Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy.
Sore tadi, sepulang kegiatan repetisi paduan suara yang berlangsung di Kapel Rehuel Rumah Sakit Immanuel-Bandung, sekaligus adaptasi dengan musik piano karena besok pagi akan bertugas sebagai pianis pengiring nyanyian jemaat di kebaktian minggu, beta dan Mami! Sendy Natalia Sahilatua, perempuan maha cantik di muka jagat raya, melalui jalur Cinaduyut. Beberapa meter mendekati persimpangan, laju motor sengaja beta diturunkan disebabkan kepadatan temporal, efek pengaturan arus lalu lintas. Saat bersamaan, di depan kami berdua ada jenis mobil SUV bermerk T*y*ta R**h, yang juga berhenti. Pada kaca punggung mobilnya menempel stiker bertuliskan kalimat "You'll Never Walk Alone".
Apakah momentum adanya dan terbacanya kalimat ini hanya suatu kebetulan? Entahlah.
Tiba di rumah, tv merk P****ron sementara dalam mode menayangkan serial kartun anak "M&tB", ditonton oleh si bungsu, Immanuel Amie Gracelly "besi tua" (pasalBESSY-sahilaTUA).
Kebetulan serial milik Animaccord Animation Studio Rusia yang menampilkan starting tema petualangan ber-laku humor antara Masha (bocah energik) dan Beruang (teman penyabar dan baik hati) itu sedang menayangkan versi english language.
Sekilas ikut menonton sembari mencandai Amie, beta dengar lentingan instrumen pengantar plot yang dikenali sebagai anthem Piala Dunia FIFA 1994, perhelatan yang melahirkan Brazil sebagai the winner of the competition. Apa lagi jika bukan lagu berjudul "We Are the Champions?"
Apakah momentum terdengarnya instrumen "We Are the Champions" ini juga hanya suatu kebetulan? Entahlah.
Menariknya adalah, ternyata baik kalimat "You'll Never Walk Alone" maupun "We Are the Champions" tampil dalam beberapa wujud dan karakteristik serupa, yaitu:
- Sebuah lagu (yang mengandung sugesti massa);
- Dipakai dalam event olahraga (sebagai pemantik adrenalin kompetisi seorang atlet dan spirit dukungan suporter);
- Bersifat iconic karena mengandung lokus makna pada identitas dan historis suatu tim (jika lagu "You'll Never Walk Alone" populer sebagai lagu kebanggaan klub sepak bola Liverpool FC, sebaliknya lagu "We Are the Champions" menandai landmark musical dalam sejarah FIFA dan Brazil).
- Kedua lagu itu sama-sama membangun meta meaning tentang harapan, kekuatan, dan dukungan dalam menghadapi, menerobos dan mematahkan kemustahilan untuk kemudian mengubahnya jadi keniscayaan.
Menjadi amazing adalah diciptakannya lagu "We Are the Champions" yang merupakan salah satu single dalam album keenam milik Queen bertajuk "News of the World" itu, punya sumbu inspiring atau semacam ilham kreatif pada lagu "You'll Never Walk Alone"
Apa yang menjadi alasan Fredy Mercury menciptakan lagu itu juga cukup mengagumkan sebab dimaksudkan untuk menginstrumentasi suasana yang mengandung pesona identitas melalui notasi dan syair yang mampu mengkristalisasi fanatisme massa serta merawatnya dalam tempo yang lebih permanen. Suatu karya epik yang ternyata berhasil bukan hanya pada level eksistensi Queen semata melainkan mendunia dan menyejarah.
Mercury mendalami secara serius karya Richard Rodgers dan Oscar Hammerstein II untuk kemudian menulis lagunya. Sebaliknya, "You'll Never Walk Alone" sendiri diciptakan oleh Rodgers dan Oscar untuk musikal "Carousel" pada tahun 1945, yang merupakan adaptasi dari drama "Liliom" karya Ferenc Molnár.
Alur ini memperlihatkan adanya sesuatu yang bersifat eksponensial. Dari Liliom menuju You'll Never Walk Alone dan berakhir di We Are The Champions.
Jadi apalah perjumpaan antara judul lagu "You'll Never Walk Alone" dengan instrumen lagu "We Are The Champions" dengan beta hari ini adalah sebuah kebetulan belaka?
