MEMAHAMI DAN MENANGKAL LOGICAL FALLACY
Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy
Setiap aliran jaman, pada suatu titik momentum dalam waktu akan berubah dikarenakan kemunculan pembeda yang tidak bertumpu dan apalagi terakomodasi oleh struktur keadaan pada masa yang sementara berlangsung. Kemunculan pembeda ini menjelaskan atau mewakili ciri intrinsik tersendiri sebagai fondasi hadirnya masa atau jaman yang baru. Wujud dan bentuknya bisa berbagai macam tetapi dapat dikristalisasi ke dalam dua realitas besar yakni "peristiwa" dan "temuan karya-karya baru manusia."
Kaum eternalism mengatakan bahwa realitas dalam jaman tunduk pada hukum keabadian yakni; pernah, sedang dan akan terus berlangsung berulang-ulang (repetisi eksistesi) membentuk struktur realitas kekekalan. Itulah mengapa dikatakan orang bahwa "tidak ada yang abadi di hadapan jagat raya selain satu hal yaitu perubahan."
Dari mana perubahan dikenali? Tentu saja dari 'perbedaan' yang secara keberadaan aktual memperlihatkan kelangsungannya. Berdasarkan pengkategorian, kita mengenal ada jaman pra sejarah yang evolutif menjadi jaman sejarah; jaman pra modern menjadi jaman modern; jaman pra logika menjadi jaman logika, kemudian menjadi jaman skolastik: jaman sebelum masehi menjadi jaman masehi, dan masih banyak lagi. Yang disampaikan ini hanyalah cakupan kasar atas jaman yang bila didalami intinya, akan mengusung lebih banyak lagi subordinat jaman atau sub-sub jaman di dalamnya.
Setiap kita pasti punya pengalaman yang bersifat khas, spesifik dan unik secera personal dan punya pengalaman-pengalaman umum secara komunitas. Di balantika pengalaman itu, telah banyak masa yang kita lalui yang ternyata ditimpa oleh pengalaman baru yag datang sesudahnya, dimana belum lagi masa yang baru mencapai titik kulminasi dalam pengalaman kita, masa yang lebih baru telah menimpanya lagi. Katakanlah orang seperti saya yang usianya telah memasuki hampir 50 tahun, pernah mengalami jaman dimana radio begitu terdepan dalam kategori modernitas teknologi yang kemudian ditimpa oleh hadirnya televisi yang semula hanya tampil secara monokrom (hitam-putih) dan ditimpa oleh televisi berwarna. Mulai menikmati tayangan bioskop versi layar tancap yang mengandalkan putaran piringan dan pita gambar secara manual tapi di waktu kemudian mengenal kaset video dengan dimensi cukup besar sebelum diganti plat CD yang hilang tergerus flashdisk dan memori card.
Orang-orang sebelum jaman saya selalu punya jeda waktu yang panjang hingga terlambat mengkonsumsi perubahan informasi-informasi penting sosial kemasyarakatan, politik, kesehatan, ekonimi, teknologi dan lain-lain sehingga tidak mengherankan jika mereka kemudian di just sebagai orang-orang kolot oleh angkatan kami. Hal yang sama kami alami, di just demikian oleh anak-anak muda yang yang lahir di jaman milenium dimana karma perubahan juga ditanggung oleh mereka karena dipandang kolot oleh adik-adik mereka dari jaman yang lebih muda (jaman Z).
Apa yang secara jelas membedakan antara jaman dan terutama antar sub-sub jaman di masa kini, dapat kita sarikan pada temuan-temuan mutakhir yang mengintensifkan pola dan bentuk komunikasi, wujud artefak dan pembangunan fisik, bentuk dan rupa teknologi, tatanan pemikiran peradaban hingga modernitas dan keadaban manusia-manusianya. Dan yang paling unggul akhir-akhir ini tidak lain dari tiga hal yakni discovery teknologi berbasis internet, kemajuan artifisial intelijensi dan robotik, serta penetrasi media atau saluran informasi komunal.
