakit Immanuel-Bandung, sekaligus adaptasi dengan musik piano karena besok pagi akan bertugas sebagai pianis pengiring nyanyian jemaat di kebaktian minggu, beta dan Mami! Sendy Natalia Sahilatua, perempuan maha cantik di muka jagat raya, melalui jalur Cinaduyut. Beberapa meter mendekati persimpangan, laju motor sengaja beta diturunkan disebabkan kepadatan temporal, efek pengaturan arus lalu lintas. Saat bersamaan, di depan kami berdua ada jenis mobil SUV bermerk T*y*ta R**h, yang juga berhenti.  Pada kaca punggung mobilnya menempel stiker bertuliskan kalimat "You'll Never Walk Alone".
Apakah momentum adanya dan terbacanya kalimat ini hanya suatu kebetulan? Entahlah. 

Tiba di rumah, tv merk P****ron sementara dalam mode menayangkan serial kartun anak "M&tB", ditonton oleh si bungsu, Immanuel Amie Gracelly "besi tua" (pasalBESSY-sahilaTUA). 
Kebetulan serial milik Animaccord Animation Studio Rusia yang menampilkan starting tema petualangan ber-laku humor antara Masha (bocah energik) dan Beruang (teman penyabar dan baik hati) itu sedang menayangkan versi english language.

Sekilas ikut menonton sembari mencandai Amie, beta dengar lentingan instrumen pengantar plot yang dikenali sebagai anthem Piala Dunia FIFA 1994, perhelatan yang melahirkan Brazil sebagai the winner of the competition. Apa lagi jika bukan lagu berjudul "We Are the Champions?"
Apakah momentum terdengarnya instrumen "We Are the Champions" ini juga hanya suatu kebetulan? Entahlah.

Menariknya adalah, ternyata baik kalimat "You'll Never Walk Alone" maupun "We Are the Champions" tampil dalam beberapa wujud dan karakteristik serupa, yaitu:
- Sebuah lagu (yang mengandung sugesti massa);
- Dipakai dalam event olahraga (sebagai pemantik adrenalin kompetisi seorang atlet dan spirit dukungan suporter);
- Bersifat iconic karena mengandung lokus makna pada identitas dan historis suatu tim (jika lagu "You'll Never Walk Alone" populer sebagai lagu kebanggaan klub sepak bola Liverpool FC, sebaliknya lagu "We Are the Champions" menandai landmark musical dalam sejarah FIFA dan Brazil). 
- Kedua lagu itu sama-sama membangun meta meaning tentang harapan, kekuatan, dan dukungan dalam menghadapi, menerobos dan mematahkan kemustahilan untuk kemudian mengubahnya jadi keniscayaan.

Menjadi amazing adalah diciptakannya lagu "We Are the Champions" yang merupakan salah satu single dalam album keenam milik Queen bertajuk "News of the World" itu, punya sumbu inspiring atau semacam ilham kreatif pada lagu "You'll Never Walk Alone"

Apa yang menjadi alasan Fredy Mercury menciptakan lagu itu juga cukup mengagumkan sebab dimaksudkan untuk menginstrumentasi suasana yang mengandung pesona identitas melalui notasi dan syair yang mampu mengkristalisasi fanatisme massa serta merawatnya dalam tempo yang lebih permanen. Suatu karya epik yang ternyata berhasil bukan hanya pada level eksistensi Queen semata melainkan mendunia dan menyejarah. 

Mercury mendalami secara serius karya Richard Rodgers dan Oscar Hammerstein II untuk kemudian menulis lagunya. Sebaliknya, "You'll Never Walk Alone" sendiri diciptakan oleh Rodgers dan Oscar untuk musikal "Carousel" pada tahun 1945, yang merupakan adaptasi dari drama "Liliom" karya Ferenc Molnár.
Alur ini memperlihatkan adanya sesuatu yang bersifat eksponensial. Dari Liliom menuju You'll Never Walk Alone dan berakhir di We Are The Champions. 

Jadi apalah perjumpaan antara judul lagu "You'll Never Walk Alone" dengan instrumen lagu "We Are The Champions" dengan beta hari ini adalah sebuah kebetulan belaka? 

