Penulis: Hendry Pasalbessy.
Ada dua trigger yang mereaksi lahirnya tulisan ini. KESATU; beberapa hari ini Immanuela, anak saya, terus meminta diajari notasi untuk lagu karya I'Fals (tikus-tikus berdasi), dan KEDUA; salah satu quote pada kolom WhatsApp grup yang setelah di baca, mengandung makna hiperbolik. Bunyinya begini:
"... percuma seseorang berusaha menjadi orang kaya secara materi namun dia miskin secara moral. Hal itu membuatnya nampak tidak berbeda dengan SE-EKOR TIKUS." (kalimat ini telah saya parafrase).
Sekalipun objek yang di sasar sama yakni TIKUS, perbedaan diantara keduanya nampak jelas. Setidaknya pada muatan daya critical thinking yang menyertai kedalaman kesadaran. TIKUS, barangkali hanya dimaknai Immanuela sebatas kata dalam lagu sementara quote di atas adalah narasi kuat yang sarat makna satire.
Reflektor kimiawi pada otak saya bereaksi memunculkan pertanyaan, "selain disebabkan fitrah otentik homo sapiens dalam diri kita yang tentu saja bukan spesies TIKUS, apakah dengan predikat sebagai agen aktualisasi nilai dan tindak-tanduk moralitas, anugerah posisi puncak tertinggi lapisan piramida keagungan spesies memberi kita alasan untuk meng-under estimate nilai, makna dan kegunaan aktual satwa TIKUS?
Atau sebaliknya, mungkin ini bukan tentang TIKUS melainkan pengaruh kesadaran figuratif-subjektif yang meng-undermind pada peta mental kita manusia kemudian mencuat dalam pola pikir dan pola narasi. Suatu kemapanan yang sampai-sampai untuk mengekspresikan gejala patologi mental pun butuh sarana bagi bullseye prejudice (pembiasan sasaran kritik). Tepat di sinilah TIKUS disematkan.
TIKUS, tentu saja tidak mempersoalkan moralitas pada manusia sebab hidupnya tidak menggunakan dan diatur dengan mekanisme moral kemanusiaan, apapun itu (tidak memikirkan, tidak merasakan sensasinya dan tidak dapat memaknai dengan modal naluri yang dimilikinya). Terlebih lagi, bukankan spektrum moralitas hanya bersentrifugal pada poros relasi antroposentrik? Sesuatu yang tidak dianugerahkan alam kepada spesies lain termasuk TIKUS.
Tapi perlukah bentuk-bentuk kesopanan kritik homo sapiens menempatkan TIKUS jadi objek pelampiasan?
Jika TIKUS dipandang cukup akomodatif dan fungsional dijadikan sasaran penyamaran kritik moralitas manusia, kira-kira, pengalaman anteseden mana dapat dipakai membuktikan bahwa TIKUS itu species yang tidak bermoral hingga paralel dan sederajat dengan "orang kaya tidak bermoral? Atau tikus yang berdasi dan karena itu tidak bermoral?" (jika hewan tersebut dianggap punya atau pernah punya hal itu)?
Sampai di sini, saya berkesimpulan bahwa argumen hiperbolik yang kerap kali kita kumandangkan sambil menginferiorisasi posisi hewan, tidak lain perwujudan peneguhan keangkuhan spesies yang terlampau sentristik oleh kita sebagai homo sapiens! ARGUMEN INI SEKALIGUS MENJADI KRITIK YANG JUGA BERLAKU UNTUK SIKAP DAN PANDANGAN-PANDANGAN SAYA.
Padahal jika kita dalami, ada banyak yang dimiliki hewan termasuk TIKUS yang tidak kita miliki yang langsung atau tidak langsung berguna menunjang mobilitas survive evolusi kita.
Pikiran saya masih sangat fresh melintas di atas lembar-lembar bukunya Yuval Noah Harari, "Homo Deus: A Brief History of Tomorrow", yang saya baca kurang lebih dua bulan lalu, yang intinya mengisahkan bagaimana prediktabilitas eksistensi manusia pada bentangan sejarah ternyata turut ditentukan oleh keterlibatan TIKUS pada dinding-dinding eksperimental laboratorium. TIKUS kemudian sukses menjadi salah satu episenter penentu kebertahanan hidup manusia di masa lampau serta berhasil menjamin kelangsungan evolusi homo sapiens menuju masa depan dengan lebih baik dan presisi terhadap beberapa resiko fisikal.
Artinya tanpa beban penilaian moralitas manusia, TIKUS telah memberi sumbangsih kepada tautan makna kemanusiaan setiap manusia yang bergelut dengan berbagai situs moral, situs intelektual dan lain-lain.
Beberapa pencapaian dalam dunia manusia terbukti digapai melalui usaha menjadikan TIKUS sebagai landmark historis, entah itu pada dunia ilmu pengetahuan, dunia medis, pertanian, ataupun beberapa peran ekologis luas yang pada gilirannya menentukan keseimbangan ekosistem dan biodiversitas dimana manusia hidup bersama dan di atasnya. Artinya TIKUS dalam fungsinya yang eksisting bagi sejarah manusia justru menolong memperkokoh basis moralitas, etika dan kapasitas hidup manusia, bukan sebaliknya beban atau ancaman semata-mata sehingga pantas dijadikan sasaran analogi dekadensi moral manusia.
Saya rasa dengan keunggulan pembeda berupa tingginya kapasitas kognitif dan rasionalitas yang kita punyai, penghargaan bahkan penghormatan pada nila-nilai intrinsik semua makhluk perlu selalu diselaraskan dengan motif aktualisasi citra dan fitrah kemanusiaan kita.
Bahwa perspektif antroposentrisme kita tidak harus berjalan melalui koridor kenaifan pandangan spesiesisme karena dengan keunggulan pada kita ada tanggung jawab mengupayakan keselarasan eksistensi makhluk.
Bahwa TIKUS dan sejumlah spesies pesticides lainnya pada satu kenyataan cukup merugikan manusia, itu bukan alasan pelampiasan kemarahan manakala terjadi defisit nilai moralitas pada dunia manusia.
Yang pasti jika hari ini manusia telah berhasil mencapai anak tangga yang menjulang tertinggi dalam upaya pencapaian keabadian (perspektif Yuval N. Harari) di situ ada juga peranan TIKUS yang tidak berurusan dengan kritikan moral di antara sesama manusia.
Jika ini bukan tentang menilai hewan melainkan murni ragam pola menginduksi kesadaran moral pada jalan-jalan kemanusiaan kita yang diharapkan secara distingtif semakin mengangkat harkat, nilai dan esensi hidup spesies manusia, saya tetap ingin mengingatkan kepada yang gemar mencantolkan narasi dan diksi moralitas agar berhati-hati menggunakan pisau bermata dua ini, terutama ketika hendak mengkonstruksi atau mendekonstruksi struktur realitas sosial manusia yang dijumpainya. Artinya, kita jangan gampang menjadi latah untuk menilai seseorang dari sudut moralitasnya.
"HenPas (akronim mana saya), perlu kiranya berhati-hati dalam tindakan-tindakan advokasional berbasis moralitas karena kita menyaksikan banyak pejuang moral yang ketika bergerak sampai ke ujung justru jatuh terjerembab pada lobang jebakan moral yang digali dengan tangannya sendiri." Begitulah saya berucap untuk menasehati diri sendiri.
Salam!
No comments:
Post a Comment