Saturday, May 17, 2025

"KEBETULAN" DALAM PESONA PEMIKIRAN TIGA FILSUF (Karl Popper, Aristoteles dan David Hume)

Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy. 


Sore tadi, sepulang kegiatan repetisi paduan suara yang berlangsung di Kapel Rehuel Rumah Sakit Immanuel-Bandung, sekaligus adaptasi dengan musik piano karena besok pagi akan bertugas sebagai pianis pengiring nyanyian jemaat di kebaktian minggu, beta dan Mami! Sendy Natalia Sahilatua, perempuan maha cantik di muka jagat raya, melalui jalur Cinaduyut. Beberapa meter mendekati persimpangan, laju motor sengaja beta diturunkan disebabkan kepadatan temporal, efek pengaturan arus lalu lintas. Saat bersamaan, di depan kami berdua ada jenis mobil SUV bermerk T*y*ta R**h, yang juga berhenti.  Pada kaca punggung mobilnya menempel stiker bertuliskan kalimat "You'll Never Walk Alone".
Apakah momentum adanya dan terbacanya kalimat ini hanya suatu kebetulan? Entahlah. 

Tiba di rumah, tv merk P****ron sementara dalam mode menayangkan serial kartun anak "M&tB", ditonton oleh si bungsu, Immanuel Amie Gracelly "besi tua" (pasalBESSY-sahilaTUA). 
Kebetulan serial milik Animaccord Animation Studio Rusia yang menampilkan starting tema petualangan ber-laku humor antara Masha (bocah energik) dan Beruang (teman penyabar dan baik hati) itu sedang menayangkan versi english language.

Sekilas ikut menonton sembari mencandai Amie, beta dengar lentingan instrumen pengantar plot yang dikenali sebagai anthem Piala Dunia FIFA 1994, perhelatan yang melahirkan Brazil sebagai the winner of the competition. Apa lagi jika bukan lagu berjudul "We Are the Champions?"
Apakah momentum terdengarnya instrumen "We Are the Champions" ini juga hanya suatu kebetulan? Entahlah.

Menariknya adalah, ternyata baik kalimat "You'll Never Walk Alone" maupun "We Are the Champions" tampil dalam beberapa wujud dan karakteristik serupa, yaitu:
- Sebuah lagu (yang mengandung sugesti massa);
- Dipakai dalam event olahraga (sebagai pemantik adrenalin kompetisi seorang atlet dan spirit dukungan suporter);
- Bersifat iconic karena mengandung lokus makna pada identitas dan historis suatu tim (jika lagu "You'll Never Walk Alone" populer sebagai lagu kebanggaan klub sepak bola Liverpool FC, sebaliknya lagu "We Are the Champions" menandai landmark musical dalam sejarah FIFA dan Brazil). 
- Kedua lagu itu sama-sama membangun meta meaning tentang harapan, kekuatan, dan dukungan dalam menghadapi, menerobos dan mematahkan kemustahilan untuk kemudian mengubahnya jadi keniscayaan.

Menjadi amazing adalah diciptakannya lagu "We Are the Champions" yang merupakan salah satu single dalam album keenam milik Queen bertajuk "News of the World" itu, punya sumbu inspiring atau semacam ilham kreatif pada lagu "You'll Never Walk Alone"

Apa yang menjadi alasan Fredy Mercury menciptakan lagu itu juga cukup mengagumkan sebab dimaksudkan untuk menginstrumentasi suasana yang mengandung pesona identitas melalui notasi dan syair yang mampu mengkristalisasi fanatisme massa serta merawatnya dalam tempo yang lebih permanen. Suatu karya epik yang ternyata berhasil bukan hanya pada level eksistensi Queen semata melainkan mendunia dan menyejarah. 

Mercury mendalami secara serius karya Richard Rodgers dan Oscar Hammerstein II untuk kemudian menulis lagunya. Sebaliknya, "You'll Never Walk Alone" sendiri diciptakan oleh Rodgers dan Oscar untuk musikal "Carousel" pada tahun 1945, yang merupakan adaptasi dari drama "Liliom" karya Ferenc Molnár.
Alur ini memperlihatkan adanya sesuatu yang bersifat eksponensial. Dari Liliom menuju You'll Never Walk Alone dan berakhir di We Are The Champions. 