Narasi "kebetulan" dapat dijadikan pokok telaah melalui berbagai perspektif ilmu semisal teologi, filsafat, dan ilmu-ilmu lain yang taken for granted berfokus pada pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang keberadaan, pengetahuan, nilai-nilai, dan hakikat realitas dimana "kebetulan" terobjektifikasi didalamnya seperti epistemologi, hermeneutika, logika, ontologi, etika hingga antropologi filsafat. 

Khusus pada tulisan ini beta gunakan beberapa kategori yang elementer dari filsafat sebagai frame guna mencoba memahami fenomena "kebetulan." Beberapa diantaranya adalah:

A. "Kebetulan" DALAM PANDANGAN INDETERMINISME. 
Adalah filsuf Karl Popper yang berpendapat bahwa alam semesta (beta memaknainya termasuk 'segala kejadian' di dalamnya) mengandung elemen indeterminisme atau ketidakpastian yang membuka kemungkinan pada keacakan yang sarat oleh "kebetulan."
Banyak jejak karya pemikiran Popper yang dikemukakan dalam kerangka mengembangkan konsep "kecenderungan" (propensity) yang pada intinya menjelaskan bagaimana "kebetulan" muncul dalam suatu sistem. Kecenderungan-kecenderungan mana dapat dijangkau oleh kajian menggunakan teori probabilitas, sekalipun prediktabilitas atas hasilnya cenderung samar.
Pandangan ini mengukuhkan Popper sebagai kontributor penting dalam memahami konsep "kebetulan."

B. "Kebetulan" DALAM PERSPEKTIF KAUSALITAS. 
Fenomena "kebetulan" dalam perspektif kausalitas, diintroduksi oleh filsuf barat jaman klasik yang cukup besar yaitu Aristoteles. Dalam hal ini kausalitas di tempatkan pada kuadran pembeda yang masing-masing adalah material, formal, efisien, dan final.
Menurutnya, "kebetulan" (dia menggunakan konsep "tyche") dimungkinkan terwujud apabila terjadi interaksi antara keragaman kausa-kausa namun level probabilitasnya unpredictable.
Aristoteles mengajukan pandangannya bahwa "kebetulan" dapat terjadi pada proses alam, seperti cuaca atau pertumbuhan tanaman, serta dalam tindakan manusia, seperti keputusan atau peristiwa yang tidak terduga.
Selain konsep "tyche", Aristoteles juga mengajukan konsep "eutychia" yaitu kesempatan dan menyebutnya sebagai "kebetulan yang menguntungkan"

C. "Kebetulan" DALAM KONTES PROBABILITAS DAN INDUKSI. 
Punggawa pandangan ini adalah David Hume. 
Bila kita menelusuri karya-karya bertajuk epistemologi dan filsafat sains, mudah menjumpai konsep probabilitas dan induksi yang terkait dengan fenomena "kebetulan."
Melalui probabilitas, Hume berpendapat, adalah mustahil untuk dengan yakin berkata bahwa kita bisa tahu tentang masa depan selain menggunakan tool prediksi past experience. Pernyataan ini membuka ruang eksistensi makna pada fenomena "kebetulan" ketika mencoba menjangkau masa depan atau ketika mengalami gejala-gejala tertentu yang nampak berkaitan. 
Selain probabilitas, Hume juga mengajukan konsep induksi dalam memahami fenomena "kebetulan." Bahwa dengan jalan induksi, kita dimungkinkan membuat generalisasi tentang alam semesta berdasarkan pengalaman masa lalu. Dalam hal ini, induksi sebetulnya kehilangan pijakan pembenaran logis, meski demikian dapat dipergunakan membuat prediksi yang probabilistik.
Untuk menutup ulasan atas pikiran Hume, beta ingin menyitir bahwa
Hume mengingatkan kita supaya selalu menyadari bahwa ada kemungkinan "kebetulan" disamping ketidakpastian.

