Friday, March 26, 2021

FILSAFAT DEKONSTRUKSI JACQUES DERIDDA (Bagian III); Cinta dan Terima Kasih.Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy.

Selain menohok melalui konsep-konsep filosofis mendalam seperti logosentrisme, fonosentrisme dan metafisika kehadiran, kita menjumpai pemikiran Deridda lainnya yang menelisik konsep-konsep fungsional yang cukup familiar dalam pemakaian masyarakat semisal “cinta”, “terima kasih” dan lain-lain yang didekonstruksi sedemikian rupa sehingga kita menangkap kedalaman pemikiran filosofisnya.

Sebagai bagian akhir ulasan menyangkut pemikiran Deridda, melalui bagian ketiga ini Penulis mengajak pembaca shopping pemikiran, merasakan bagaimana Deridda mengeliminasi makna umum dari kata “cinta”, dan makna kata “terima kasih (yang sedikit banyak mengandung linearitas makna dengan makna kata “cinta.”


A. Cinta.
“Aku sangat mencintaimu, dan rasa itupun ku harapkan darimu.”
“Jangan kau lupa untuk memimpikan aku di kala tidur sebentar malam.” Atau pernahkah mendengar lagunya Daniel Sahuleka “Don’t sleep away this night my baby. Please stay with me at least ‘till dawn...”
“Cinta ini menggelisahkan aku bila kau tidak menanggapinya.”
“Semoga aku adalah alasanmu tersenyum sepanjang waktu.” 
Kalimat-kalimat diatas kita pahami sebagai kalimat-kalimat yang memantul rasa dalam makna cinta. Makna inilah yang oleh Deridda diadili dengan sudut pandang dekonstruktif. Dia memang filsuf yang kerap ditasbihkan sebagai salah seorang pemikir posmodernis yang memandang cinta secara unik dan terbalik. Memandang cinta dengan penuh prasangka. 

Mengandaikan Deridda hendak mengatakan bahwa orang yang jatuh cinta itu narsis dalam egosentris secara sangat mendalam. Alasannya, dalam semesta suasana cinta kasih suatu pasangan, mereka dihinggapi secara alamiah situasi dominan tertentu. Situasi dimaksud itu yang oleh Penulis sebut “hasrat terutamakan.” Hasrat yang nyaris tidak menyajikan eksistensi “kita” secara seimbang karena terselubung oleh “aku”. Orang-orang yang jatuh cinta diandaikan mengidap semacam beban kebertahanan eksistensi personalitas dalam suatu ikatan bersama (beban untuk “harus menjadi yang lebih” atau “beban ingin lebih”).
Pribadi yang mencintai selalu ingin di ingat di atas segala kepentingan yang lain, selalu ingin didahulukan, selalu ingin lebih diperhatikan, selalu ingin di hubungi entah melalui telepon, video call, chat Whatsapp dan lain-lain, ingin selalu ada bersama-sama atau jalan-jalan bahkan selalu ingin dipuja, dan lain sebagainya.
 
Intinya bahwa seseorang yang sedang jatuh cinta tidak sedang mencintai orang lain atau Penulis mengambil kalimat “tidak sedang berada dalam suasana mono-dualitas” (satu di dalam dua dan dua yang menyatu). Baginya Cinta tidak lain semacam insting hidup manusiawi yang eksis bagi penegasan personalitas. Intensinya hanyalah memuaskan kehendak pribadi, bukan kehendak bersama. Dari sini, apa yang disebut sebagai cinta mentransformasi dirinya menjadi hasrat untuk mengendalikan sebisa mungkin sehingga rasa-rasanya nonsense --mengikuti cara pandang Deridda-- menemukan cinta sebagai kemurnian hati, sebagai anugerah, sebagai gejala yang agung yang saling melimpahi tanpa eksploitasi, dan sejenisnya. Selebihnya cinta itu dapat dipahami sebagai sekedar gejala reaksi bio-kimia tubuh semata yang sarat egosentrik. 
Jika telah demikian tentu saja satu pihak akan dikorbankan; menjadi benda, obyek; yang pasrah “ditindak”.

