Sunday, November 3, 2024

AKSESIBILITAS LEMBAGA AD-HOC ANTARA DUA ARUS UTAMA ORGANISASI.

Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy. 
_____________________


Disclaimer:
Tulisan ini murni hasil kodifikasi pemikiran saya secara bebas serta tanpa dilapisi pembobotan scientific. Karena itu tidak cocok dijadikan rujukan penulisan akademik karena tidak menyertakan sumber-sumber metodologis yang terverifikasi. Meski demikian saya pastikan kontennya punya alur pada pengetahuan yang bisa di uji karena itu cukup pantas digunakan sebagai pengayaan tambahan untuk pendalaman pemahaman para pembaca...(Penulis). 


Keseharian aktifitas pada lintasan kelangsungan hidup setiap institusi yang berpostur dan berwawasan formal (administratif-yuridis) atau dengan kalimat lain organisasi yang berlandaskan aturan dan mekanisme yang dibuat dan disepakati untuk ditaati bersama, biasanya ditandai adanya proses-proses organisasial yang terselenggara dalam koridor sistem tata gerak (teratur, terukur, sistematis, presisi, orientable, dan direct to goal). 


Sistem tata gerak dimaksud terwujud dalam, antara lain: program, kebijakan, anggaran, struktur, uraian tugas personil dan mekanisme, hirarki otoritas, hak, kewenangan, kewajiban, dan masih banyak lagi jika seluruh unsurnya diuraikan.


Salah satu yang khas dalam cakupan praktek lembaga formal adalah style pengelolaan program berbasis instrumentasi alat bantu atau support sub struktur pada wilayah respon yang terbatas, jangka waktu temporatif pendek dengan tujuan yang tunggal.
Sederhananya, pembentukan panitia atau Tim kerja atau komisi dan sebagainya, --bergantung nomenklatur yang dipilih atau di atur. 


Sebagai sub struktur, lembaga ad-hoc (panitia, atau Tim kerja dan lain-lain) merupakan "entitas private to supra structur". Artinya, padanya ada kewajiban di lintasan bottom-up yang tidak boleh di distraksi dari dalam lembaga ad-hoc jika anasirnya tidak dimediasi oleh uraian tugas atau oleh sesuatu bernuansa urgensitas tinggi yang mewajarkan kemungkinan permit by eccident. 


Mempertanyakan dan mempersoalkan tanggungjawab pada kompas ordinat yang berisi pertanggungjawaban lembaga ad-hoc terhadap suprastrukturnya (induk senang dalam logika species) adalah kerancuan bernalar. Alasannya sederhana; semua lembaga ad-hoc lahir di bawah payung kewenangan, instruksi dan pengambilan keputusan (decision making) suprastruktur guna mem-breakdown ide, orientasi dan sasaran kerja suprastruktur. Laporan berkala dalam berbagai bentuk dan timing, konsultasi dalam berbagai wujud serta media, demikian juga pelibatan peran, menjadi kewajiban lembaga Ad-hoc kepada suprastruktur selaku lembaga struktural tingkat atas langsung.


Apa yang dikemukakan diatas merupakan pencitraan dari adanya bentuk organisasi formal berciri klasik-konvensional. 


Sebagai kombinasi antagonik atau paradoks melalui tampilan diametral terhadap bentuk organisasi klasik-Konvensiona, kita juga menjumpai organisasi yang bergerak dengan menggunakan perspektif manajemen modern. Sel-sel organik semacam ini umumnya bergerak lebih fleksibel, termasuk dalam hal memberi ruang aktualisasi pada lembaga-lembaga ad-hoc yang dibentuknya. Alasannya adalah "kesadaran tujuan".


Dalam pandangan orgaisasi-ornanisaai modern, maksud diadakannya setiap lembaga ad-hoc tidak lain mengoptimalkan efisiensi pergerakan organisasi guna pencapaian tujuan dengan mendayagunakan resources mekanisme ad-hoc. Pilihan ini diyakini lebih ringan baik pada aspek waktu, biaya, pemborosan sumberdaya dan tentu saja hasil. 