Dan, untuk menutup paksa tulisan ini (karena mata mulai mengantuk) beta berenung ulang untuk menginsafi bahwa peristiwa perjumpaan dengan "You'll Never Walk Alone" dan "We Are The Champions" adalah anugerah yang memungkinkan beta memperluas jangkauan informasi dan horison pengetahuan yang berharga, sekaligus menikmati kebesaran Tuhan dalam mata (yang melihat tulisan), telinga (yang mendengar), tangan (yang mengetik), otak (yang bernalar untuk bernarasi) dan tubuh yang akan terus menikmati realitas di hari-hari mendatang entah itu sebagai "kebetulan" ataupun keniscayaan yang datang dari kepastian skenario "Pemilik Tahta Langit Suci"

Selamat istirahat malam!!! 

Monday, May 5, 2025

TIKUS, OBJEK PATOLOGI MORAL HOMO SAPIENS.

Penulis: Hendry Pasalbessy. 

Ada dua trigger yang mereaksi lahirnya tulisan ini. KESATU; beberapa hari ini Immanuela, anak saya, terus meminta diajari notasi untuk lagu karya I'Fals (tikus-tikus berdasi), dan KEDUA; salah satu quote pada kolom WhatsApp grup yang setelah di baca, mengandung makna hiperbolik. Bunyinya begini:
"... percuma seseorang berusaha menjadi orang kaya secara materi namun dia miskin  secara moral. Hal itu membuatnya nampak tidak berbeda dengan SE-EKOR TIKUS." (kalimat ini telah saya parafrase). 

Sekalipun objek yang di sasar sama yakni TIKUS, perbedaan diantara keduanya nampak jelas. Setidaknya pada muatan daya critical thinking yang menyertai kedalaman kesadaran. TIKUS, barangkali hanya dimaknai Immanuela sebatas kata dalam lagu sementara quote di atas adalah narasi kuat yang sarat makna satire.

Reflektor kimiawi pada otak saya bereaksi memunculkan pertanyaan, "selain disebabkan fitrah otentik homo sapiens dalam diri kita yang tentu saja bukan spesies TIKUS, apakah dengan predikat sebagai agen aktualisasi nilai dan tindak-tanduk moralitas, anugerah posisi puncak tertinggi lapisan piramida keagungan spesies memberi kita alasan untuk meng-under estimate nilai, makna dan kegunaan aktual satwa TIKUS?

Atau sebaliknya, mungkin ini bukan tentang TIKUS melainkan pengaruh kesadaran figuratif-subjektif yang meng-undermind pada peta mental kita manusia kemudian mencuat dalam pola pikir dan pola narasi. Suatu kemapanan yang sampai-sampai untuk mengekspresikan gejala patologi mental pun butuh sarana bagi bullseye prejudice (pembiasan sasaran kritik). Tepat di sinilah TIKUS disematkan. 

TIKUS, tentu saja tidak mempersoalkan moralitas pada manusia sebab hidupnya tidak menggunakan dan diatur dengan mekanisme moral kemanusiaan, apapun itu (tidak memikirkan, tidak merasakan sensasinya dan tidak dapat memaknai dengan modal naluri yang dimilikinya). Terlebih lagi, bukankan spektrum moralitas hanya bersentrifugal pada poros relasi antroposentrik? Sesuatu yang tidak dianugerahkan alam kepada spesies lain termasuk TIKUS.

Tapi perlukah bentuk-bentuk kesopanan kritik homo sapiens menempatkan TIKUS jadi objek pelampiasan? 
Jika TIKUS dipandang cukup akomodatif dan fungsional dijadikan sasaran penyamaran kritik moralitas manusia, kira-kira, pengalaman anteseden mana dapat dipakai membuktikan bahwa TIKUS itu species yang tidak bermoral hingga paralel dan sederajat dengan "orang kaya tidak bermoral? Atau tikus yang berdasi dan karena itu tidak bermoral?" (jika hewan tersebut dianggap punya atau pernah punya hal itu)?

Sampai di sini, saya berkesimpulan bahwa argumen hiperbolik yang kerap kali kita kumandangkan sambil menginferiorisasi posisi hewan, tidak lain perwujudan peneguhan keangkuhan spesies  yang terlampau sentristik oleh kita sebagai homo sapiens! ARGUMEN INI SEKALIGUS MENJADI KRITIK YANG JUGA BERLAKU UNTUK SIKAP DAN PANDANGAN-PANDANGAN SAYA. 