Coba simak kalimat; “Aku (Romeo) mengerti kamu tetapi mengapakah kamu (Juliet) tidak mengerti aku (Romeo)?”
Kata “mengerti” dalam kalimat di atas mengandung arti “sungguh mengerti atau memahami secara utuh”, di mana di situ seharusnya tersedia cukup kelugasan batin dari Romeo untuk tidak meminta balik dimengerti oleh Juliet. Sebab, jika Romeo meminta untuk di mengerti oleh Juliet mengandung arti Romeo sebetulnya sedang ada dalam keadaan tidak memahami atau mengerti Juliet.

Pesan filosofisnya, jika kita mengatakan memahami pasangan kita maka dalam segenap baik-buruknya, diacuhkan, tidak direspon balik bahkan jika dihakimi pun cukuplah mengerti saja dalam segenap keluasan dan kelugasan batin kita. Jangan berorientasi mengharapkan respon dimengerti atau dipahami, sebab bila itu yang terjadi, kita sendirilah yang sedang menerabas esensi mencintai yang kita proklamirkan melalui kata-kata. 

Penulis terimajinasi oleh kalimat populer dalam beberapa tahun di kalangan anak-anak muda yang gandrung mengucapkan “jangan mencintai, cukup aku saja. Cinta itu berat.” Kalimat ini bagai memberi nafas kembali kepada afirmasi Søren Aabye Kierkegaard --filsuf dan kritikus beraliran eksistensialisme sekaligus bapak filsafat eksistensialisme-- yakni; “Cinta yang sempurna adalah cinta yang tidak membuatmu bahagia.” Suatu pernyataan yang bersahut mendukung dekonstruksi dalam cara berpikir Deridda meskipun sebetulnya mereka berdua memiliki posisi pandangan yang bertolakbelakang secara diametral tentang cinta dimana Kierkegaard dapat dikelompokkan bersama dengan Jean-Jacques Rousseau, Karl Marx, dan Erich Fromm sebagai kelompok filsuf yang memiliki pandangan optimis tentang cinta sementara para penganut pandangan pesimis ditunjukkan filsuf seperti; Thomas Hobbes, Sigmund Freud, Alfred Charles Kinsey, Jean-Paul Sartre, dan tentu saja Jacques Derrida.

Jadi bila orang yang kamu cintai dalam hidupnya ternyata tidak mencintai kamu, atau membenci bahkan melukai kamu maka atas mana cinta itu, teruslah tetap mencinta. Sebab cinta tidak berpamrih apalagi korup.
“If You have any reason to love someone, you are really doesn’t love her/him”  (kalau kamu punya alasan untuk mencintai orang lain sebetulnya kamu sedang tidak mencintai dia). kenapa? Karena cinta tidak butuh alasan, demikian ungkapan Deridda.


B. Terima Kasih. 
Dalam bukunya yang berjudul “Forgifness and politanisme” (pemaafan dan kosmopolitanisme) pemikiran Deridda secara sangat efisien mendekonstruksi konsep cara berterima kasih dengan mengambil contoh yang terdapat dalam paktek “potlach.” 
Potlach ini adalah transaksi yang mengikat solidaritas masyarakat melalui pemberian benda ekonomis sekaligus sarana ritus kebudayaan yang dalam makna menyatakan terima kasih. Potlach diperkenalkan melalui buku karya Marcell Mauss yang berjudul “Bentuk dan Fungsi Pertukaran di Masyarakat Kuno”, sebagai konsep ekonomi yang secara antropologis yang dilatari jiwa sosial masyarakat yang bersifat khas. 

Melalui konsep inilah, Deridda mendekonstruksi makna “terima kasih” atau makna “pemberian cuma-cuma” atau hibah. Bahkan ketika terima kasih itu hanya disampaikan dalam wujud kata-kata sekalipun.
Dalam pemikiran Deridda, menyampaikan terima kasih bersamaan ataupun setelah menerima suatu pemberian ucapan terima kasih sebetulnya menggugurkan pemberian yang diterima. Maksudnya, ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain secara cuma-cuma, dan orang yang menerima pemberian kita itu mengucapkan terima kasih kepada kita, kita sebetulnya juga sudah menerima pemberian dari orang itu meskipun belasan yang kita terima bukan berbentuk barang atau sesuatu yang lain yang senilai apa yang diterimanya dari kita. Artinya pemberian kita sudah tidak lagi utuh karena kitapun menerima sesuatu dari orang lain itu. Dengan demikian, UCAPAN TERIMA KASIH PUN MENGGUGURKAN MAKNA PEMBERIAN.