Narasi "kebetulan" dapat dijadikan pokok telaah melalui berbagai perspektif ilmu semisal teologi, filsafat, dan ilmu-ilmu lain yang taken for granted berfokus pada pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang keberadaan, pengetahuan, nilai-nilai, dan hakikat realitas dimana "kebetulan" terobjektifikasi didalamnya seperti epistemologi, hermeneutika, logika, ontologi, etika hingga antropologi filsafat.
Khusus pada tulisan ini beta gunakan beberapa kategori yang elementer dari filsafat sebagai frame guna mencoba memahami fenomena "kebetulan." Beberapa diantaranya adalah:
A. "Kebetulan" DALAM PANDANGAN INDETERMINISME.
Adalah filsuf Karl Popper yang berpendapat bahwa alam semesta (beta memaknainya termasuk 'segala kejadian' di dalamnya) mengandung elemen indeterminisme atau ketidakpastian yang membuka kemungkinan pada keacakan yang sarat oleh "kebetulan."
Banyak jejak karya pemikiran Popper yang dikemukakan dalam kerangka mengembangkan konsep "kecenderungan" (propensity) yang pada intinya menjelaskan bagaimana "kebetulan" muncul dalam suatu sistem. Kecenderungan-kecenderungan mana dapat dijangkau oleh kajian menggunakan teori probabilitas, sekalipun prediktabilitas atas hasilnya cenderung samar.
Pandangan ini mengukuhkan Popper sebagai kontributor penting dalam memahami konsep "kebetulan."
B. "Kebetulan" DALAM PERSPEKTIF KAUSALITAS.
Fenomena "kebetulan" dalam perspektif kausalitas, diintroduksi oleh filsuf barat jaman klasik yang cukup besar yaitu Aristoteles. Dalam hal ini kausalitas di tempatkan pada kuadran pembeda yang masing-masing adalah material, formal, efisien, dan final.
Menurutnya, "kebetulan" (dia menggunakan konsep "tyche") dimungkinkan terwujud apabila terjadi interaksi antara keragaman kausa-kausa namun level probabilitasnya unpredictable.
Aristoteles mengajukan pandangannya bahwa "kebetulan" dapat terjadi pada proses alam, seperti cuaca atau pertumbuhan tanaman, serta dalam tindakan manusia, seperti keputusan atau peristiwa yang tidak terduga.
Selain konsep "tyche", Aristoteles juga mengajukan konsep "eutychia" yaitu kesempatan dan menyebutnya sebagai "kebetulan yang menguntungkan"
C. "Kebetulan" DALAM KONTES PROBABILITAS DAN INDUKSI.
Punggawa pandangan ini adalah David Hume.
Bila kita menelusuri karya-karya bertajuk epistemologi dan filsafat sains, mudah menjumpai konsep probabilitas dan induksi yang terkait dengan fenomena "kebetulan."
Melalui probabilitas, Hume berpendapat, adalah mustahil untuk dengan yakin berkata bahwa kita bisa tahu tentang masa depan selain menggunakan tool prediksi past experience. Pernyataan ini membuka ruang eksistensi makna pada fenomena "kebetulan" ketika mencoba menjangkau masa depan atau ketika mengalami gejala-gejala tertentu yang nampak berkaitan.
Selain probabilitas, Hume juga mengajukan konsep induksi dalam memahami fenomena "kebetulan." Bahwa dengan jalan induksi, kita dimungkinkan membuat generalisasi tentang alam semesta berdasarkan pengalaman masa lalu. Dalam hal ini, induksi sebetulnya kehilangan pijakan pembenaran logis, meski demikian dapat dipergunakan membuat prediksi yang probabilistik.
Untuk menutup ulasan atas pikiran Hume, beta ingin menyitir bahwa
Hume mengingatkan kita supaya selalu menyadari bahwa ada kemungkinan "kebetulan" disamping ketidakpastian.
Dan, untuk menutup paksa tulisan ini (karena mata mulai mengantuk) beta berenung ulang untuk menginsafi bahwa peristiwa perjumpaan dengan "You'll Never Walk Alone" dan "We Are The Champions" adalah anugerah yang memungkinkan beta memperluas jangkauan informasi dan horison pengetahuan yang berharga, sekaligus menikmati kebesaran Tuhan dalam mata (yang melihat tulisan), telinga (yang mendengar), tangan (yang mengetik), otak (yang bernalar untuk bernarasi) dan tubuh yang akan terus menikmati realitas di hari-hari mendatang entah itu sebagai "kebetulan" ataupun keniscayaan yang datang dari kepastian skenario "Pemilik Tahta Langit Suci"
Selamat istirahat malam!!!
No comments:
Post a Comment