Padahal jika kita dalami, ada banyak yang dimiliki hewan termasuk TIKUS yang tidak kita miliki yang langsung atau tidak langsung berguna menunjang mobilitas survive evolusi kita.

Pikiran saya masih sangat fresh  melintas di atas lembar-lembar bukunya Yuval Noah Harari, "Homo Deus: A Brief History of Tomorrow", yang saya baca kurang lebih dua bulan lalu, yang intinya mengisahkan bagaimana prediktabilitas eksistensi manusia pada bentangan sejarah ternyata turut ditentukan oleh keterlibatan TIKUS pada dinding-dinding eksperimental laboratorium. TIKUS kemudian sukses menjadi salah satu episenter penentu kebertahanan hidup manusia di masa lampau serta berhasil menjamin kelangsungan evolusi homo sapiens menuju masa depan dengan lebih baik dan presisi terhadap beberapa resiko fisikal. 
Artinya tanpa beban penilaian moralitas manusia, TIKUS telah memberi sumbangsih kepada tautan makna kemanusiaan setiap manusia yang bergelut dengan berbagai situs moral, situs intelektual dan lain-lain.

Beberapa pencapaian dalam dunia manusia terbukti digapai melalui usaha menjadikan TIKUS sebagai landmark historis, entah itu pada dunia ilmu pengetahuan, dunia medis, pertanian, ataupun beberapa peran ekologis luas yang pada gilirannya menentukan keseimbangan ekosistem dan biodiversitas dimana manusia hidup bersama dan di atasnya. Artinya TIKUS dalam fungsinya yang eksisting bagi sejarah manusia justru menolong memperkokoh basis moralitas, etika dan kapasitas hidup manusia, bukan sebaliknya beban atau ancaman semata-mata sehingga pantas dijadikan sasaran analogi dekadensi moral manusia.

Saya rasa dengan keunggulan pembeda berupa tingginya kapasitas kognitif dan rasionalitas yang kita punyai, penghargaan bahkan penghormatan pada nila-nilai intrinsik semua makhluk perlu selalu diselaraskan dengan motif aktualisasi citra dan fitrah kemanusiaan kita.

Bahwa perspektif antroposentrisme kita tidak harus berjalan melalui koridor kenaifan pandangan spesiesisme karena dengan keunggulan pada kita ada tanggung jawab mengupayakan  keselarasan eksistensi makhluk.

Bahwa TIKUS dan sejumlah spesies pesticides lainnya pada satu kenyataan cukup  merugikan manusia, itu bukan alasan pelampiasan kemarahan manakala terjadi defisit nilai moralitas pada dunia manusia. 

Yang pasti jika hari ini manusia telah berhasil mencapai anak tangga yang menjulang tertinggi dalam upaya pencapaian keabadian (perspektif Yuval N. Harari) di situ ada juga peranan TIKUS yang tidak berurusan dengan kritikan moral di antara sesama manusia.

Jika ini bukan tentang menilai hewan melainkan murni ragam pola menginduksi kesadaran moral pada jalan-jalan kemanusiaan kita yang diharapkan secara distingtif semakin mengangkat harkat, nilai dan esensi hidup spesies manusia, saya tetap ingin mengingatkan kepada yang gemar mencantolkan narasi dan diksi moralitas agar berhati-hati menggunakan pisau bermata dua ini, terutama ketika hendak mengkonstruksi atau mendekonstruksi struktur realitas sosial manusia yang dijumpainya. Artinya, kita jangan gampang menjadi latah untuk menilai seseorang dari sudut moralitasnya.

"HenPas (akronim mana saya), perlu kiranya berhati-hati dalam tindakan-tindakan advokasional berbasis moralitas karena kita menyaksikan banyak pejuang moral yang ketika bergerak sampai ke ujung justru jatuh terjerembab pada lobang jebakan moral yang digali dengan tangannya sendiri." Begitulah saya berucap  untuk menasehati diri sendiri. 
Salam!