Dengan demikian, esensi yang didekonstruksi oleh Deridda terkait makna suatu pemberian, menemukan linearitasnya dengan ajakkan dan ajaran dalam agama-agama bahwa pemberian yang paling paripurna itu adalah pemberian yang diam-diam dan tanpa diketahui dari mana asalnya. Ajaran Kristen memiliki sandaran akan hal ini sebagaimana ada dalam Matius 6:3 (Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu).
-------------------
Bandung, 27 Maret 2021
SELAMAT ULANG TAHUN
1. Anakku Sendy Pasquitta Viscell Pasalbessy
2. AMGPM

Thursday, March 11, 2021

FILSAFAT DEKONSTRUKSI JACQUES DERIDDA (Bagian II)Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy

Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy


IV. TIGA ELEMEN DEKONSTRUKSI DERIDDA.
Telah dikemukakan pada bagian pertama (dari keseluruhan tema tulisan ini yang di terbitkan beberapa minggu lalu) bahwa dekonstruksi merupakan salah satu paradigma yang muncul pada masa post-Strukturalisme sebagai kritik terhadap teori-teori strukturalisme yang dianggap kaku karena kokoh tertancap pada struktur dan sistem tertentu, dimana konsep dekonstruksi dalam bingkai pemikiran Deridda cenderung menyasar kritik atas konsep filosofis, “Logosentrisme”, “Fonosentrisme” dan “Metafisika kehadiran”.
Maka pada bagian ini, secara khusus akan diurai bagaimana isi pemikiran Deridda terkait konsep-konsep “Logosentrisme”, “Fonosentrisme” dan “Metafisika kehadiran”, serta sedikit tambahan pemikiran Deridda lainnya seperti “Différance (penundaan)“, “Terima Kasih” --yang Menggugurkan Makna Pemberian, serta “Filosofi Cinta.”


A. Logosentrisme/Metafisika Kehadiran.
Dapat dikatakan bahwa memusatkan fokus secara fundamental pada simbol atau gugusan simbol misalnya gambar, foto, lukisan dan lain-lain, dan bahasa sebagai sistem simbol serta segala bentuk ekspresi atas realitas eksternal yang bersifat simbolik telah menandai ciri utama sekaligus esensi filsafat barat. Hal ini karena tradisi filsafat barat sepenuhnya didasarkan apa yang disebut sebagai logosentrisme (%9) atau termasuk juga metafisika kehadiran (metaphysics of presence), yakni; suatu tradisi filsafat yang --selalu-- dipenuhi impian dan nostalgia kehadiran akan logos (%10) di balik segala yang tampak pada permukaan atau yang terjadi di jagat kosmik sebagai buah kebenaran yang mengandung sifat ilahiah.

Sebagai suatu sistem metafisik yang mengandaikan kehadiran logos (substansi lainnya, kebenaran transendental di balik segala dunia fenomena), tradisi filsafat barat dihadapkan pada konsekwensi eksistensial yakni kehilangan kuasa melepaskan diri dari cara berpikir strukturalisme yang mensuperioritaskan atau mengunggulkan logo (terutama secara epistemologis). Melaluinya, bahasa lisan ditahbiskan berada di atas bahasa tulisan (fisik teks) dan melalui logisentrisme disusupkan pemahaman keyakinan bahwa makna, tafsir, pengetahuan atau pemahaman dapat diwariskan tanpa terkorupsi atau terdistorsi sama sekali. 

Deridda menyerang eksistensi logosentrisme dan intertekstual tanda ialah karena dianggap merupakan pendekatan yang menyebabkan pengekangan bahkan penyaliban terhadap makna eksistensial tulisan, yang sekaligus menolak supremasi pikiran sebagai fakultas tersendiri atau elemen yang terpisah dan bebas dari bahasa. Ia menegaskan bahwa pikiran juga terkontaminasi oleh bahasa dan diferensialitas tanda-tanda. Karena itu, adalah salah kaprah bila berorientasi pada afirmasi bahwa “hubungan antara bahasa dan pikiran merupakan hubungan yang timpang”, dimana pikiran selalu yang lebih tinggi dan diperlakukan demikian dan pada kata-kata, atau dimana pikiran menjadi sumber dari bahasa, sementara bahasa hanya kepanjangan tangan dari pikiran sehingga tugas bahasa hanya sampai pada menyampaikan sesuatu yang ingin diekspresikan oleh pikiran.