Saya ingin memanfaatkan tulisan ini untuk sedikit mengulas mengenai salah satu dari tiga nominasi jaman ini yakni tentang penetrasi media atau saluran informasi. Bahwa faktanya, karakteristik yang nampak dan menandai identitas masa yang hari ini kita lalui (termasuk detik-detik dimana saya sedang mengetik tulisan ini menggunakan gawai sambil duduk di pinggir jalan menikmati padatnya lalulintas di jalan Peta-kota Bandung), terlihat dan dirasakan melalui komposisi kemajuan di bidang teknologi informatika dan menjamurnya media-media penyelenggara atau salurannya.
Dengan modal gawai di tangan kita yang terisi paket quota internet, nyaris segalanya bisa kita kunjungi dan ketahui. Hal mengetahui ini sungguh tidak ada batasnya. Bukan hanya terhadap apa yang kita butuhkan kita bisa memperolehnya melainkan terhadap yang tidak ingin atau tidak kita butuhkan pun terserap begitu saja. Tinggal kita berjejaring ke media sosial, semua akan disingkapkan kepada kita. Keadaan ini rupanya berkah peradaban di satu sisi tetapi juga bisa menjadi bencana atau ekstrimnya kutukan peradaban jika melihat bagaimana para negatifis memanfaatkannya untuk hal-hal yang tidak maslahat. Parahnya lagi kita semua telah masuk pada labirin pengendalian oleh arus informasi itu sendiri. Media dan arus informasi akhir-akhir ini seperti punya kuasa lebih untuk menentukan kemana kita harus mengarah, bagaimana kita harus berpola dan apa yang harus kita lakoni. Kita dihujani berbagai informasi secara simultan dan signifikan hingga membentuk pola pikir kita dalam konstruksi yang sangat algoritmatis, bak analogi mur yang optimasi peruntukkannya bergantung pada alur putaran dalam bautnya tanpa alternatif lain. Ironisnya, otonomi diri kita sebagai manusia yang merdeka seperti ikut apa adanya tanpa paksaan dari siapa-siapa atau dari apapun (jika bukan oleh kesadaran pikiran kita sendiri).
Pengalaman kita semua yang tidak bisa dibantah adalah kebiasaan gampang me-repost suatu pesan teks atau gambar yang kita terima, dan kadang itu tanpa dilakukan filter. Ini fenomena yang memungkinkan banyak hal atau peristiwa mudah menjadi booming/viral saat ini. Padahal banyak diantaranya tidak kita sukai atau dengan kata lain kita tidak setuju tetapi karena kita terlanjur menjadi bagian dari yang mengomentasi atau me-repost maka kita tidak dapat menarik diri untuk menjadi yang berbeda. Keadaan-keadaan yang berlangsung simultan, konsisten dan masif ini memunculkan apa yang disebut sebagai fenomena "Logical Fallacy."
APA ITU LOGICAL FALLACY?
Untuk mengurai pemahamannya secara lebih terstruktur dan akademis saya memulai dari contoh kasus yang nyata berlangsung di sekitar kita dan mempengaruhi standar dan keputusan kita akan kebenaran.
Akhir-akhir ini jika saya buka link youtube pada gawai saya, yang sering muncul selain beberapa konten bahasan mengenai filsafat dan seri-seri kuliah online, muncul juga konten ulasan beberapa debaters youtube (mereka suka menyebut aktifitas kontennya sebagai aktifitas apologetik) yang membahas tema dogma dan ajaran keagamaan. Di sana perang argumen dan saling sanggah hingga sekian banyak seri. Dan yang cukup mengusik menurut saya adalah banyak diantara sumber rujukkan perdebatan yang latah disadur dari ulasan-ulasan artikel di Google yang menurut saya banyak tidak terkonfirmasi dan terverifikasi secara metodologi keilmuan.
Selain dari fenomena ini, tidak sedikit ditemukan berita menyangkut kasus yang akhirnya booming, seperti “kasus penistaan agama”, yang oleh beberapa media dikapitalisasi, untuk merawat kepentingan ekonominya dengan golongan tertentu, aktor-aktor politik oportunis tertentu, hingga tujuan pengalihan isu ataupun kepentingan pribadi demi kekayaan. Sadarkah bahwa secara tidak langsung masyarakat dengan mudah melahap, me-repost, menyetujui, dan ikut andil dalam tulisan ataupun berita yang sumbernya hanya berasal dari sumber terkenal dengan jumlah pendukung di sosial media yang banyak tanpa berusaha mengetahui sumber lain? Ini yang dimaksud saya dengan logical fallacy.
