Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy.
Manakala bersikap "tidak peduli" menjadi seakan-akan indah, atau ketika memilih menjadi "acuh mengkontribusi solusi" seakan-akan bukan masalah, bahkan atau pada saat "diserang, diintimidasi dan diagitasi secara sengaja" menjadi seakan takdir yang harmonis pada hakikat kebertahanan teologis hingga wajar ditanggung dengan lapang hati, Ini barangkali contoh-contoh dari berkelindannya banyak kenyataan yang terresultansi motiv tukar tambah kekeliruan yang kerap kita presentasikan secara sadar pada lapangan eksistensi keseharian hidup kita.
Kekeliruan menjadi kenischayaan yang sangat nyaman berada di pusat komptomistik masyarakat kita manakala terorientasi kasus atau fenomena yang terrefraksi (bias maksud) dimana keteraturan terjerembab deviasi. Padahal, melalui telaah esensial, kekeliruan itu cermin keburukan yang bahkan lebih buruk dari kebodohan. Sekalipun afirmasi ini terbuka untuk diperdebatkan, bagi Penulis, bertahan pada afirmasi ini adalah pernyataan kelurusan berpikir. Mengapa demikian? Karena sekali lagi, Kekeliruan lebih buruk dari kebodohan.
Meminjam analogi diagnosa penyakit, seseorang yang bodoh bisa diobati melalui tindakan medis belajar. Artinya bodoh itu bisa diobati dengan belajar. Hal ini berbeda secara prinsip dengan kekeliruan sebab kekeliruan merupakan resultansi campur aduk antara kebenaran, kesalahan, sensitifitas kepantasan serta ketepatan konteks yang di mixing melalui zona kompromi deintegritas penilaian. Efek yang ditimbulkannya bersifat delusional dimana pikiran kita tersodori impulsion untuk meyakini sesuatu yang sejatinya salah sebagai seakan itu kebenaran, sembari terus konsisten memperjuangkan kesalahan itu karena menganggapnya benar.
Beberapa waktu terakhir ini, wacana politik nasional bangsa Indonesia dijejali kekeliruan-kekeliruan esensial dalam wujud isu. Beberapa isu kontroversial dan konfliktual muncul bergelombang dan ada yang berbarengan dalam beberapa waktu terakhir ini mulai isi ceramah ustad Abdul Somat alias UAS yang menyerang eksistensi simbolik di balik keyakinan spiritualitas salib dimana uraiannya diperlebar sampai kata haleluyah dan tanda palang merah pada mobil ambulance. Isu kedua polemik SARA yang memantik pergolakkan sosial di tanah Papua, wacana pemindahan Ibukota Negara dari pulau Jawa ke pulau Kalimantan, isu asap akibat karhutla (kebakaran hutan dan lahan) di Jawa, Sumatera dan Kalimantan yang ditengarai merupakan yang terburuk sepanjang sejarah, hingga isu polemik pengesahan RUU KPK menjadi UU, sebaliknya rencana pengundangan RUU KUHP menjadi UU oleh DPR di ujung masa periodenya ditolak Presiden Jokowi.
Membahas makin dalam, tulisan ini dibuat untuk meneropong sekaligus mengkritik fenomena "ucapan bernilai dan bermakna kekeliruan" yang dibalut argumentasi pembenaran yang terbukti menjadi kuat dan seakan-akan sahih karena ditunjang kompromi dengan margin area permisif yang tiada tara luasnya. Ceramah UAS tentang Salib Kristen yang dipilih untuk dibahas.
Dalam isu ceramah UAS, sedikitnya terdapat tiga pihak yang terkoneksi secara langsung yakni pribadi tokoh UAS yang berceramah, pihak yang mempublikasi atau memviralkan isi ceramah serta tanggapan masyarakat agama Kristen, terutama tanggapan para religiokrat gereja atas isi ceramah tersebut.
Bahwa terlepas dari motiv yang melatari seseorang tertentu mempublikasi isi ceramah, Penulis ingin meneropong dua pihak yaitu UAS dan para Religiokrat Gereja yang pada mereka disandarkan harapan menjadi benteng penjaga spirit kerohanian umat atau warga agama serta melalui mereka umat akan terus hidup dengan menghirup oksigen toleransi secara leluasa.
Menurut Penulis, ketika Tuhan dan Agama dihidupkan dalam tafsir dan transfer eksistensi gerakkan-gerakan kumunal, posisi berdiri para penafsir dan penggerak menjadi sangat menentukan rupa Tuhan dan Agama. Klaim subjektifitas kemudian menemukan pengaruhnya secara sangat kuat, dan menjadi semakin lebih kokoh lagi manakala kaum clientalis pengikut arus utama tafsir dan gerakkan keagamaan itu menyambut apa adanya semua masukkan yang diterima tanpa penyaringan akal dan rasa. Bahkan jika pada kenyataan tertentu ada diantara pengikut atau pengarah yang mengerti bahaya pokok delusi kebenaran iman tentang eksistensi ke-Tuhan-an (di dalam eksistensi Agama) yang bercokol di dalam kesadaran pikiran dan rasanya, konektifitas patron-clien diantara perumus dan penerima tafsir kebenaran itu akan memudahkan akses pada transferabilitasnya. Disinilah, perlakuan terhadap kebenaran ternilai, apakah tafsir dan eksistensinya sudah benar (menurut hakikat kebenaran) ataukah tafsir dan eksistensi itu sengaja ingin dibenarkan (suatu kerancuan akibat delusi kebenaran). Mereka yang secara delusional terjebak di ruang tafsir kebenaran ini, cara pandang mereka terhadap dunia (worldview) yang melingkupi segenap keberadaan sejatinya telah menjadi rancu serta jauh dari saripati wahyu.