Dalam pemikiran Deridda, di dalam eksistensi logosentrisme tidak saja terjadi penghentian filsafat, tetapi juga berakhirnya semua ilmu pengetahuan manusia karena manusia di paksa masuk ke dalam sistem yang menimbulkan dogmatisme dan melegitimasi kekuatan rasio yang berpihak secara tunggal. 

Tujuan Deridda mengkritik logosentrisme atau metafisika kehadiran tidak lain mengkanalisasi pembebasan keadaan masyarakat dari kekuatan “intelektual dominan” sekaligus membuktikan ketiadaan jawaban mutlak di tengah gempuran pengerangkaan (framing) pencarian atas jawaban --pencarian atas logos-- ke dalam oposisi yang binaritas (%11). 

Untuk membedah kelemahan filsafat metafisika barat inilah, Derrida mengoperasikan difference atau différ(a)nce (akan Penulis jelaskan lebih jauh pada point “C” --setelah menjelaskan fonosentrisme).
Pengaruh difference atau différ(a)nce yang diajukan Deridda bahkan berkembang dan juga melebar ke institusi-institusi pengetahuan lainnya yang membentuk nalar epistemik dari setiap pemikiran yang sebelumnya telah baku, tertutup, dan final.

Menurut Penulis, pemikiran Deridda dapat diilustrasikan dalam pemisalan: 
KESATU, Apakah pemikiran Deridda, Heidegger, Ricouer, Marx, Rousseau atau filsuf lain yang kita pelajari saat ini masih persis sama dengan pemikiran mereka ketika pertama kali dikemukakan? Besar kemungkinan sudah tidak lagi! Mengapa? Tentu saja karna karya mereka itu sudah di baca jutaan orang sebelum kita, pikiran-pikiran mereka telah ditulis ulang, dan ditafsirkan berulang-ulang. Dalam kondisi yang demikian menurut Deridda pasti ada inti pemikiran para pemikir utama yang tercecer atau terdistorsi oleh para penafsir atau pembaca. Bila cara membaca seperti ini di bawa ke masa yang lebih klasik lagi, muncul pertanyaan serupa terhadap pikiran-pikiran yang dikemukakan oleh Plato, Aristoteles, atau Socrates yang akan melahirkan kesimpulan bahwa kemungkinan sekali ilmu pengetahuan telah runtuh karena tidak ada jaminan bahwa saat ini kita sungguh sedang belajar pada pemikiran-pemikiran asli, masih sama atau murni sebagaimana ketika mereka mengemukakannya atau yang dimaksudkan oleh mereka; 
KEDUA, Beberapa tahun lalu ketika Penulis mengajar mata kuliah membedah pemikiran dan eksistensi tokoh sosiologi, Karl Marx kepada mahasiswa jurusan sosiologi semester awal di Fakultas FISIP Universitas Pattimura, Penulis menemukan banyak sekali tafsir yang di kemukakan oleh para mahasiswa tentang Marx. Maka dapat dibayangkan, karena dibaca oleh banyak orang, tafsir atas Marx dan karya-karyanya juga banyak. Hal ini yang menyebabkan tumbuhnya banyak percabangan atau aliran Marxisme dalam pemikiran orang-orang yang menginduk secara sangat terarah kepada teks-teks Karl Marx;
KETIGA; Dalam konteks yang lain, dapat pula dikemukakan contoh bagaimana penafsiran atas teks berkelindan secara bebas pada orang-orang yang berbeda-beda, misalnya seseorang yang agamis akan membaca kitab Kidung Agung dengan titik optik yang lebih spiritualis. Akan lain halnya jika itu di baca oleh seseorang yang awam atau seseorang yang berciri agamis tetapi pada episentrum keyakinan iman yang berbeda dan dilakukan dengan niat yang radikal kontradiktif. Lebih jauh, akan juga berbeda manakala isi kitab itu dibaca seorang perempuan dalam semangat keterlibatan gender dengan dibaca oleh seseorang laki-laki yang menggunakan kacamata patriarkhi.

