Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy.
Pernahkan anda mendengar istilah "kebebasan pilihan" atau yang oleh sebagian kalangan menggunakan istilah "kehendak bebas". Andaikata tidak pernah sekalipun anda pernah mendengarnya, saya yakin mekanisme kerja mental dalam diri anda dari waktu ke waktu melatih pemikiran serta sikap reaktif anda untuk memikirkan dan mempraktikkannya. Mengapa bisa demikian? Sudah jelas karena natur kemanusiaan anda dan semua orang --termasuk saya-- tidak bersedia ada di bawah tekanan atau kendali. Artinya setiap manusia pada dirinya menginginkan kebebasan sejauh tekanan atau pilihan ketidakbebasan tidak memiliki alasan yang cukup memadai memproduksi kompensasi setara atau yang mendatangkan manfaat bagi dirinya.
Fakta kelangsungan hidup manusia menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan kebebasan adalah suatu keadaan kontra eksistensi dari "katerikatan", terlepas dari apapun motiv, wujud dan makna keterikatan itu.
Bila dipandang penting menunjukkan contoh yang sekiranya memudahkan dalam memahami kebebasan versus keterikatan ini, beberapa jam sebelum tulisan ini dibuat, di televisi baru selesai berlangsung sidang pembunuhan Brigadir JH yang menghadapkan tersangka Barada E, mantan ajudan FS.
Di hadapan pengadilan, saya membayangkan terlepas dari ada tidaknya tekanan baik secara eksternal maupun internal atas diri Barada E, pada dirinya tersedia instrumen mental yang memungkinkannya berkehendak untuk dalam hal ini memilih jujur mengakui perbuatannya yang di dakwa melawan hukum atau memilih untuk tidak jujur karena mungkin ada keterikatan-keterikatan tertentu dengan pihak manapun. Yang pasti, di hadapannya tersedia alternatif di dalam satu koridor mentalnya yakni kehendak bebas atau kebebasan memilih. (Sebagai catatan, tulisan ini bersifat sederhana sehingga tidak menyertakan Kompleksitas situasi dan nilai yang berkelindan mempengaruhi pilihan prospektifnya selain hanya hendak mengilustrasi suatu keadaan yang potensial menyediakan pilihan)
Memilih yang darinya menyimpan konsekuensi baik-buruk, sangat membutuhkan serta bergelut dalam cakupan informasi yang seharusnya memadai sehingga apa yang akhirnya dipilih seseorang setidak-tidaknya tidak merugikan dirinya --jika terpaksa tidak juga menguntungkan.
Saya pernah membaca sebuah buku seri renungan yang penggalan alineanya menuliskan (mohon ijin dari Billy Graham untuk mengutip verbatim salah satu halaman dari bukunya berjudul "Unto The Hills") "Dalam acara televisi berjudul 'Truth or Consequences' pembawa acara kerap kali berkata pada kontestannya 'apabila anda tidak mengatakan yang sebenarnya maka anda harus menanggung konsekwensinya'"
Apa yang ditulis Graham, menjelaskan bahwa ada pilihan yang tersedia dan ada pula konsekuensi yang mengekor di belakang pilihan yang mungkin akan dilakukan.
Hal yang saya yakini ialah, eksisting perjalanan orang-orang hebat berlangsung di atas tumpukkan pilihan yang dibawahnya bertebaran konsekuensi yang harus mereka jejaki selepas membuat keputusan, dimana yang membuat mereka menjadi begitu hebat ada tiga hal antara lain:
1. Mengkonsumsi informasi yang cukup sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan.
2. Menggunakan kacamata hikmat untuk melihat, mencermati dan menguji kualitas, kredibilitas sumber dan manfaat informasi yang diterima.
3. Berani memutuskan di atas landasan pilihan bijaksana.
Jika anda pernah punya pengalaman berhadapan dengan suatu masalah dan pernah membuat pilihan atau keputusan yang ternyata berdampak baik dan berguna bagi anda dan lingkungan anda maka asah pengalaman itu dengan kepekaan tinggi sebab itu menyimpan potensi menjadikan anda sebagai orang hebat dan menjadi anak tangga yang mengantar anda menjejaki domain "pemimpin".
Semoga!
--- Selamat menikmati hari pertama ajaran baru semester II kelas 3 SD dan Selamat berkutat dengan penyusunan Buku pedoman Pelkesi di Jogjakarta.