Jika dalam perspektif pertama diatas titik tekannya ditempatkan  pada ketegasan posisi hirarkis dan konstitusionalisasi seluruh tindakan operasional, artinya ada relasi top-down - bottom-up yang cukup kuat, maka sebaliknya yang diusung organisasi dengan perspektif kedua berpenekanan pada kolaborasi.


Core orientasi perspetif pertama adalah "process and mechanism" dengan pengarusutamaan fungsi-fungsi direktif, sementara yang ke dua adalah "result" dimana unsur terpenting yang dijadikan arus utama adalah transposisi dalam kesalingpahaman. 


Meta meaning pengadaan  lembaga ad-hoc oleh organisasi klasik-konfensional adalah perluasan otoritas lembaga supranatural dalam batas tertentu (jadi kewenangan tetap dikendalikan secara ketat) sementara dasar pijak organisasi modern adalah trust pada kompetensi sehingga ada pembebasan gerak yang memungkinkan terjadinya  aksentuasi kreatif yang terkadang tanpa pola dan alur namun tetap fokus ke tujuan.


Situasi ini membedakan secara keluar sekaligus mempengaruhi secara ke dalam bagaimana komponen-komponen lembaga ad-hoc memilih mengambil tindakan dalam konteks kedua organisasi yang telah saya jelaskan. 


Lebih jauh, jika dipelajari bersama, umumnya jenis organisasi yang mempraktekkan style atau cara pandang klasik-konvensional banyak dijumpai pada organisasi yang punya basis keanggotaan riil dalam komposisi kuantitatif yang sedang hingga besar. Bersifat bukan lembaga non profit, punya seting garis komando-koordinasi pada landscape bagan struktural dan memiliki pedoman tindak organisasi yang komplek sehingga rigit bergerak. 


Sementara jenis organisasi yang menerapkan gaya atau cara pandang kedua (modern) mudah ditemukan pada organisasi yang pendek rantai komandonya, sedikit bahkan tidak memiliki basis keanggotaan selain tenaga-tenaga volunteer, memiliki "code of conduct" yang bersifat sederhana (baik dari segi internal meaning, substansi, esensi dan interpretasinya). Selain itu  cenderung bergerak fleksibel tanpa acuan garis komando yang ketat. Aturan-aturan baku yang mereka identifikasi dan kenali sebagai model praktek organisasi klasik, di asimilasi dan diadaptasi dengan norma-norma modernitas yang lebih baru, simpel dan kenyal dengan membaca kecenderungan orientasi peradaban sehingga adaptif digerakkan menuju tujuan. 


Kiranya tulisan sederhana ini membantu membuka wawasan pembaca sekalian, dan sebagai komplemen disclaimer saya di awal tulisan hendak disampaikan bahwa, saya memiliki epistemic standing yang mudah-mudahan memadai yang melatari otoritas seluruh isi tulisan di atas. Yakni, karena bersumber pada latar disiplin ilmu yang ditekuni ketika berkuliah (Ilmu Administrasi dan Ilmu Pemerintahan). Serta, pengalaman panjang hampir 30 (tiga puluh tahun) berorganisasi pada  berbagai model organisasi profit maupun non-profit , mulai dari organisasi pemuda level nasional, organisasi keagamaan, organisasi kemahasiswaan, beberapa paguyuban berwawasan kultural, bahkan beberapa patembayan yang konsen pada wacana sosial kritis masyarakat yang sifatnya temporal. Dan, pada hampir seluruh organisasi ini saya menempati peran dan fungsi yang cukup otoritatif untuk men-drive sistem dan struktur.
SALAM! 


______________
Posting (Senin, 5 November 2024)....

Tuesday, October 1, 2024

KEBENARAN (Realitas dan Jenisnya)

Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy. 

Kebenaran di era disruptive sekarang ini sudah tidak lagi tunggal dan searah (linear) pada hukum proposisi jika-maka. Hal ini menyebabkan kebenaran yang dipegang seseorang mudah dikonfrontasi atau bahkan di kontestasi oleh kebenaran versi orang lain sekalipun tanpa landasan verifikasi memadai. Kenyataan ini bahkan mengangkat harkat hoax secara absurd pada perspektif tertentu dan dimaknai sebagai kebenaran atau dipandang sebagai "kebenaran alternatif".