Dengan terjemahan bebas di dalam konteks bahasa Indonesia, yang dimaksud logical fallacy yaitu kesalahan dalam berlogika atau kesalahan dalam melakukan suatu penalaran. Logical fallacies are like tricks or illusions of thought (kesalahan berlogika mirip trik dan ilusi pemikiran yang menghasilkan ketidak-masuk-akalan). Saya menyebutnya dalam bahasa Melayu Ambon sebagai “asal kewel” (ngawur).
Dalam jurnalnya yeng bertajuk “Logical Falacies”, Michel M. LaBoissiere mengartikan logical fallacy adalah kesesatan logika berpikir yang timbul karena terjadi ketidaksesuaian antara apa yang dipikirkan dan bahasa yang digunakan untuk merumuskan pokok pikiran. Dimana penalaran yang sesat ini dapat terjadi apabila susunan premis yang ada tidak menghasilkan suatu kesimpulan yang benar. Dalam artian kesesatan atau fallacy muncul ketika suatu argumen terbentuk dari premis-premis yang tidak berkaitan dengan argumen yang ada.
Kebanyakan masyarakat kita memang sementara terjebak di sini. Parahnya, ini bukan hanya dialami orang-orang dengan tingkat kualitas penalaran terbatas dan sederhana saja melainkan bisa kita tengarai dialami juga oleh orang-orang yang mempunyai intelek tinggi dengan ragam keadaan dan motif. Jika umumnya orang-orang berkecukupan nalar sederhana memakan begitu saja konten bernuansa logical fallacy, orang-orang pintar dan kritis bisa terpapar karena dua kemungkinan yakni yang pertama karena lalai mengaktifasi pemikirannya sebagai instrumen kritis, atau bisa yang kedua yakni dengan sengaja melafaskannya untuk memperkuat argumen, mempengaruhi orang lain ataupun melakukan sebuah pembenaran. Hal ini sering kita jumpai pada ajang forum diskusi, perbincangan ataupun perdebatan sehingga pada akhirnya pihak yang sedang berpendapat akan kehilangan fokus dan arah tentang topik yang dibicarakan.
Pelaku-pelaku yang kerap pepraktekan logical fallacy tentu sudah tidak asing di dengar oleh masyarakat. Pengacara yang tidak adil, politisi-politisi yang kotor dan oportunis, para apologetik atau debaters yang suka saling serang dogma keagamaan, bahkan media yang tidak netral adalah sebagian diantaranya. Dengan logical fallacy, pengacara dapat memutar balikkan fakta situasi kliennya yang awalnya bersalah menjadi tidak bersalah ataupun sebaliknya. Artinya, teknik logical fallacy punya kemampuan dikelola dari makna kebenaran atau ketidakbenaran menjadi suatu pembenaran. Argumen ini tidak bermaksud menggeneralisasi dan mendeterminasi makna suatu profesi atau menilai secara negatif seluruh pelaku atas profesi yang disebutkan melainkan hanya meneropong beberapa gejala yang dari segelintir pelakunya yang nampak jelas di permukaan masyarakat kita. Selain dari itu maka siapapun kita selalu punya potensi bahkan hasrat yang kuat untuk menjadi pelaku aktif dari praktek logical fallacy tanpa memandang status sosial, pekerjaan maupun pendidikannya, sebab pusatnya bukan pada hal-hal yang disebutkan melainkan pada kapasitas mentalitas setiap orang.
BEBERAPA CONTOH ATAU BENTUK LOGICAL FALLACY
Melalui tulisan ini, dapat dikemukakan sejumlah pengertian, jenis dan bentuk serta contoh praktek logical fallacy. Beberapa diantaranya yakni (diurut menurut abjad): Ad Hominem, Ambiguity, Anecdotal, Appeal to Authority, Appeal to consequences, Appeal To Emotion, Bandwagon, Black or White, Burden of Proof, Composition/Division, False Cause, Genetic, Loaded Question, No True Scotsman, Personal Incredulity, Slippery Slope, Special Pleading, Strawman, The Fallacy Fallacy, dan Tu Quoque.