Jadi apalah perjumpaan antara judul lagu "You'll Never Walk Alone" dengan instrumen lagu "We Are The Champions" dengan beta hari ini adalah sebuah kebetulan belaka? 

Narasi "kebetulan" dapat dijadikan pokok telaah melalui berbagai perspektif ilmu semisal teologi, filsafat, dan ilmu-ilmu lain yang taken for granted berfokus pada pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang keberadaan, pengetahuan, nilai-nilai, dan hakikat realitas dimana "kebetulan" terobjektifikasi didalamnya seperti epistemologi, hermeneutika, logika, ontologi, etika hingga antropologi filsafat. 

Khusus pada tulisan ini beta gunakan beberapa kategori yang elementer dari filsafat sebagai frame guna mencoba memahami fenomena "kebetulan." Beberapa diantaranya adalah:

A. "Kebetulan" DALAM PANDANGAN INDETERMINISME. 
Adalah filsuf Karl Popper yang berpendapat bahwa alam semesta (beta memaknainya termasuk 'segala kejadian' di dalamnya) mengandung elemen indeterminisme atau ketidakpastian yang membuka kemungkinan pada keacakan yang sarat oleh "kebetulan."
Banyak jejak karya pemikiran Popper yang dikemukakan dalam kerangka mengembangkan konsep "kecenderungan" (propensity) yang pada intinya menjelaskan bagaimana "kebetulan" muncul dalam suatu sistem. Kecenderungan-kecenderungan mana dapat dijangkau oleh kajian menggunakan teori probabilitas, sekalipun prediktabilitas atas hasilnya cenderung samar.
Pandangan ini mengukuhkan Popper sebagai kontributor penting dalam memahami konsep "kebetulan."

B. "Kebetulan" DALAM PERSPEKTIF KAUSALITAS. 
Fenomena "kebetulan" dalam perspektif kausalitas, diintroduksi oleh filsuf barat jaman klasik yang cukup besar yaitu Aristoteles. Dalam hal ini kausalitas di tempatkan pada kuadran pembeda yang masing-masing adalah material, formal, efisien, dan final.
Menurutnya, "kebetulan" (dia menggunakan konsep "tyche") dimungkinkan terwujud apabila terjadi interaksi antara keragaman kausa-kausa namun level probabilitasnya unpredictable.
Aristoteles mengajukan pandangannya bahwa "kebetulan" dapat terjadi pada proses alam, seperti cuaca atau pertumbuhan tanaman, serta dalam tindakan manusia, seperti keputusan atau peristiwa yang tidak terduga.
Selain konsep "tyche", Aristoteles juga mengajukan konsep "eutychia" yaitu kesempatan dan menyebutnya sebagai "kebetulan yang menguntungkan"

C. "Kebetulan" DALAM KONTES PROBABILITAS DAN INDUKSI. 
Punggawa pandangan ini adalah David Hume. 
Bila kita menelusuri karya-karya bertajuk epistemologi dan filsafat sains, mudah menjumpai konsep probabilitas dan induksi yang terkait dengan fenomena "kebetulan."
Melalui probabilitas, Hume berpendapat, adalah mustahil untuk dengan yakin berkata bahwa kita bisa tahu tentang masa depan selain menggunakan tool prediksi past experience. Pernyataan ini membuka ruang eksistensi makna pada fenomena "kebetulan" ketika mencoba menjangkau masa depan atau ketika mengalami gejala-gejala tertentu yang nampak berkaitan. 
Selain probabilitas, Hume juga mengajukan konsep induksi dalam memahami fenomena "kebetulan." Bahwa dengan jalan induksi, kita dimungkinkan membuat generalisasi tentang alam semesta berdasarkan pengalaman masa lalu. Dalam hal ini, induksi sebetulnya kehilangan pijakan pembenaran logis, meski demikian dapat dipergunakan membuat prediksi yang probabilistik.
Untuk menutup ulasan atas pikiran Hume, beta ingin menyitir bahwa
Hume mengingatkan kita supaya selalu menyadari bahwa ada kemungkinan "kebetulan" disamping ketidakpastian.