Parahnya adalah keadaan ini telah menjadi keseharian kita semua. 
Lalu bagaimana KITA menyikapinya? Rumus paling sederhana tapi sekaligus sulit adalah "terus belajar dan mengasah kekritisan" terutama pada spektrum menilai, memilih dan memutuskan apa atau mana yang mana yang pantas dianggap kebenaran serta patut dijadikan acuan. 

Untuk bisa menilai serta memutuskan di atas landasan keyakinan terhadap apa yang dianggap kebenaran, seseorang perlu mengenali secara baik jenis-jenis kebenaran. Di dalam hal ini, setidaknya ada banyak sekali jenis kebenaran yang telah dikenal orang banyak, dan beberapa diantaranya yang bisa disampaikan pada kesempatan tulisan ini, antara lain:


1. Kebenaran religius. 
Kebenaran religius adalah jenis kebenaran yang dibangun berdasarkan kaidah agama atau keyakinan tertentu. Istilah lain untuk jenis kebenaran ini yakni "kebenaran absolut". Suatu kebenaran yang tidak terbantahkan.


2. Kebenaran filosofis.
Kebenaran filosofis adalah jenis kebenaran yang dihasilkan melalui suatu proses perenungan atau kontemplatif terhadap hakikat dari sesuatu. 
Kekhasan dari jenis kebenaran ini adalah sekalipun pada umumnya pandangan kebenaran mengandung aspek subjektif namun anasir subjektivitas dan relativitas pada kebenaran filosofis benar-benar kokoh.


3. Kebenaran estetis. 
Jenis kebenaran ini berpaut pada kesadaran akan nuansa artistika atau seni. Kebenaran ini melandaskan postulatnya pada penilaian indah atau buruk. 


4. Kebenaran ilmiah. 
Ini jenis kebenaran rasional, ditandai terpenuhinya melalui syarat-syarat ilmiah yang difasilitasi oleh bukti empiris, hasil pengukuran objektif yang disesuaikan dengan data dan fakta.


5. Kebenaran pengetahuan mutlak. 
Kebenaran pengetahuan mutlak adalah kebenaran yang tidak berubah dan ada pada hakikat dirinya sendiri.
Adakah orang berpengetahuan yang dapat mengatakan bahwa matahari tidak panas? Tentu tidak, dan kesimpulan ini datang dari  kebenaran pengetahuan yang bersifat mutlak. 


6. Kebenaran relatif. 
Ini tergolong kenenaran yang anstationery. Kebenaran yang berubah-ubah, tidak tetap. Suatu kenenaran yang masih dapat dipengaruhi hal lain di luar hakikat dirinya.

Selamat membaca... 

Wednesday, July 17, 2024

KEMAHAKUASAAN TUHAN.

Oleh: Pdt. Sendy N. Sahilatua, S.Si, Pc


Cerita tentang *Kemahakuasaan Tuhan Yesusku hari ini*

(Hari ini, Selasa, 16 Juli 2024) Seperti biasa, jam berakhirnya dinas saya adalah pukul 15:30. Saya keluar dari RSI sekitar pukul 15:52 menuju kantor KSP Bahtera, karena ada rapat Pengawas pada pukul 16:00. Rapat kami berakhir pukul 18:10, dan sekitar pukul 18:20 kami bersiap untuk pulang setelah mengunci ruangan rapat dan pagar kantor KSP Bahtera.
Suami saya sudah menjemput tepat di depan kantor KSP Bahtera. Sebenarnya badan ini letih dan ingin langsung pulang ke rumah, tetapi entah kenapa saya tergerak hati dan berkata, "Pi, bolehkah Mami ke HCU/ICU dulu? Hari ini belum sempat mengunjungi pasien HCU/ICU karena padat sekali dengan rapat dan beberapa tugas lain." Tanpa keberatan, suami saya mengiyakan, mengantarkan saya masuk kembali ke RS Immanuel, dan berkata, "Papi tunggu di Poliklinik aja, Mami jangan kuatir"