1. Ad Hominem.
Ad Hominem artinya, pilihan menyerang sisi personal atau karakter seseorang (personality traits) ketika terlibat dalam diskusi atau debat argumentasi dibandingkan memilih membalas argumen yang diterimanya. Sebagai contoh; RocGer mengatakan bahwa untuk kemajuan Indonesia ke depan maka pada Pemilu tahun 2024 sebaiknya AnBas yang dipilih sebagai presiden menggantikan JoDo. Hendry menjawab, bagaimana kita bisa percaya kepada seorang tokoh oposisi yang banyak bicara, sok pintar namun cara duduknya tidak sopan dan hanya berani menaiki gunung tapi tidak berani menaiki wanita (menikah)?
2. Ambiguity.
Ambiguity maksudnya adalah mempergunakan kalimat-kalimat yang bernuansa jamat tafsir (multi tafsir) serta ambigu (tidak pasti) didalam melempar suatu argumentasi dengan tujuan agar lawan debat atau teman diskusi salah dalam menginterpretasi kebenarannya. Contoh dari logical fallacy jenis ini adalah: ketika Istri saya Sendy memberikan saya sebotol minuman beralkohol merk Balleys dan anak saya bertanya, Mami, bukankah minuman itu sudah expired, istri saya menjawab di botolnya tertulis “best before” dan bukan “expired.”
3. Anecdotal.
Yang dimaksudkan dengan Anecdotal maksudnya adalah menjadikan personal experience atau pengalaman pribadi sebagai argumen yang seakan-akan tak terbantahkan validitasnya tanpa disertai argumen-argumen masuk akal lain mengandung nilai kebenaran yang menunjang argumen pengalaman tersebut. Contohnya; beberapa waktu lalu ketika sata dan teman-teman pelayanan di gereja kami melakukan Rapat Kerja di Lembang-Bandung, dua teman saya berdiskusi tentang bahaya merokok. Teman saya yang pertama (yang kebetulan tidak merokok seperti saya) mengatakan bahwa sesungguhnya merokok itu sangat berbahaya, namun teman saya yang lain (yang kebetulan seorang perokok dan telah berusia jauh diatas kami) mengatakan bahwa dirinya sampai telah berumur 70 tahun ini tapi tidak apa-apa padahal sudah merokok sejak usia di bangku SMP kelas 2 (sekitar usia antara 13-15 tahun ketika itu). Karena itu dia berkesimpulan bahwa merokok itu tidak berbahaya.
4. Appeal to Authority.
Artinya, percaya jika suatu institusi atau pejabat tertentu yang memiliki kewenangan atau wibawa menyampaikan suatu argumentasi atau membuat klaim, maka apa yang dinyatakannya itu mengandung sifat kebenaran yang tervalidasi tanpa perlu lagi diuji apalagi diragukan sehingga tidak perlu menelusuri lebih mendalam tentang nilai kebenarannya melainkan cukup diterima dan dipercaya saja apa adanya. Contoh: ketika ada Gubernur yang mengatakan bahwa banjir di DKI Jakarta dapat diatasi dalam tiga tahun pemerintahannya, para pendukungnya taken for granted mempercayai ucapannya tanpa merasa perlu melakukan verifikasi pandangan Gubernur tersebut melalui kajian dari perspektif ilmu tata kota atau ilmu tata air dan lain-lain pengetahuan relevan.
5. Appeal to consequences.
Jenis logical fallacy ini nampak ketika seseorang merasa bahwa pendapat atau apa yang dikemukakannya adalah yang sudah pasti paling benar. Bahkan lebih dari itu dia harus selalu benar karena jika dianggap salah maka akan ada konsekwensi yang diterima berupa terjadinya hal-hal tidak baik yang tidak diinginkan. Sebagai contohnya: Beberapa kalompok masyarakat ketika memasuki masa Pemilu tahun 2019, mengatakan bahwa pokoknya yang harus menang dan jadi presiden Indonesia untuk lima tahun ke depan (2019-2024) adalah Jokowi. Alasannya karena jika bukan Jokowi yang jadi presiden periode kedua maka Indonesia akan terbelah dan hancur dikarenakan lebarnya pembelahan politik dan masyarakat berdasarkan politik identitas berlatarbelakang Agama.