Dan, untuk menutup paksa tulisan ini (karena mata mulai mengantuk) beta berenung ulang untuk menginsafi bahwa peristiwa perjumpaan dengan "You'll Never Walk Alone" dan "We Are The Champions" adalah anugerah yang memungkinkan beta memperluas jangkauan informasi dan horison pengetahuan yang berharga, sekaligus menikmati kebesaran Tuhan dalam mata (yang melihat tulisan), telinga (yang mendengar), tangan (yang mengetik), otak (yang bernalar untuk bernarasi) dan tubuh yang akan terus menikmati realitas di hari-hari mendatang entah itu sebagai "kebetulan" ataupun keniscayaan yang datang dari kepastian skenario "Pemilik Tahta Langit Suci"

Selamat istirahat malam!!! 

Monday, May 5, 2025

TIKUS, OBJEK PATOLOGI MORAL HOMO SAPIENS.

Penulis: Hendry Pasalbessy. 

Ada dua trigger yang mereaksi lahirnya tulisan ini. KESATU; beberapa hari ini Immanuela, anak saya, terus meminta diajari notasi untuk lagu karya I'Fals (tikus-tikus berdasi), dan KEDUA; salah satu quote pada kolom WhatsApp grup yang setelah di baca, mengandung makna hiperbolik. Bunyinya begini:
"... percuma seseorang berusaha menjadi orang kaya secara materi namun dia miskin  secara moral. Hal itu membuatnya nampak tidak berbeda dengan SE-EKOR TIKUS." (kalimat ini telah saya parafrase). 

Sekalipun objek yang di sasar sama yakni TIKUS, perbedaan diantara keduanya nampak jelas. Setidaknya pada muatan daya critical thinking yang menyertai kedalaman kesadaran. TIKUS, barangkali hanya dimaknai Immanuela sebatas kata dalam lagu sementara quote di atas adalah narasi kuat yang sarat makna satire.

Reflektor kimiawi pada otak saya bereaksi memunculkan pertanyaan, "selain disebabkan fitrah otentik homo sapiens dalam diri kita yang tentu saja bukan spesies TIKUS, apakah dengan predikat sebagai agen aktualisasi nilai dan tindak-tanduk moralitas, anugerah posisi puncak tertinggi lapisan piramida keagungan spesies memberi kita alasan untuk meng-under estimate nilai, makna dan kegunaan aktual satwa TIKUS?

Atau sebaliknya, mungkin ini bukan tentang TIKUS melainkan pengaruh kesadaran figuratif-subjektif yang meng-undermind pada peta mental kita manusia kemudian mencuat dalam pola pikir dan pola narasi. Suatu kemapanan yang sampai-sampai untuk mengekspresikan gejala patologi mental pun butuh sarana bagi bullseye prejudice (pembiasan sasaran kritik). Tepat di sinilah TIKUS disematkan. 

TIKUS, tentu saja tidak mempersoalkan moralitas pada manusia sebab hidupnya tidak menggunakan dan diatur dengan mekanisme moral kemanusiaan, apapun itu (tidak memikirkan, tidak merasakan sensasinya dan tidak dapat memaknai dengan modal naluri yang dimilikinya). Terlebih lagi, bukankan spektrum moralitas hanya bersentrifugal pada poros relasi antroposentrik? Sesuatu yang tidak dianugerahkan alam kepada spesies lain termasuk TIKUS.

Tapi perlukah bentuk-bentuk kesopanan kritik homo sapiens menempatkan TIKUS jadi objek pelampiasan? 
Jika TIKUS dipandang cukup akomodatif dan fungsional dijadikan sasaran penyamaran kritik moralitas manusia, kira-kira, pengalaman anteseden mana dapat dipakai membuktikan bahwa TIKUS itu species yang tidak bermoral hingga paralel dan sederajat dengan "orang kaya tidak bermoral? Atau tikus yang berdasi dan karena itu tidak bermoral?" (jika hewan tersebut dianggap punya atau pernah punya hal itu)?