Masuk ke lobby Alkema Lantai 1, saya menjumpai security (Pak Wahyu) dan menanyakan posisi tempat duduk keluarga pasien, termasuk 1 orang keluarga pasien yang sedang menunggu di dekat tangga dan kaca. Pak Wahyu mengatakan, "Itu keluarga pasien baru Bu, baru masuk dari IGD". Saya lalu menanyakan nama pasien dan dijawab oleh Pak Wahyu, "Nama pasiennya Ferison". Setelah mengecek data pasien yang sempat saya save siang tadi saat rapat dan tak menemukan nama tersebut, saya lalu membuka sistem informasi RS melalui telepon seluler dan tertera nama *Ferison Andreas C A*. Sontak saya terkejut karena mengingat ini nama suami Bu Vini (pegawai IKI, yang saya kenal baik saat diperbantukan di STIKI pada Januari 2012-Juli 2013). Karena tak memakai kacamata, saya memang tak mengenali bahwa yang sedang duduk di dekat tangga dan kaca itu adalah Bu Vini. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Pak Wahyu, saya bergegas menuju tempat duduk Bu Vini dan bercakap-cakap tentang kondisi Pak Ferison juga pengalaman kakak saya yang pernah mengalami serangan jantung, lalu di akhir percakapan itu kami berdoa. 40 menit yang berharga (sejak pukul 18:30) Tuhan berikan untuk mendampingi Bu Vini. 

Malam ini pukul 21:13 Bu Vini memberi kabar tentang kebaikan dan kemahakuasaan Tuhan Yesus, melalui pesan WA:
Amin ..amin.. amin... Trima kasih Ipen Sendy u smuanya ... mujizat Tuhan nyata u Ayah. Tuhan Yesus sungguh baik...hasil Angiografi penyempitan 30% jadi tidak harus pasang ring. Kemudian yang sebelumnya di diagnosa ada penyumbatan, sekarang terhempas hilang entah kemana...vini jiga ingat apa yang diceritakan tadi tentang 1000:1, kejadiannya persis seperti yang kami alami.

Membaca pesan Bu Vini, batin ini bertutur: "Terima kasih ya Tuhan, sebab Engkau menuntun hati dan langkah ini untuk melangkah kembali ke RS Immanuel (hal yang jarang sekali terjadi, karena memang sudah bukan jam dinas) untuk meneguhkan iman dan pengharapan Bu Vini dan keluarga dalam pergumulan. Terima kasih karena satu lagi kemahakuasaan-Mu nyata dalan hidup dan karya melayani ini. Segala kemuliaan hanya bagi-Mu"

Monday, January 1, 2024

PENGALAMAN BER-PADUAN SUARA DAN APA YANG DIDAPAT

Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy. 


Vibrasi historis terasa menggetar halus di benak imajinasi. Mem-visualisasi horizon-horizon memorial yang sejenak mengantarkan beta kembali menelusur ke masa awal bersentuhan serius dengan baris-baris notasi partitur lagu Paduan Suara (kurang lebih di antara usia 11 atau 12 tahun). 

Di masa itu, sebagai Jemaat muda hasil pemekaran dari Jemaat GPM Rehoboth --di Klasis Pulau Ambon-- dinamika Nehemia memperlihatkan begitu banyak bibit muda potensi sumber daya manusia bagi masa depan Jemaat, termasuk anak-anak Sekolah Minggu/Tunas Pekabaran Injil (SM/TPI) yang berbakat di bidang seni tarik suara. 
Dalam situasi ini maka memperoleh kesempatan menjadi anggota paduan suara bukan hadiah yang dapat diperoleh dengan mudah melainkan resultan kompetisi. Harus demikian karena banyak anak seumuran beta dengan potensi suara yang hebat-hebat pun punya kesamaan hasrat. Anak-anak Sekolah Minggu di Benteng hingga Gunung Nona ketika itu memang punya kualitas vokal luar biasa.