6. Appeal To Emotion.
Appeal To Emotion diterapkan dengan cara manipulasi perasaan (emosi) seseorang dalam berargumen dibandingkan membuat argumen yang logis. contoh: saya menyampaikan kepada salah satu anak saya (Victor) bahwa dia tidak naik ke kelas 3 SD. Mendengar hal itu, anak perempuan saya (Mielly) mengatakan bahwa tidak mungkin hal itu terjadi karena kakaknya (Victor) adalah anak yang baik dan sopan.
Dalam contoh kasus ini, sebetulnya tidak ada hubungan langsung dan logis antara tidak naik kelas (yang seharusnya berkaitan dengan rajin belajar dan kepandaian) dengan sifatnya sebagai anak yang baik dan sopan.
7. Bandwagon.
Sesuatu dipandang benar dan sudah pasti benar dikarenakan komposisi terbanyak atau mayoritas masyarakat mengikutinya, atau karena sesuatu itu booming dan populer. contoh: Pada abad pertengahan, banyak orang percaya bahwa Bumi itu datar. Hal ini tentunya salah, tetapi dianggap benar karena banyak orang mempercayainya.
8. Black or White.
Black or White membatasi hanya pada satua diantara dua pilihan sementara pada kenyataannya terdapat ada banyak pilihan yang mungkin diambil. contoh: Ketika saya tidak mendukung seseorang di Partai Politik Bunga Bangsa untuk menjadi Gubernur sementara partai itu mengusung visi nasionalime, maka saya di cap sebagai musuh nasionalisme.
9. Burden of Proof.
Burden of Proof Menanggap bahwa orang lain yang harus membuktikan bahwa klaimnya salah, bukannya sebaliknya pembuat klaim harus membuktikan bahwa klaimnya benar. Contoh konkritnya: pernah ramai di publik, rumor ijazah presiden Jokowi dianggap palsu oleh beberapa orang yang kemudian membawa permasalahan tersebut ke meja pengadilan. Pihak yang mengatakan bahwa ijazah presiden Jokowi palsu, menganggap bahwa klaimnya valid namun untuk membuktikan kebenaran klaimnya itu justru presiden Jokowi yang diminta untuk membuktikannya.
10. Circular Reasoning.
Adalah jenis logical fallacy yang menyatakan bahwa kondisi A benar karena B, Kondisi B benar karena A. Logika ini menggunakan penalaran melingkar yangsaling berkelindan.
11. Composition/Division.
Composition/Division yakni percaya bahwa jika sesuatu berlaku untuk sebagian part dari suatu sistem, maka berlaku juga bagi seluruhnya, dan begitu juga sebaliknya
contoh: Dikisahkan bahwa ada seorang Profesor fisika yang hanya percaya dan menganggap benar hanya pada segala sesuatu yang dapat dilihat dan di pegang, sehingga hal-hal ilusi, imajinasi dan segala yang transenden tidak diakuinya sehingga dia menganggap tidak ada kebanaran pada keyakinan iman akan adanya Tuhan.
Dengan menjadikan keyakinan sang Profesor tersebut sebagai dasar, seorang anak kemudian berdialog dengan sang Profesor:
Anak: Apakah Prof. merasa mempunyai otak?
Profesor: Iya, sudah pasti karena saya selalu menggunakannya untuk berpikir berbagai fenomena fisika!
Anak: Apakah Prof. pernah melihat secara langsung otak milik prof.?
Profesor: Tidak pernah!
Anak: Apakah Prof. pernah memegang otak prof.?
Profesor: Tidak pernah juga!
Anak: berarti saya dan Prof. seharusnya yakin pada kebenaran bahwa Prof. tidak mempunyai otak.
12. False Cause.
Yang dimaksud dengan False Cause adalah menyambungkan hal yang terjadi bersamaan sebagai hubungan sebab-akibat. Contoh: Pandemi Covid 19 meningkat dengan cepat di Indonesia antara awal tahun 2020 hingga akhir tahun 2021. Saat bersamaan, indeks atau tingkat korupsi pejabat juga meningkat dengan tajam ditandai penangkapan sejumlah pejabat pemerintahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Artinya meningkatnya kasus Covid disebabkan meningkatnya korupsi para pejabat.