Apa yang dikemukakan oleh Derida menjadi semacam spirit pemikiran yang baru yakni spirit anti-logosentrisme, suatu semangat pengarahan pembaca atau penafsif untuk menciptakan makna baru atau makna sendiri sekalipun sudah tentu mengandung dimensi paradoxal yang serius karena sesungguhnya penciptaan makna secara mandiri adalah pembuktian terjadinya distorsi makna asal.


B. Fonosentrisme.
Point kritikal Deridda berikutnya terkait dengan pemikiran dekonstruksi adalah apa yang disebut dengan, fonosentrisme. Bahwa fonosentrisme berkembang karena kedekatan ucapan di anggap lebih dekat dengan keberadaan subjek daripada menulis. Substansi argumen ini yang hendak di tohok oleh pikiran-pikiran filosofis Deridda.

Fonosentrisme adalah konsep atau paham yang meyakini bahwa otentisitas suatu kebenaran hanya memiliki sumber pada ucapan dibandingkan tulisan (teks). Artinya, bahasa yang melalui medium suara dan ucapan secara inheren lebih unggul, atau lebih utama daripada bahasa dalam bentuk tertulis. Dengan demikian, bahasa lisan mengandung pada dirinya metode komunikasi utama dan paling mendasar, lebih kaya, sekaligus lebih intuitif dibandingkan menulis yang hanyalah metode turunan untuk menangkap ucapan.
Barangkali filsuf seperti Plato, Jean-Jacques Rousseau, dan Ferdinand de Saussure adalah yang serius mempromosikan pandangan ini.

Pengembangan pemikiran fonosentrisme ini langsung maupun tidak langsung telah membangun tembok persepsi bahwa tulisan hanya sebagai prioritas sekunder sehingga terjadi tragedi alienasi eksistensi tulisan. Padahal, menurut Derrida, tulisan justru sangat, bahkan lebih kaya sebab daya jelajahnya yang luas dan cenderung lebih lama memungkinkan kemunculan lebih banyak makna maupun tafsir dengan tingkat keragaman yang tinggi sehingga selalu terbuka terhadap berbagai kemungkinan. 

Sebagai contoh, tulisan yang Penulis buat ini (Filsafat Dekonstruksi Jacques Deridda), bila isinya hanya disampaikan secara lisan oleh Penulis ental melalui diskusi, bercerita, mengajar dan lain-lain, maka ketahanan ingatan informatorik dan interpretasi maknanya tidak akan lama di ingat dan konsisten menjangkau baik secara tempus maupun locus karena bisa saja ketika Penulis telah meninggal orang tidak lagi mengingat-ingat apa yang disampaikan atau bila mengingatpun akan bertahan dalam frekwensi yang terus mengecil hingga lenyap. Akan berbeda bila Penulis menyajikannya dalam teks yang hingga kapanpun dapat dibaca di berbagai tempat dengan tempo yang lebih panjang. 
Ini juga menjadi kritiknya atas pemikiran-pemikiran filsuf barat sebelumnya yang menurut Deridda terpenjara oleh obsesi mereka pada “kejelasan makna” dan absolutisitas makna (pemutlakkan makna) sehingga meminggirkan atau mengabaikan aspek bahasa itu sendiri yang cenderung menghadirkan berbagai kemungkinan.

Bagi Derrida, kritik terhadap para filsuf barat harus dilakukan karena sejatinya dalam komunikasi terbentang celah jarak di antara penanda dan pertanda (%12). Jarak itu menyeret pula eksistensi bahasa lisan dengan maknanya serta antara teks dan maknanya. Jarak atau celah inilah yang membuat makna absolut mustahil ditemui. Adanya penanda tidak secara langsung menggambarkan pertanda karena bahasa tidak lagi semata-mata sebagai sebuah sistem penanda, akan tetapi juga sebagai sebuah jejak (trace). Penanda dan pertanda bukan lagi sebagai satu kesatuan melainkan terpisah, pertanda tidak hadir begitu saja; tetapi di dekontruksi.

