Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy.
UANG (KOLEKTA) DALAM KONTEKS FUNGSI ADMINISTRASI PENYELENGGARAAN GEREJA.
Sebagai uang, kolekta secara kontekstual mengandung korelasi fungsional yang menentukan dalam konteks mengoperasikan fungsi-fungsi administratif dan akuntabilitas penyelenggaraan sistem bergereja.
Bahwa konsekwensi pelembagaan nilai dan iman Kristen dalam kaitan sustainibilitas rohani pengikut ajarannya, melahirkan gereja yang dilangsungkan secara organisasial, administratif dan manajerial. Sebagai lembaga yang existing oleh suatu dorongan kreatif untuk berbagai tindakan pelayanan karya dan rasa, gereja butuh memiliki kekuatan untuk mempertahankan tingkat kontribusi finansial yang memadai bagi organisasi, menyediakan pelayanan yang efisien dan mengusahakan hidupnya suasana dimana seluruh stakeholders sekaligus stakeowners gereja secara bebas mengekspresikan preferensinya untuk setiap jenis pelayanan oleh organisasi terhadap ”vote with their feet.
Pada dimensi ini, pemberian fungsi pada uang kolekta mengalami kreatifitas. Uang kolekta tidak terbatas dipahami sebagai sarana transendentalitas umat dengan Pemilik Langit Suci Kristen tetapi dirambati pemahaman transformatif. Melalui uang kolekta, gereja memiliki modal untuk mengusahakan banyak aspek keekonomian selain menjadi salah satu alat penentu kelangsungan pelayanan program. Bahkan untuk perspektif tertentu, sakalipun gereja bukan perwujudan lembaga profit tetapi keberadaan uang adalah salah satu fondasi yang cukup superior dan tidak mungkin diabaikan. Sebab itu tidak terlalu mengherankan bila dalam kenyataan praktis, kerap dijumpai beberapa unit usaha untuk perputaran ekonomi institusi gereja yang primaritas modalnya bersumber pada uang kolekta umat atau hasil pemberian jemaat (bercampur uang yang bersumber dari pendapatan lain misalnya iuran, hibah dan lain-lain).
Pengalaman Penulis tidak terlalu signifikan untuk menyatakan dengan berani bahwa semua persekutuan dan denominasi gereja di semua tempat menjadikan uang kolekta sebagai hal yang mutlak dalam sistem tata akuntansinya, tetapi dijumpai pada beberapa gereja lokal meinstream dimana kolekta dirumuskan secara terang-benderang dalam pos batang tubuh akuntansinya sebagai pendapatan tetap. Dengan demikian, sejak awalnya pikiran akuntansi dibalik kolekta adalah jaminan bagi pembiayaan program dan kebijakan gereja sebagai institusi.
KOLEKTA SEBAGAI SARANA SOSIOLOGIS BERGEREJA
Tidak dapat disangkal bahwa sebagai agama, gereja adalah kategori sosial yang memberi tempat, bentuk dan isi kepada beberapa dimensi termasuk dimensi interaksi dari gereja sebagai konstruksi sosial. Istilah dimensi interaksi yang Penulis maksudkan disini menunjuk hubungan faktual dan operasional antara umat, baik yang dalam kategori pemberi uang kolekta maupun dalam kategori umat pada umumnya dengan gereja yang secara otoritatif bertindak sebagai pengatur lalulintas penggunaan uang kolekta dan harta benda pemberian lainnya. Singkatnya, dimensi interaksi gereja berarti segi-segi interaktif yang dialami gereja sebagai institusi dengan umat sebagai sasaran tindak laku eksistensial yang diperantarai atau dipengaruhi kolekta secara sirkuler.
Dengan menampilkan diri sebagai jalinan-jalinan peristiwa yang sedang berjalan, didukung oleh kelompok-kelompok manusia, dari latar belakang status sosial dan banyak hal pembeda lainnya, gereja tampil existing pada zona keragaman keadaan umat. Keragaman dimaksud bisa muncul dalam istilah anggota jemaat berkelebihan dan anggota jemaat berkekurangan atau juga Jemaat Kuat atau Jemaat besar dan jemaat kurang kuat atau Jemaat kecil.” Dalam kaitan ini, untuk sinode-sinode gereja yang bersifat teritoris, istilah-istilah diatas cenderung memiliki hubungan langsung dengan “geo-ekonomi (letak geografis yang berdampak pada dimensi ekonomi umat) yang berkonsekwensi kuantitas pemberian umat dan “geo-pelayanan” (pengaruh letak geografis yang berdampak pada intensitas konsisten melayani) yang berkonsekwensi pendapatan kolekta. Artinya apa? Kolekta juga mengkonstruksi rumusan berpikir umat dan religiokrat tentang gereja (Jemaat) besar dan gereja (Jemaat) kecil.
Afirmasi ini disampaikan dengan catatan bahwa generalisasi kasar ini tidak bersifat mutlak demikian melainkan bahwa ada fenomena seperti itu. Sebagai pembuktiannya, pada Gereja-gereja tertentu dijalin suatu kolaborasi pelayanan yang saling menguatkan yang diistilahkan dengan Jemaat Mitra. Pada model kolaborasi pelayanan ini, didapati salah satu alasannya (meski bukan alasan yang utama) adalah karena untuk kepentingan mensubtitusi satu kepada yang lain. Pada titik ini, "bersama-sama menanggung bebanmu" mendapatkan jawaban yang sangat lugas. Tentu saja, langsung maupun tidak langsung melibatkan kapasitas kolekta dari suatu jemaat gereja.
Maka sebagai kesimpulan sekaligus bagian penutup tulisan ini, Penulis ingin menyentak kesadaran bergereja kita semua bahwa “kolekta” (kolekte) mempunyai nilai simbolik yang sangat luhur karena merupakan sarana beriman yang tepat kepada Tuhan serta sarana sosial yang akan terus relefan: kolekta itu merefleksikan bersyukur dan memberi dari kesadaran akan adanya hak Tuhan. Serta, menjadi sarana pendidikan kristiani yang sangat jitu: bersedia hidup solider dan mau berbagi” untuk saling memperkuat. TUHAN MEMBERKATI.
------------------
Bandung, 28 April 2021.