13. Genetic.
Genetic artinya menjudge sesuatu itu baik atau buruk berdasarkan asal pernyataan itu/siapa yang menyatakannya. contoh: Baru-baru ini viral kasus penangkapan Rafael Alun oleh KPK karena diduga melakukan korupsi ditandai dugaan memiliki harta kekayaan fantastis yang tidak sesuai dengan profil dan jabatannya. Bahkan Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) sudah melakukan blokir terhadap seluruh (puluhan) rekening yang terkait dengan dirinya karena menemukan kejanggalan dalam transaksi-transaksinya. Di dalam siaran persnya, Rafael Alun menghimbau masyarakat untuk tidak percaya apa yang diberitakan sejumlah media terkait kasusnya karena media-media yang ada tidak bisa dipercaya dan karena dirinya memang sengaja dijadikan target sasaran oleh pihak KPK dan PPATK.
14. Hasty Generalization.
Logical fallacy jenis ini nampak nyata dalam generalisasi atau penyimpulan yang terburu-buru dan over generalization. Ini terjadi biasanya karena hanya memiliki modal pengmatan yang terlalu sedikit namun menggunakannya sebagai patokan menyimpulkan.
15 Loaded Question.
Loaded Question adalah mengemukakan suatu pertanyaan argumentatif dengan tujuan terselubung untuk menimbulkan adanya praduga secara implisit yang tidak dapat di jawab tanpa disertai adanya perasaan bersalah.
contoh: Sendy, Victor dan Mielly bermain di luar rumah dan lupa menutup pintu rumah ketika keluar dimana hal tersebut akhirnya menimbulkan dampak terjadinya pencurian. Saat mereka bertiga dipanggil oleh orang tuanya untuk ditanyai, Victor bertanya kepada Kakaknya yang tertua yaitu Sendy, mengapa saat keluar dari rumah pintu tidak di kunci? Padahal faktanya, Victor yang keluar dari rumah paling akhir.
16. No True Scotsman.
No True Scotsman, adalah bentuk logical fallacy yang pada intinya berpandangan bahwa jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan klaim, maka contoh tersebut bukanlah “contoh asli”.
contoh: Victor mengatakan bahwa semua tetanga beragama Islam di komplek dimana dia tinggal saat ini adalah orang-orang yang sangat taat di dalam menjalankan salah satu rukun Islam yakni berpuasa. Fadlan mengatakan bahwa dia beragama Islam dan merupakan tetangga satu komplek dengan Victor tapi khusus untuk tahun ini dia tidak menjalankan ibadah puasa. Victor kemudian mengatakan bahwa dengan demikian Fadlan bukanlah termasuk seorang yang islami alias bukanlah seorang Islam sejati.
17. Personal Incredulity.
Personal Incredulity merupakan bentuk penerapan strategi logical fallacy dengan cara mengemukakan penilaian bahwa sesuatu tidak ada karena sulit dipahami/tidak percaya.
contoh: dalam debat di salah satu statsiun televisi swasta nasional terkait isu dukungan relawan pada Ganjar Pranowo agar maju dalam perhelatan Pemilu Presiden tahun 2024, salah satu politisi PDI-P yakni Trimedia Panjaitan mengatakan dia tidak yakin bila dikatakan bahwa salah satu keolpok relawan Ganjar (Tim Ganjarist) berjuang dengan modal kemandirian, artinya tanpa sokongan finansial dari pihak tertentu. Karena itu Trimedia berkesimpulan bahwa dalam pergerakan sosialisasi Ganjar di masyarakat, Tim Ganjarist pasti dibiayai pihak tertentu.
18. Slippery Slope.
Slippery Slope merupakan bentuk strategi logical fallacy dengan cara mengembangkan logika bahwa sesuatu tidak boleh diijinkan terjadi sebab jika sesuatu itu terjadi maka akan menimbulkan efek yang bersifat eksponensial atau efek domino.
Contoh: Ijin untuk pendirian rumah ibadah tidak boleh diberikan karena jika hal itu sampai terjadi maka dampak lanjutannya adalah akan ada banyak orang yang sering datang beribadah dan lama kelamaan mereka akan tinggal di sekitar lokasi terpat peribadahannya lalu menikah dan beranak-pinah dan lama-kelamaan komunitasnya akan bertambah banya di situ dan menguasai daerah tersebut. Atau contoh yang lain, di Indonesia tidak poleh pernah terjadi adanya ijin untuk perkawinan sesama jenis kelamin karena jika itu sampai terjadi maka akan merembes kepada ijin adanya perkawinan antara anak dengan orang tua, perkawinan diantara saudara sekandung, bahkan perkawinan dengan binatang.