Beberapa tokoh kontemporer yang diteladani dalam arus eksistensialisme keagamaan hari-hari belakangan ini, rasa-rasanya secara tidak sadar (atau mungkin justru dalam kesadaran penuh) sedang berupaya menurunkan harkat teologi dari posisi yang tinggi di "tahta langit suci". Mereka --mungkin-- telah keliru memahami ilmu yang dipelajarinya. Mereka sepertinya mengacak-acak semesta gagasan agung milik dunia yang bukan dunianya dan dipandang seakan-akan semua hanya tentang dunianya. Itu jelas penampakkan kekeliruan, dan kekeliruan pantas disebut berbahaya. Maka, untuk UAS, Penulis meminjam apa yang disampaikan oleh Prof. Dr, Syed Naquib al-Attas, yang dalam risalahnya untuk saudari-saudara Muslimin mengatakan bahwa "akhir-akhir ini perihal kekeliruan kian menjadi masalah internal yang pokok bagi umat Islam. Utamanya kekeliruan itu bermula pada tataran kapasitas menjangkau, memahami dan kemudian menerapkan ilmu (Agama). Karena dari ilmulah segala aspek dikembangkan, manusia dibimbing, peradaban ditegakkan. Ketika kita keliru memahami konsep ilmu --baik itu sumbernya, subjeknya, objeknya, hingga metode atau cara memperolehnya-- maka kita akan melangkah ke tangga kekeliruan berikutnya, yaitu kekeliruan beramal (mempraktekkan)".
Menurut Penulis, kebenaran agamawi seyogyanya memuat manfaat solidaritas, soliditas dan kompleksitas segmen sosial keumatan lainnya yang sekaligus tegas menjamin konsistensi sikap imanensi para pengikutnya. Sesuatu yang harus serius diinsafi para religiokrat struktural (pelaku kelembagaan). Paham ini menunjuk kekeliruan sejumlah tokoh atau agamawan Kristen yang dengan entengnya meredam upaya uji publik umat atas perspektif yang dipegang UAS guna mengkoyak-koyakkan kebenaran Kristen tentang Salib, Roh Kudus dan logika palang merah. Atas nama toleransi dan hikmat universal yang bersumber dari ajaran "kasih dan pengampunan", mereka memodifikasi beberapa esensi kebenaran yang juga punya landasan ajaran keagamaan yang jika diterapkan berpotensi mengandung kritik balik diametral terhadap ujaran-ujaran ceramah UAS. Menyimak kondisi rapihnya beberapa religiokrat dan agamawan publik menyusun skema dan narasi "perlawanan sabar atau perlawanan pengampunan", Penulis mencurigai upaya positioning politik dalam kerangka sosiologi berbangsa dan bernegara beberapa religiokrat dan agamawan dimaksud. Mungkin sekali ada skenario menjaga pamor agar tetap tersohor di mata kuasa karena kontribusi mereka meredam gejolak kritis umat membuahkan income dan reward tertentu baik secara sosial, secara politik bahkan secara ekonomi. Jika kecurigaan ini terbukti salah, maka alternatif kecurigaan yang lain adalah rekayasa filosofis dan modal positif sentimental spititual tidak terbentuk secara memadai pada alam imajinasi dan pengetahuan mereka. Padahal, jika menyerap apa yang Spengler dan Toynbee kemukakan bahwa realitas sosial merupakan suatu siklus yang mempunyai pola-pola ulangan dan menentukan jatuh bangunnya peradaban, para religiokrat dan agamawan mesti berhati-hati sambil responsif meluruskan kekeliruan yang terjadi oleh dan akibat ceramah UAS, sehingga peradaban toleransi, tidak menjadi ambruk di negara Indonesia.
Lagi-lagi dan lagi perlu diingat, sejarah menyingkap bahwa motiv pemikiran dan sikap keluar para religiokrat menjadi sangat narkobatik yang mencandui kesadaran beragama umat. Fenomena UAS mencandui segelintir kalangan untuk hidup dalam kebebalan yang terus dirawat untuk menistakan, dan fenomena beberapa religiokrat dan agamawan mencandui segelintir kalangan yang lain untuk terus hidup dalam apatisme spiritualitas tanpa modal nalar kritis. Dan, hikmat universal mengatakan bahwa memang mereka sedang terjebak pada distorsi fungsi moral dari status dan peran mereka. Konklusinya, amalan mereka sedang keliru dan amalan keliru itu sedang mengerjakan bagiannya yakni merusak tatanan peradaban.
Semoga kita disadarkan bahwa keliru lebih parah dari kebodohan! Keliru artinya tidak beradab, padahal Beradab punya konotasi rupawan yakni "adil, menempatkan sesuatu pada tempatnya."
Semoga!
.............Selamat Ulang Tahun ke-2, Immanuela Amie Gracelly