Untuk dapat memahami bahwa bahasa mengandung pada dirinya metode komunikasi sekaligus daya penyingkapan realitas, dapat merujuk konsep Deridda tentang “Yang nyata hanyalah teks, tidak ada apa-apa di luar teks” dimana yang dimaksudkannya dengan teks bukan sekedar tulisan melainkan seluruh realitas yang bisa ditangkap oleh pemikiran dan di beri interpretasi.

Sebagai ilustrasinya:
Mengandaikan kita hidup dalam ruang yang hampa bahasa dimana di situ tidak ada bahasa. Dimana pada suatu saat, kita tidak tahu berkumpulnya sejumlah orang-orang muda di suatu gedung adalah kerumunan biasa atau karena acara konferensi ataukah karena kegiatan lain. Dan jika kemudian ada yang mengatakan bahwa itu adalah kerumunan biasa maka realitasnya itu adalah kerumunan biasa. Relitas itu sampai ke pendengaran dan pemahaman kita melalui bahasa. Dan jika beberapa hari kemudian ada yang mengatakan kepada kita bahwa sebetulnya kejadian kerumunan itu adalah karena berlangsungnya konferensi untuk memilih Pengurus baru maka realitasnya jadi berubah. Akhirnya hanya bahasa inilah yang menjadi wakil dari realitas sehingga yang nyata sesungguhnya hanyalah teks atau tidak ada apa-apa di luar teks.


C. Différ(a)nce.
“Différance” menjadi konsep sentral dalam dekonstruksi Derrida. Ini merupakan suatu istilah khas Prancis yang diciptakan dan diberikannya arti khusus yakni; pembedaan dan penangguhan makna dalam hubungan keterikatan makna pada suatu teks. 
Untuk melacak pemikiran Deridda yang mengoperasionalisasikan istilah différance ini bisa ditemukan mula-mula pada makalah ceramahnya depan “Societe Franchise de Philosophie” pada 27 Januari 1968 dengan judul "Cogito et histoire de la folie".
Diapun menggunakan différance ketika melibati dialektika yang memasuki ranah pemikiran filosofi Edmund Husserl dalam Speech and Phenomena. 
Différance dapat pula ditemukan melalui asainya yang berjudul "Différance", dimana Derrida memperlihatkan bahwa perbedaan atau penundaan makna memungkinkan pengungkapan atas sejumlah fitur heterogen yang mengatur produksi makna tekstual. 

Selintas menatap, “difference” nyaris misip kata difference, yang berarti “perbedaan”. Namun, “difference” yang diistilahkan Deridda lebih dari sekadar perbedaan yang menunjukkan ketidaksamaan dua hal, sebab artinya juga ditujukan untuk menunjuk pada "penundaan" atau penangguhan yang tidak memungkinkan sesuatu hadir seketika. Menunjukkan bahwa kata-kata dan tanda tidak pernah dapat sepenuhnya memunculkan apa artinya, tetapi hanya dapat didefinisikan melalui seruan pada kata-kata tambahan, yang darinya mereka berbeda. Jadi, makna selamanya "ditangguhkan" atau di tunda melalui rantai penanda yang tak berujung sehingga makna bahasanya menjadi bersifat arbitrer (tidak stabil).

ILUSTRASI KESATU: Bila kita mengucapkan kata “rumah”, maka untuk sementara, pikiran kita diarahkan kepada persepsi rumah dalam makna sebagai tempat tinggal. Tetapi, jika kata “rumah” itu kita tambahkan dengan kata “makan”, maka telah terjadi perubahan makna dari yang sebelumnya tempat tinggal menjadi tempat makan atau warung makan. Dan bila di belakang kedua kata itu ditambahkan kata “mewah”, maka dibaca “rumah makan mewah” yang maknanya bisa berkembang menjadi restoran. Misalnya juga kata “Nehemia”, bisa awalnya merujuk pada nama seorang di suatu masa tetapi bisa juga berarti nama bangunan, nama Jalan dan sebagaianya dan ketika kata “Nehemia” ini padanya ditambahkan kata “Cabang” maka sejumlah kecil orang akan mengartikan dan memaknainya sebagai AMGPM Cabang Nehemia yang adalah suatu organisasi pemuda Gereja yang berlokasi di kelurahan Benteng, Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon. Akan tetapi arti inipun bisa saja berubah. 

