Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy.
Beberapa temuan yang kasuistik memperlihatkan bahwa sebagian orang cenderung abai memperhatikan hal-hal kecil. Dan, ini bisa di trigger sejumlah faktor, mulai dari kurangnya perhatian, entah karena sudah terlalu stres atau lelah mengurus sesuatu hal yang lain yang dianggap lebih penting, besar dan urgen ataupun didasari sugesti pada nilai dari apa yang dikerjakan. Bisa karena variabel keterbatasan waktu untuk menangani masalah-masalah kecil berbanding tanggungjawab yang lebih besar. Bahkan, bisa juga dilatari kurangnya menyadari betapa pentingnya menangani hal-hal kecil didasari pandangan skeptik dan under estimate. Yang lebih buruk dari itu adalah jika telah habit (menjadi kebiasaan), artinya, memang kebiasaannya mengabaikan hal-hal kecil dan fokus pada hal-hal besar.
Pada sisi lain, tuntutan terpenuhinya progres dan hasil guna menunjang prospek target core orientasi pada sistem tata keorganisasian menyebabkan konsentrasi atas beban aktifitas mau atau tidak mau mengharuskan pemimpin berpikir dan bertindak lebih efektif dan efisien. Ini menyebabkan munculnya pandangan pada beberapa pemimpin yang cenderung mendahulukan penanganan hal-hal besar karena di anggap berdampak langsung pada goal's yang ditargetkan, dibandingkan memboros resources yang tersedia hanya untuk merespon berbagai hal kecil yang mungkin tidak memiliki dampak langsung dan signifikan.
Yang jadi pertanyaannya adalah apakah dalam suatu aktifitas manajerial, ada dan atau munculnya hal-hal kecil yang mungkin bersifat atau sekedar dianggap sekunder tidak perlu direspon?
Tulisan pendek ini ingin memperkenalkan salah satu pandangan yang cukup substansial yang menyebutkan bahwa "The Devil's in the detail" yang kira-kira dapat diartikan "setan ada dalam hal-hal kecil."
Setelah coba meretrospeksi akar historis kemunculan istilah, "The Devil's in the detail" atau "The devil is in the details" nampak mengandung keterkaitan paradoksal dengan pepatah "God is in the detail" yang dikaitkan dengan arsitek Jerman Ludwig Mies van der Rohe. Seorang arsitek Jerman-Amerika yang di klaim oleh beberapa kalangan arsitek terkemuka sebagai salah satu arsitek paling berpengaruh abad ke-20, ditandai beberapa karya monumentalnya seperti Paviliun Barcelona, Gedung Seagram serta Gedung Farnsworth.
Dia juga terkenal karena kutipannya, "Less is more" (Kurang adalah lebih).
Kembali ke istilah "The Devil's in the detail." Dalam perspektif proses manajemen, ungkapan bernada aphorismatik ini menekankan pentingnya memperhatikan unsur-unsur partikular yang detail dan kecil dalam setiap situasi manajemen, baik itu perencanaan, proses organizing, analisis maupun pengambilan keputusan.
Afirmatif note di balik argumen ini hendak menerangkan bahwa acap kali, kesalahan atau kelemahan dalam suatu rencana, keputusan, atau analisis tidak terletak hanya pada bias konsep atau ide besar, yang terkait secara regulasi dan uraian tugas formal melainkan dapat terjadi pula pada detail-detail kecil yang kerap dipandang remeh yang tidak ter konstruksi dalam uraian tugas dan aturan, dimana pada kenyataannya pengabaiannya berujung pada dampak yang serius.
Akhirnya, "The Devil's in the detail" mengajarkan kepada kita, terutama para pemimpin tentang bagaimana memandang dan memperlakukan semua instrumental simtomatik secara proporsional dalam kerangka manajerial. Bahwa memperhatikan detail dalam proses manajemen terutama sehubungan perencanaan, operasi, analisis dan atau keputusan adalah penting. Mengapa demikian? Karena sangat mungkin terjadi, peristiwa-peristiwa mismanajemen dan bias pengambilan keputusan dimulai dari kesalahan atau kelemahan yang tersembunyi dalam detail-detail kecil yang mendatangkan bencana administratif dan yuridis.
Belajar pada pandangan di atas maka, sekalipun atas mana efisiensi dan efektivitas, fokus pada konsep atau ide, operasional dan evaluasi hal-hal besar adalah baik, perlu juga kitanya untuk memperhatikan detail-detail kecil dan tidak memandangnya remeh.
Kiranya tulisan ini bermanfaat. Salam.