Sampai di sini, saya berkesimpulan bahwa argumen hiperbolik yang kerap kali kita kumandangkan sambil menginferiorisasi posisi hewan, tidak lain perwujudan peneguhan keangkuhan spesies  yang terlampau sentristik oleh kita sebagai homo sapiens! ARGUMEN INI SEKALIGUS MENJADI KRITIK YANG JUGA BERLAKU UNTUK SIKAP DAN PANDANGAN-PANDANGAN SAYA. 

Padahal jika kita dalami, ada banyak yang dimiliki hewan termasuk TIKUS yang tidak kita miliki yang langsung atau tidak langsung berguna menunjang mobilitas survive evolusi kita.

Pikiran saya masih sangat fresh  melintas di atas lembar-lembar bukunya Yuval Noah Harari, "Homo Deus: A Brief History of Tomorrow", yang saya baca kurang lebih dua bulan lalu, yang intinya mengisahkan bagaimana prediktabilitas eksistensi manusia pada bentangan sejarah ternyata turut ditentukan oleh keterlibatan TIKUS pada dinding-dinding eksperimental laboratorium. TIKUS kemudian sukses menjadi salah satu episenter penentu kebertahanan hidup manusia di masa lampau serta berhasil menjamin kelangsungan evolusi homo sapiens menuju masa depan dengan lebih baik dan presisi terhadap beberapa resiko fisikal. 
Artinya tanpa beban penilaian moralitas manusia, TIKUS telah memberi sumbangsih kepada tautan makna kemanusiaan setiap manusia yang bergelut dengan berbagai situs moral, situs intelektual dan lain-lain.

Beberapa pencapaian dalam dunia manusia terbukti digapai melalui usaha menjadikan TIKUS sebagai landmark historis, entah itu pada dunia ilmu pengetahuan, dunia medis, pertanian, ataupun beberapa peran ekologis luas yang pada gilirannya menentukan keseimbangan ekosistem dan biodiversitas dimana manusia hidup bersama dan di atasnya. Artinya TIKUS dalam fungsinya yang eksisting bagi sejarah manusia justru menolong memperkokoh basis moralitas, etika dan kapasitas hidup manusia, bukan sebaliknya beban atau ancaman semata-mata sehingga pantas dijadikan sasaran analogi dekadensi moral manusia.

Saya rasa dengan keunggulan pembeda berupa tingginya kapasitas kognitif dan rasionalitas yang kita punyai, penghargaan bahkan penghormatan pada nila-nilai intrinsik semua makhluk perlu selalu diselaraskan dengan motif aktualisasi citra dan fitrah kemanusiaan kita.

Bahwa perspektif antroposentrisme kita tidak harus berjalan melalui koridor kenaifan pandangan spesiesisme karena dengan keunggulan pada kita ada tanggung jawab mengupayakan  keselarasan eksistensi makhluk.

Bahwa TIKUS dan sejumlah spesies pesticides lainnya pada satu kenyataan cukup  merugikan manusia, itu bukan alasan pelampiasan kemarahan manakala terjadi defisit nilai moralitas pada dunia manusia. 

Yang pasti jika hari ini manusia telah berhasil mencapai anak tangga yang menjulang tertinggi dalam upaya pencapaian keabadian (perspektif Yuval N. Harari) di situ ada juga peranan TIKUS yang tidak berurusan dengan kritikan moral di antara sesama manusia.

Jika ini bukan tentang menilai hewan melainkan murni ragam pola menginduksi kesadaran moral pada jalan-jalan kemanusiaan kita yang diharapkan secara distingtif semakin mengangkat harkat, nilai dan esensi hidup spesies manusia, saya tetap ingin mengingatkan kepada yang gemar mencantolkan narasi dan diksi moralitas agar berhati-hati menggunakan pisau bermata dua ini, terutama ketika hendak mengkonstruksi atau mendekonstruksi struktur realitas sosial manusia yang dijumpainya. Artinya, kita jangan gampang menjadi latah untuk menilai seseorang dari sudut moralitasnya.

"HenPas (akronim mana saya), perlu kiranya berhati-hati dalam tindakan-tindakan advokasional berbasis moralitas karena kita menyaksikan banyak pejuang moral yang ketika bergerak sampai ke ujung justru jatuh terjerembab pada lobang jebakan moral yang digali dengan tangannya sendiri." Begitulah saya berucap  untuk menasehati diri sendiri. 
Salam!