Selain menyangkut penundaan atau penangguhan makna, différance juga dikaitkan maknanya dengan atau kadang di sebut espacement atau "spacing" yakni menyangkut kekuatan yang membedakan elemen satu sama lain, dan dengan demikian menimbulkan oposisi biner dan hierarki yang mendukung makna itu sendiri.
Mengambil ilustrasi:
Dulu, kata “bingkai” bersifat fisik dan artinya hanya terbatas pada tempat meletakkan foto tetapi sekarang kata bingkai telah berkembang meluputi yang bersifat abstrak seperti bingkai pemikiran yang artinya formulasi atau standar atau ciri berpikir atau inti pemikiran seseorang.  Dulu, kata canggih itu artinya “cerewet” atau “banyak bicara” tetapi sekarang makna canggih lebih mengandung arti “mutahkir”. 
Demikian pula terdapat persamaan kata pada tempat atau budaya berbeda yang memunculkan arti yang berbeda seperti kata “damang” dalam bahasa Sunda yang berarti “baik” tetapi pengucapannya (dengan kata yang persis sama) dalam bahasa Melayu-Ambon justru berpengertian “sakit (demam).” Ini menunjukkan bahwa bahasa atau kata atau teks tidak pernah stabil dalam keberadaannya.  

Ketidakstabilan yang menunjukkan karakteristik "Différance" bisa kita teropong pula dari pengertian bersifat bilingal ketika belajar bahasa asing misalnya bahasa Inggris-Indonesia. Misalnya kata “Present” dalam bahasa Inggris bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia mengandung arti antara lain bisa “sekarang”, “hadiah”, “mempersembahkan”, “menyajikan”, dan lain-lain.

"Différance" juga digunakan Derrida menunjuk secara tega kelemahan ucapan dalam rangka mengungungkapkan suatu makna secara utuh sebab kata “difference” bisa mencakup setidaknya tiga substansi: “to differ”,  untuk membedakan, atau tidak sama sifat dasarnya; “differe” (dari bahasa Latin),  untuk menyebarkan, mengedarkan, dan; “to defer”, untuk menunda. Dari sini, Deridda mensolusikan jangan mencari makna dari teks, tetapi ciptakan makna sendiri atau makna baru dari teks di maksud. 

Kerentanan eksistensi teks ini telah dikokohkan pula dalam buku berjudul The Death of the Author oleh Roland Barthes (pelopor ilmu Semiotika) yang menulis sepotong kalimat yang bermakna kira-kira “Ketika teks terlahir, maka pengarang itu telah mati. Dia lantas digantikan oleh pembaca yang bebas menafsirkan teksnya. Bahwa ketika penulis menuliskan sebuah teks, sejak detik itulah dengan sendirinya penulis sudah terputus atau tidak terkait dengan teks yang dibuatnya. Selebihnya, posisi penulis tidak lebih penting dari teks yang dihasilkanya.
Argumen filosofis Barthes ini seolah hendak mengatakan bahwa sejak teks ditulis dan sampai pada pembaca maka penafsiran dan makna seutuhnya berpindah ke pembaca dan menyebabkan makna interpretatif teks awal (milik penulis/pengarang) telah mati, sekaligus menunjukkan bahwa eksistensi teks tidak pernah stabil.

Pelajaran berharga yang bisa kita dapat dari memahami apa yang dikemukkan oleh Deridda tentang differance dan kata-kata Roland Barthes adalah bahwa seyogyanya kita tidak takut membaca buku karena takut tidak memahaminya. Kita tidak perlu berusaha memahami sebagaimana apa yang dipahami penulis tetapi cukuplah berusaha memahami dengan cara kita memahaminya sendiri, yang terpenting gunakan perspektif yang seobjektif mungkin ketika kita mengemukakan penafsiran kita. 

------------------- 
(%9) Istilah "logosentrisme" dimunculkan pertama kali awal tahun 1900-an oleh filsuf Jerman Ludwig Klages, mengacu tradisi sains dan filsafat Barat yang menganggap kata-kata dan bahasa sebagai ekspresi fundamental dari realitas eksternal. 