19. Special Pleading.
Special Pleading merupakan bentuk strategi logical fallacy dengan cara mengembangkan logika terbalik atau mengemukakan argumen pengecualian atau berkelit atau memberi alasan baru saat pernyataan yang dikemukakan terbukti salah.
Contoh: beberapa waktu lalu, Elieu Simium salah seorang pria di negara Kenya mengaku dirinya adalah Yesus (Tuhan dalam keyakinan iman Kristen). Ketika masyarakat di sana hendak menyalibkan dia dengan alasan untuk membuktikan kebenaran klaim dirinya sebagai wujud inkarnasi Tuhannya umat Kristen, Elieu Simium melarikan diri dan minta perlindungan di kantor polisi setempat. Dia mengatakan bahwa masyarakat harusnya percaya dulu baru dia bisa membuktikan klaim inkarnasinya dengan menunjukkan bukti-bukti kemujizatannya.
20. Strawman.
Strawman merupakan bentuk strategi logical fallacy dengan cara membuat interpretasi yang salah dari argumen orang lain agar lebih mudah diserang.
contoh:
Mami: “Mielly, cukup dulu ya, nonton-nonton youtube kids di Tablet. Sejak pagi hingga sore ini Mielly nonton terus belum berhenti."
Mielly: “O... jadi Mielly harus berhenti nonton lalu hanya belajar terus hingga Mielly sakit kepala dan tidak bisa lagi bikin apa-apa? Kalu begitu maka Mami tidak adil untuk Mielly!."
21. The Fallacy Fallacy.
The Fallacy Fallacy merupakan bentuk strategi logical fallacy dimana karena seseorang melakukan logical fallacy dalam memperkuat argumennya, maka argumen itu pasti salah.
contoh: Victor memperingatkan Mielly agar jangan mengendarai motor tanpa SIM karena bisa jatuh. Mielly mnjawab bahwa tidak apa-apa karena dia sudah lincah mengendarai sepeda motor sehingga meskipun mengendarai sepeda motor tanpa SIM tidak akan jatuh. (Dalam hal ini, argumen Victor salah dan penarikan kesimpulan dalam bentuk bantahan oleh Mielly juga salah, sebab, pokok intinya tentang SIM. Artinya logika dialog seharusnya diarahkan dalam kaitan dengan penegakkan aturan berlalu-lintas yang mengandung konsekuensi ditilang).
22. Tu Quoque.
Tu Quoque merupakan bentuk strategi logical fallacy dimana menjawab kritikan dengan kritikan ketika seharusnya menjawab argumen teman diskusi atau debat.
contoh: Victor memperingatkan Nofry agar berhenti dari kebiasaan merokok karena selain usia Nofry sudah tua tapi juga karena sudah mengalami gejala kanker paru-paru. Nofry balas mengkritik peringatan dari Victor dengan mengatakan kamu sendiri (Victor) juga perokok.
DAMPAK LOGICAL FALLACY.
Apalagi jika bukan “pembodohan”?
Logical fallacy nampak di dalam hakikat untuk memanipulasi genuinitas suatu realitas dan atau kebenaran informasi melalui cara menggeresnya dari hal yang seharusnya. Konstruksinya tidak sekedar berakhir pada suatu titik dimana ada yang memanipulasi untuk membodohi dan ada yang termanipulasi dan seakan-akan menjadi bodoh, melainkan ada dampak eksponensial yang merusak sebab di dalam konteks sosial, hal tersebut merintangi pertumbuhan kedewasaan berpikir kritis masyarakat disamping sudah pasti merusak akar-akar dari tatanan kebenaran suatu keadaan.
