Friday, July 31, 2020

COBA BERBUATLAH SESUATU (Surat Untuk Seorang Sahabat)


Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa “kita” telah memulai melukiskan “Peta Rencana Jalan Sukses” bagimu TeMan yang tidak banyak orang lebih tahu daripada aku, dirimu dan orang-orang terdekatmu. 
Apa yang kita lukiskan bersama adalah merefleksi pemakaian kapasitas berpikir kita secara positif dan progresif.

Dari sinilah, sejenak aku ingat pernah baca apa yang disampaikan Johann Wolfgang von Goethe, yang berkata, "Berpikir itu mudah, bertindak itu sulit” serta dia mengajukan afirmasi lanjut yang lebih kuat lagi bahwa “Menerapkan pikiran menjadi tindakan adalah hal yang paling sulit di dunia".

Kita tidak butuh ruang eksistensi yang terlalu luas untuk mengerti apa yang dikemukakan oleh sang penyair sekaligus novelis Jerman tersebut, sebab pengalaman berjalan bersama di dalam “dunia kita” sudahlah cukup untuk dijadikan ruang evaluasi realitas, bahwa jangankan untuk menerapkan pikiran menjadi tindakkan, bahkan untuk berpikir saja kita sedang sangat kesulitan menemukan figur. Padahal, berpikir dan menerapkannya dalam tindakkan adalah syarat penanda potensi seseorang (setiap diantara kita) untuk menjadi “seseorang” di hadapan tanggungjawab besar. Dan, sungguh kita sedang sangat membutuhkan hal itu.

Konteks “dunia kita” untuk waktu-waktu terkini menunjukkan gejala yang pilu tentang tidak banyak yang bersedia berpikir tentang hari ini dan esoknya “dunia kita” ini, terlebih lagi melanjutkannya ke tindakkan. Padahal bila dihadapkan pada fakta kuantitas, kita lebih dari yang dapat diminta, sehingga seharusnya punya ketersediaan pemikir untuk menjaga sustainibilitas “dunia kita”. 
Jika untuk figur pemikir saja kita kesulitan, bagaimana mungkin memperoleh yang plus (pemikir yang melanjutkan dan melangkah pada tindakan)?.

Sangatlah kebetulan, beberapa waktu lalu aku coba membuat survei sederhana terhadap 23 orang yang eksis di “dunia kita” yang semua aku nilai memiliki kepantasan dan kredibilitas untuk di survei, bukan hanya karena representatif tetap juga karena aku meyakini objektifitas dan keandalan informasi mereka.
Jumlah ini diakui tidak representatif dan accountable secara metodologi karena aku tidak memasang rumus presentatif dalam interpretasi da penarikan kesimpulan. Tetapi, dari sejumlah itu, yang didapati hanya ada 6 orang yang menetapkan rencana bagi dirinya sendiri dan bagi “dunia kita”. Dari jumlah 6 orang itu hanya terdapat 2 orang yang menurutku argumentasinya realistis. Namun ketika kutanya wujud tindakan konkrit yang sudah dilakukan, ternyata keduanya pun belum mulai bertindak. Artinya apa? Kita masih akan sulit menemukan sesuatu sebagai hasil di depan karena belum ada yang bertindak meski ada segelintir yang bersedia mencurahkan energi pikir.

Satu hal yang penting untukmu TeMan;
Jangan terus memandang seseorang --termasuk terhadap diriku-- dengan cara dan persepsi yang over idealis apalagi menganggap dia sempurna. Itu akan mematahkan mentalmu dan memantik kehilangan kemauan untuk bergerak menuju tindakkan sebab menganggap apapun yang akan disusun dan dilakukan nanti tidak akan bisa apalagi melampaui standar yang telah dicapai orang lain. Dirimu adalah dirimu TeMan yang dalam pandanganku, punya ciri khas yang mampu membuat dirimu melampaui capaian terbaik yang pernah ada di jalan sejarah “dunia kita”. Sebab itu, ikutilah saja alur yang sedang membentang di depan.

Tentang yang sedang engkau mainkan TeMan-ku, kau sama sekali tidak menyakiti aku, demikianpun  aku sama sekali tidak tersakiti manakala “impression game” (untuk menarik simpati) serta penerapan politik “proof balloon atau testing the water” dimainkan yang pada intinya hendak membaca pergerakkan konstruksi disekeliling kita. 

Ingatlah, ini hanya metode yang kita gunakan untuk melipatgandakan niat menjadi potensi, potensi menjadi peluang, dan peluang menjadi hasil, dan hasil itu tidak lain adalah kesuksesan yang berdampak baik bagi “dunia kita”. Bukan sekedar untuk dirimu TeMan! 

Memperkuat pertimbangan ini, sepenggal lagi referensi untuk mu TeMan, bahwa Presiden Franklin D. Roosevelt suatu saat pernah menegaskan, "Sungguh masuk akal untuk menggunakan sebuah metode dan mencobanya. Bila gagal, akui dengan jujur ​​dan cobalah lagi, tetapi di atas segalanya, coba perbuatlah sesuatu".

Mari mulailah membuat kemajuan demi kemajuan meski perlahan, selama waktu yang tersedia masih memungkinkan untuk hal itu dilakukan. 
Pepatah Cina, "Jangan takut berjalan lambat, hanya takutlah jika Anda berhenti total".

Selamat berkarya dengan apa yang ada padamu sambil tetap memandang penuh hormat pada ketinggian “Tahta Langit Suci” sebab dari sana jalan-jalan terbaik yang dimaksudkan atas dirimu, digenapkan-Nya.
-----------------
Catatan:
(kata “TeMan” merupakan caraku memperkenalkanmu secara eksklusif dalam surat ini, yang tidak lain juga mengacu pada singkat namamu).