Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy.
I. PENGANTAR.
Dunia berubah, lingkungan berubah, bahkan komunitas beriman dan tentu saja kehidupan pemudanya pun berubah seiring waktu dan dinamika konteks.
Perubahan memang tak pelak, selalu progresif menjawab hakikat keabadiannya, sehingga, dia tidak dapat dihambat apalagi dihentikan. Heraclitus bahkan menyebutkan bahwa perubahan tidak lain prinsip fundamental realitas. Artinya, sebagai hakikat dasar dari segala sesuatu yang ada (perspektif filosofis), tidak ada yang permanen kecuali perubahan. Dengan demikian, tidak ada pilihan lain selain bahwa adaptasi terhadap perubahan menjadi solusi paling tepat jika ingin terus survive melakoni aktualisasi peran.
Maka, senantiasa membentang tuntutan pada diri seorang pemimpin, termasuk pemimpin di lingkup organisasi pemuda untuk terus memvalidasi daya kepemimpinannya melalui belajar dan manekunkan obsesi kualitatif serta efisiensi dirinya pada bacaan literatur maupun kepekaan dan kesadaran kontekstual.
Pemimpin jangan pernah merawat sigma "cukup" atau merasa sudah cukup dengan kapasitas yang dipunyai dan mendayagunakan untuk me-resonansi seluruh peran dan tanggungjawabnya. Lebih dari itu, dia tidak boleh berdiam dan terus mengandalkan pengetahuan lama yang dimiliki sekalipun harus diakui ada banyak dari pengetahuan lama yang tetap relevan untuk dipertahankan. Pemimpin harus bisa menguji dan mengasah kepekaan kritisnya dalam mengenali pengetahuan-pengetahuan mana dari yang lama yang perlu dipertahankan dan mana yang sudah waktunya di lepas agar selalu tersedia "Void" dalam ruang kritis pemikiran dan kesadaran kepemimpinannya. Dengan demikian, pemimpin patut menyatakan tabu pada perilaku hidup tanpa membaca (dalam makna yang lebih luas yakni belajar).
MENGAPA PERLU TERUS MEMBACA?
secara teoritis, pemimpin terkarakterisasi dan terkonotasi oleh anggapan "unggul", dimana setiap sisi aktual dirinya ditandai oleh apa yang dalam bahasa Perancis disebut "parle" yaitu; bicara atau berkata-kata.
Pemimpin bukan hanya bisa bicara melainkan harus bicara. Entah itu instruksi, konfirmasi, konfrontasi, diskusi, investigasi dan yang terutama decision making.
Dalam hal ini kualitas pemimpin ditentukan oleh mutu kata yang diucapkan atau disampaikan. Sesuatu yang sangat menentukan dalam internalisasi dan akumulasi pengakuan serta dukungan anggota-anggotanya.
Melalui progres membaca seorang pemimpin akan terus tumbuh menjadi pribadi pemimpin efektif, terampil dan adaptif karena kekritisannya terasah melalui berbagai sumber (literasi dan aktual konteks). Ini salah satu saripati pemahaman di balik pengetahuan tentang teori perilaku kepemimpinan (Leadership Behaviour theory).
Kurang lebih pada tahun 2002 ketika mengikuti pelatihan bertajuk KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL, beta teredukasi salah satu perspektif yang meng-underline pentingnya seorang pemimpin untuk terus belajar/membaca karena melalui aktifitas tersebut, pemimpin mampu menginspirasi perubahan dan menginjeksi nalar-nalar inovasi. Pemimpin transformasional, karenanya, memiliki ciri khas berupa terus mengevaluasi diri dan memperluas wawasan, termasuk dengan membaca dan memperdalam ilmu yang kompatibel dengan seluruh tugas kepemimpinannya.
Perspektif Kepemimpinan Transformasional ini, kemudian menjadi salah satu yang merasuk cukup dalam di pikiran dan hati beta serta menyingkap horizon berorganisasi dan berkepemimpinan beta.
Kembali pada point pengantar tulisan singkat ini yakni "perubahan", maka menjadi pemimpin pada organisasi pemuda membutuhkan kecerdasan membaca situasi, fleksibel dalam mengelola prinsip serta keyakinan argumentatif dan mahir memposisikan diri guna menyesuaikan pola kepemimpinannya atas dinamika situasi yang terus bergulir.
Syarat lain yang tidak kalah fundamental adalah kecakapan mempelajari lingkungan dan konteks secara terus-menerus untuk dijadikan patokan presisi pengambilan keputusan. Ini harus menjadi semacam konstitusi mental dari setiap pemimpin organisasi pemuda. Mengapa penting, adalah supaya dia dapat memimpin secara efektif.
BAGAIMANA JIKA PEMIMPIN MULAI MALAS MEMBACA?
Sebagai orang yang tahu dan pernah merasakan berapa besar manfaat belajar yang salah satunya dibangun melalui metode membaca dan kini menjadi semacam habituasi diri, beta sulit membayangkan bagaimana suatu organisasi mencapai orientasinya dan menjaga kelangsungan hidupnya jika kompromis secara longgar terhadap ciri hidup pemimpinnya yang jarang bahkan malas membaca. Tentu saja kerugian akan terjadi secara simultan baik terhadap pemimpin itu sendiri dengan domino effect pada organisasi. Mengapa? Sebab dia akan menjadi pemimpin yang "felt lost". Tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam fungsinya sebagai pemimpin dikarenakan kehilangan wawasan dan pengetahuan. Padahal pengetahuan itu penting untuk mengambil keputusan yang tepat demi kemaslahatan anggota dan masa depan organisasi yang dipimpin.
Pemimpin yang kurang berwawasan cenderung mudah limbung/goyah prinsip-prinsipnya ketika disusupi pengaruh informasi bias dan berimplikasi de-kompetensi. Kepemimpinannya menjadi rentan rapuh, loss of integrity, punya potensi negatifis dan anti kritik.
Selain dari hal-hal ini, kemalasan untuk membaca juga dapat mengakibatkan pemimpin fell behind terhadap kemajuan dalam hal inovasi dan kehilangan kemampuan untuk berubah sesuai perkembangan zaman. Lemah dalam membangun daya imajinasi dan ide-ide visioner, yang strategis dan berjangka panjang bagi organisasi dan progres leveling kepemimpinannya menuju fase yang lebih tinggi lagi. Bobot pengaruh dari kepemimpinannya tidak signifikan untuk menata dan mengasah keterampilan komunikasi dan relasi sosial organisasi untuk menghadapi tantangan sekaligus menginspirasi anggota-anggotanya.
Pada giliran akhirnya, pemimpin yang tidak lagi belajar dan mengaktivasi diri melalui membaca, berisiko menciptakan kegagalan kepemimpinan yang merugikan organisasi sebab telah memboroskan resources organisasi untuk melahirkan dan membesarkan pemimpin yang tidak ada manfaatnya.
PENUTUP.
Teruslah "adaptif", tapi jangan lupa untuk selalu merasa kapasitas yang ada saat ini sesungguhnya belum selesai apalagi paripurna. Karena itu, tetaplah membaca dan belajar di bawah naungan "kerendahan hati."
Tuhan memberkati!
No comments:
Post a Comment