Lolos melalui seleksi vokal oleh Pelatih Paduan Suara dan "Pengasuh" (guru Sekolah Minggu) dan di nilai punya karakteristik dan modulasi vokal yang kompatibel dengan jenis suara tinggi, kemudian "beta dapa taru" (saya ditempatkan) di kelompok suara tenor. 
Sejak itulah, beta menikmati berlayar dalam improvisasi momen-momen olah nada.

Dari Paduan suara anak dan remaja, merambah ke paduan suara dewasa Jemaat, Paduan suara PELPRI (Pelayanan Pria/Kaum Bapak) Jemaat serta Klasis Pulau Ambon, paduan suara universitas Pattimura dan beberapa paduan suara lain.

Lompatan-lompatan pengalaman Ini, beta rasakan menjadi bentangan horizon luas yang memberi jalan memasuki suatu fase yang rupanya membentuk beta dalam setidaknya dua hal:
1. Sense dan bakat musikalitas. 
2. Performance Kepemimpinan Organisasi. 


Bahwa ternyata tumbuh melalui Paduan Suara membentuk ciri musikalitas beta di kemudian hari hingga hari ini. Beberapa anugerah kecil yang lahir darinya nampak melalui fasih membaca partitur lagu, --meski tentu jauh dari jago apalagi menyentuh level beberapa pelatih hebat yang pernah men-train beta.
Dalam nuansa melankoli, ingin menyampaikan Terima kasih kepada mereka (Om Teko Siahay, Om Beng Yohannes, Ibu Merry Matayane, Ibu Merry Soissa, Om Nyong Tuanakotta, hingga Ronny Loppiesz). Tidak lupa Minggus Sahuburua (ketika beta aktif menjadi anggota paduan suara mahasiswa Unpatti). Beberapa di antara mereka memang telah "berpulang".

KEDUA: terasa ada percikan sense of art yang tercetus dari dalam diri. Nampak lewat pengalaman membikin lagu berbasis notasi partitur meski tidak satupun yang menyentuh exposure di ruang publik karena mungkin minus intuisi entertain selain ciri musikalitasnya tidak mampu menjawab selera masyarakat umum.
Sedikit kemampuan bermain beberapa jenis alat musik, rasanya juga datang melalui pengetahuan berpaduan suara.

Lebih dari itu, Paduan Suara kiranya punya sisi hebat lain yang karena mampu menavigasi arah moral dan karakter seseorang jika orang itu eksis secara konsisten dalam interval waktu yang panjang bersama Paduan Suara. Dan itu setidaknya yang beta alami sendiri. 

Banyak aspek edukasi hidup yang menempa profil seorang penyanyi Paduan Suara dan turut mengaktivasi kecerdasan kepemimpinannya. 
Sekelumit diantaranya yakni:

1. Syarat paling dasar memulai bernyanyi sebagai paduan adalah "attaching".
Pengambilan not pertama, oleh beberapa orang pelatih dianggap nyawa kepelatihannya dalam men-train suatu paduan. bahkan ada juri perlombaan yang memandangnya sebagai "Diamond of musical note' di antara tumpukkan angka dalam perjalanan di atas partitur suatu lagu.

Pengalaman mengikuti beberapa perlombaan mengajarkan bahwa attaching kitalah yang menentukan juri memutuskan apakah menggenggam pena (berarti dia akan mengoreksi bias bidik nada yang terdengar) atau tersenyum kagum dalam anggukkan kepala (tanda memuji kesempurnaan bidik nada yang dilakukan). 

Apa yang ada di satu not pertama itu? Tidak lain dari kelembutan, kesatuan dan keharmonisan tim, ketepatan bidik hingga rasa konfiden setiap penyanyi. Dan, itu adalah wujud penghormatan kepada jiwa sebuah lagu yang wajib ditampakkan.
Artinya satu not saja dalam partitur telah melatih seorang penyanyi dalam sejumlah hal. Tentang kepekaan, tentang tidak egois untuk terlalu dominan, tentang menghargai kapasitas orang di sekeliling, punya sense reaktif yang presisi, memahami secara tepat dan percaya diri.
Artinya satu not saja dalam struktur partitur mengungkap  substansi-substansi leadership secara baik dan terukur.