Mix processing terhadap banyak sekali bentuk-bentuk kekeliruan, oleh agen bermental batil, yang mahir pemutarbalikan esensi kebenaran dan penerimaan suasana yang berbalut pembodohan ini selalu menyimpan sifat yang sangat delusional karena masyarakat agar meyakini sesuatu atau gejala yang salah atau yang tidak seharusnya serta masyarakat dengan kepongahan menjadikannya sebagai kebenaran bahkan rela berkubang dalam kesalahan itu karena menerimanya begitu saja sebagai benar. Akhirnya, pada lapangan praktisnya, masyarakat yang terjebak manipulasi karena praktek logical fallacy adalah kelompok masyarakat yang selalu merugi, terbelakang, rentan dipecundangi dan dibodoh-bodohi. Pertanyaannya, pernahkan kita jumpai suatu kondisi masyarakat yang demikian ini yang baik secara individual maupun komunitas mengalami kesejahteraan dan atau berkemajuan? Saya yakin tidak kita jumpai di manapun. Bodoh menyebabkan ketertinggalan dalam berbagai aspek. Dipecundangi mengebabkan struktur mental masyarakat menjadi introvert dan negatifis. Pendek kata, orang atau masyarakat yang tersubordinasi oleh aktor-aktor pelaku logical fallacy adalah masyarakat marginal dan pathologis. Masyarakat gelisah, emosional dan fatalistis.
BAGAIMANA MENANGKAL LOGICAL FALLACY?
Setidaknya ada dua hal yakni:
1. Mengasup ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan adalah media dimana kita mengasup segala sesuatu didalam integrasi kekuatan pikiran dan hati. Melalui ilmu pengetahuan, kita bukan hanya menjadi tahu tapi juga sekaligus menjadi sadar, mengenali mekna hingga memiliki referensi yang memadai untuk menilai. Menilai hakikat banar dari pseudo sebenaran apalagi kesalahan nyata yang sengaja dibenar-benarkan.
2. Menilai gejala apapun melalui sarana pengembangan berpikir kritis.
Masyarakat yang mengasup ilmu pengetahuan secara memadai, serupa meletakkan pisau yang tumpul di atas sebuah batu asah dan mengasahnya terus menerus hingga yang awalnya tumpul menjadi tajam untuk dipakai menelaah suatu apakah itu benar atau salah. Inilah yang dimaksud dengan berpikir kritis.
3. Mengembangkan pola interaksi sosial yang inklusif.
Salah satu cara terbaik untuk dapat terhindar dari intimidasi mental logical fallacy adalah mengembangkan pola atau sikap hidup interaktif dengan berbagai lingkungan serta tidak terjebak hanya dalam tempok-tempok komunitas sendiri yang mengakibatkan kita dengan mudah terindoktrinasi pemikiran dan kebenaran sepihak.
Pada titik ini, menjadi skeptis sangatlah perlu karena dapat menjadi medan aplikasi ilmu pengetahuan dan diaktifkannya pengembangan analar berpikir secara mendalam/kritis. Sebab ilmu pengetahuan dan kekritisan memiliki kodrat untuk selalu menguji dimana untuk mengiuji harus didahului negasi realitas memalui kesangsian dan keragu-raguan (ingat; Cogito Ergo Sum-nya Rene Descartes). Dengan demikian, pada vase tertentu, seseorang atau suatu masyarakat jadi tahu, paham dan cerdas membedakan antara mana yang benar, yang hakikat, yang berguna, mendidik dan mendewasakan berbanding mana yang sesungguhnya pemahaman kosong yang memanipulasi, pengertian-pengertian yang menyesatkan, pendapat-pendapat yang tidak berguna sarat keomongkosongan.
Seseorang atau masyarakat yang telah dicerahi ilmu pengetahuan, mahir mengaktifkan nalar untuk berpikir kritis serta memiliki pola hidup inklusif dalam lingkup masyarakat luas biasanya memiliki keistimewaan pandangan dan mental berupa kemampuan membaca kesalahan logika yang berujung dapat melemahkan argumen. Mengapa demikian? karena orang atau masyarakat yang demikian mampu menunjukkan bukti atau kualitas argumen yang memvalidasi informasi sesat yang diterima. Tindakan dalam proses validasi ini dimulai dari benar-benar memahami (pengertian, alasan, hingga bukti) agar argumentasi menjadi relevan. Setelah itu melakukan evaluasi atas informasi yang terinput (di dapat). Evaluasi inilah belati pembelah selaput-selaput halus hinga kadar dari praktek maupun kelatahan logical pallacy.