(%10) Logos, berasal dari bahasa Yunani; menaksir, menghintung, rasio, menjelaskan, argumen, peraturan, naratif, penjelasan, khotbah, frasa, berbicara tentang, kata, kalimat, perkataan Tuhan atau wahyu atau firman. {Gordon H. Clark, The Johannine Logos: the Mind of Christ (Maryland: The Trinity Foundation, 1972), 14}. Di masa Graeco-Imperium Roma, Logos adalah terminologi umum dalam filsafat Yunani yaitu, Pertama; menunjukkan kepada ide, konsep, tujuan, program dan pikiran. Kedua; secara filosofi menunjukkan tindakan Allah, penciptaan Allah, aktivitas Allah, Wujud Allah dan manifestasi Allah.
Dalam pandangan Yunani,  Logos terdiri dari dua pengertian yaitu: Logos Prophorikos: ”dikomunikasi baik dalam kata dan tulisan dari seseorang, dan  Logos Endhiathetos: ”kata yang tidak dikatakan atau ditulis,  namun hanya dalam pikiran (nalar), berhubungan dengan rasio”. Jadi Logos adalah buah pikiran.  Ini adalah bentuk umum dalam filosofi Yunani,  sebagaimana penafsiran alegori Philo. {Adam Kamesar, The Cambridge Companion to Philo (Cambridge: Cambridge University Pres, 2009), 164-65}. sesungguhnya Logos telah ada dalam pemikiran Heraclitus (540-475 sM).  Pandangan filsafatnya tentang ”menjadi” (becoming),  atau istilah ”segalanya mengalir.” menurutnya, tidak ada kenyataan yang tetap atau statis. Kenyataan mengalami perubahan terus-menerus sehingga dinamis sifatnya.  Semua berubah di dalam waktu dan termasuk waktu itu sendiri, dan aliran perubahan itu diatur mengikuti pola yang terus-menerus sepanjang semua yang mengendalikan itu adalah Logos (nalar atau pikiran). Di tengah-tengah kenyataan perubahan inilah, siapa yang dapat mengetahuinya adalah orang yang pandai dan cerdik dalam berpikir dimana disitulah pangkal kesenangan. Menurut Heraclitus, Logos yang ada di dalam diri manusia memberi kepadanya nalar tentang kebenaran dan mampu membedakan benar dan salah. Jadi logos adalah hakim kebenaran dalam diri setiap manusia. {Wiliam Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Injil Yohanes Pasal 1-7 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983) 58-59}. 
Filsuf Yunani lainnya adalah Anaxagoras murid Aristoteles,  dalam pikirannya Allah dibayangkan sebagai transenden bukan imanen (di dalam segala sesuatu). Menurutnya, segala sesuatu dikendalikan Logos Allah. Pandangan Yunani memang selalu bertumpu pada ajaran Gnostik dimana pribadi unik yang hakiki adalah Theos yang terpisah dari segala sesuatu, tidak diciptakan dan tidak menciptakan apapun.  Theos ini suatu kemuliaan yang tidak terjangkau (transeden) sedangkan Demiurge adalah Tuhan yang lebih rendah dari Theos,  yang dari kegelapan melahirkan hikmat (Sophia),  ibu dari semua Archon (berjumlah 356). Di antara Theos dan dunia terdapat banyak Archon seperti Logos,  Nous,  Zoe,  Tophos,  Antropos Kosmos, dimana Sarks merupakan archon yang terendah.  Mereka menyatu dalam materi yang dianggap jahat. {Chris Marantika, Kristologi (Yogyakarta: Iman Press, 2008), 9}.

(%11) Oposisi binar (binary oposition) dapat dimaknai pertentangan yang oposisional antara penanda dan petanda (signifier and signified), tuturan dan tulisan (speech and writing), pusat dan marjinal, dan lainnya, dimana istilah-istilah yang pertama (penanda (signifier), tuturan (speech), pusat, ditempatkan lebih unggul daripada yang kedua.

(%12) Kalau kita mengkaji Ferdinand de Sausure, (filsuf linguistik asal Swiss), dia yang pertama kali mengatakan adanya signifire and signified (penanda dan pertanda). Pertanda itu kehadiran sementara penanda adalah label atas kehadiran itu. Atau representasi atas kehadiran itu.
-------------------
Bandung, 12 Maret 2021