2. Unisono. Natur setiap paduan suara yang sungguh-sungguh berorientasi seni menyimpan berbagai teknik dalam mengekspresikan emosi serta mentransformasikannya kepada pendengar. Ekspresi ini nampak melalui teknik penyatuan suara atau dikenal dengan istilah unisono. Teknik ini mengajarkan bahwa baik sajian maupun lantunan not-not dalam partitur lagu tidak hanya tentang pembagian yang harmonis (Soprano, Tenor, Bariton, Bas, Alto, dan sebagainya) tapi juga tentang kesatuan atau "Unisono".

Dalam perspektif leadership, unisono mengajarkan tentang jiwa korsa, semangat kesatuan dimana semuanya sama rata sama rasa. Menampakkan kebulatan yang satu dari latar keragaman/heterogenitas.
Leader yang efektif, muncul dari dalam keragaman yang mengkompromi realitasnya ke dalam jiwa korsa yang unisono.

3. Paduan Suara yang dijalankan secara fokus, selalu menampakkan solidaritas satu keluarga. 
Keintiman ini di rajut melalui praktek olah karakter dan batin yang menumbuhkan simpati dan empati. 

Memiliki rasa simpati dan empati adalah keharusan dari jiwa kepemimpinan karna di atasnya terletak nilai kemanusiaan yang menuntun kepada sensitivitas memahami orang lain.
Untuk itulah, empati merupakan kunci pengembangan leadership dalam diri seorang penyanyi Paduan Suara yang diperoleh dari pem-batin-an hubungan kekeluargaan.
Pemimpin yang memiliki simpati dan empati akan mudah menggerakkan sistem dan struktur yang dipimpinnya. 

4. Perjumpaan dalam Paduan Suara (kegiatan repetisi) adalah perjumpaan dalam latihan dan lagu. Ini mengajarkan tentang titik fokus.
Mengelola kebersamaan perlu fokus dan tidak mendistraksinya oleh wacana atau diskusi tidak bermutu seperti bergosip. Artinya, sebagian dari esensi repetisi adalah tentang penetapan titik fokus dan tujuan.

Penetapan titik fokus dan tujuan menjadi kekuatan dalam teori nilai lebih yang patut dimiliki setiap pemimpin.
Dengan demikian, kebiasaan repetisi yang dikelola secara efektif berpotensi membangun ciri leadership pada diri seorang penyanyi paduan suara dari aspek pengenalan fokus dari tujuan primer pengelolaan suatu momentum. 

5. Bernyanyi dalam paduan suara mengajarkan bagaimana melakukan interpretasi kata dan memberinya makna melalui alunan berkarakter (crescendo maupun decrescendo).
Melalui pengaktifan daya interpretasi, pesan-pesan implisit yang menjadi jiwa lagu yang tidak terucap dengan lugas dapat di tangkap dan dimaknai lebih leluasa. 
Kecakapan interpretasi sungguh dibutuhkan oleh seorang pemimpin karena dipakai sebagai tool membaca ekspresi lingkungan kepemimpinannya, tahu bagaimana mengelola suatu fakta atau fenomena yang muncul serta memberi makna kepadanya. 
Artinya, orang-orang bijak serta pemimpin sangat bisa dilahirkan melalui suasana paduan suara.

6. Paduan suara yang baik ditempa melalui intensivitas dan simultansi olah vokal. Tanpa itu keindahan dan kemerduan suara sulit dicapai.
Ini mengajarkan bahwa konstruksi yang baik adalah hasil asah. Butuh tempa dan pemurnian untuk menikmati kemilau "berlian diri" seseorang penyanyi.
Tidak ada pemimpin efektif yang muncul tanpa dibentuk dan dilatih. Dan, kultur paduan suara mampu melakukannya.

Cukup demikian dulu, dan semoga tulisan ini ada manfaatnya.