Friday, September 23, 2022

"KETIDAKPUASAN"

Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy.

"Jika cukup pun tidak cukup bagimu maka apapun tidak akan pernah cukup di hadapanmu"
(Pasalbessy H. N)


PENGANTAR.
Saya memulai tulisan ini dengan mengemukakan suatu aphorism yang berbunyi; "Jika cukup pun tidak cukup bagimu maka apapun tidak akan pernah cukup di hadapanmu."

Rasa-rasanya tidak terlalu perlu untuk mencari subjek evaluasi pada orang lain atau harus berkutat dengan tumpukan Buku-buku tekstual yang isinya mengulas tentang arti pentingnya merasa cukup. Kita semua bisa menilainya pada diri kita masing-masing.

Secara pribadi saya mengambil contoh paling kontekstual. Android yang sementara saya gunakan untuk mengetik artikel singkat ini adalah edisi baru dari yang sebetulnya impact ketidakpuasan saya menggunakan Handphone yang lama (padahal baik yang lama maupun yang sementara saya pakai ini merknya sama). Namun manakala saya melirik pada Handphone Android milik anak saya yang ternyata lebih anyar, lebih estetis, dan lebih baik dari sisi mengakomodasi kebutuhan entertain, prestige dan menunjang fleksibilitas berbagai kebutuhan mobilitas diri, saya jadi ingin memiliki jenis yang sama, bahkan jika dimungkinkan yang lebih baru  dan sophisticated dibandingkan milik anak saya. Espektasi itu tentu saja bukan dengan dasar maksud yang hampa. Sebagian tentu saja karena hasil evaluasi bahwasanya Handphone yang ada tidak seakomodatif yang baru yang saya bayangkan. Apalagi jika diembel-embeli dengan dengan setumpuk kriteria yang tentu saja bersifat subjektif (setidaknya unggul dalam hal fisiknya maupun fitur-fitur yang tersedia). Selain itu tidak dapat dibantah bahwa bawah pikiran sadar saya menghendakinya justru karena kecenderungan ketidakpuasan.

Saya rasa banyak orang didera realitas seperti saya, dan ini sesuatu yang sangat universal dimana sekali lagi, pangkalnya adalah perihal "ketidakpuasan."

Menurut Saya, ketidakpuasan bukan hanya ciri khas melainkan telah mengkonstitusi cara hidup manusia. Dan dalam perspektif tertentu yang lebih luas, nampak sangat paradoksal karena menciptakan perkembangan dan kemajuan bersamaan memantik potensi degradasi dan disorientasi. Faktanya energi yang memutar dunia secara sentrifugal, yang berpusat pada manusia beroperasi menggunakan cara itu. Cara ras manusia mendayagunakan mentalitas kepuasan dan atau ketidakpuasan. 


PENGERTIAN KETIDAKPUASAN. 
Dari sudut ekonomi manajemen dengan sub keilmuan pemasaran, kita menjumpai pengertian ketidakpuasan yang oleh Kotler dan Keller, dirumuskan sebagai suatu keadaan dimana pengharapan konsumen tidak sama atau lebih tinggi daripada kinerja yang diterimanya dari pemasar. Konsumen seringkali mencari variasi dan termotivasi untuk berpindah merek apabila konsumen tersebut tidak puas dengan produk sebelumnya.

Pengertian di atas sedikitpun tidak salah, namun sayangnya perihal ketidakpuasan seseorang tidak tunggal mengarah pada persoalan ekonomi. Ketidakpuasan bisa terjadi pada manusia terhadap apa saja, entah dalam hal yang besar dan akademis seperti dalam bidang ekonomi, sosial, politik, filsafat, hingga yang sehari-hari dan teknis seperti ukuran sandal untuk kaki, percintaan, diskusi hingga skor pertandingan bola. Sebab itu secara tentatif  saya merumuskan pengertian ketidakpuasan sebagai "sensasi emosional yang mendorong untuk menjangkau pengalaman mental yang baru sebagai bentuk penolakaan atas keadaan mental eksisting, baik dalam kaitan dengan suatu benda, peristiwa, afirmasi gagasan maupun realitas lainnya"


KETIDAKPUASAN ITU SALAH? 
Muncul pertanyaan reflektif, apakah memiliki rasa ketidakpuasan itu salah? 
Tentu saja tidak jika ketidakpuasan itu ditempatkan setiap orang pada koridor motivasi produktif-konstruktif. 

Bila kita tarik ke belakang, perjalanan panjang menembus milenium oleh ras manusia, mulai dari jaman batu, jaman Api, jaman besi dan perunggu, hingga jaman internet ini seluruhnya berlangsung dalam jalinan ketidakpuasan (yang Saya sebut sebagai motiv ketidakpuasan eksponensial) yaitu: suatu kondisi yang berujung pencarian formula baru secara berulang-ulang, berkesinambungan dan berpeningkatan. Tanpa itu, kemungkinan besar tulisan saya ini tidak akan terbaca oleh anda dan orang lain karena bukanlah untuk mengaksesnya dibutuhkan media dan tools yang tersedia berkat proses discovery. 
Bahkan dalam hal yang sederhana, tulisan ini adalah buah ketidakpuasan saya atas seluruh kode pemikiran saya yang hanya mengendap di pikiran yang saya anggap tidak akan berbuah apapun. Apakah nanti buahnya berwujud kritikan, cibiran, pengakuan atau didayagunakan sebagai sumber rujukan deskriptif lebih jauh, itu suatu hal yang lain.


SUMBER KETIDAKPUASAN
Dari mana sumber kemunculan serta kepuasan atau ketidakpuasan dirasakan, tidak lain dari keinginan dan atau kebutuhan manusia dimana antara keduanya terjalin konfigurasi yang saling tumpang tindih berkelindan dengan kecakapan mental dan kepentingan orang yang menjadi subjek kepuasan atau ketidakpuasan. 
Di sini kita dapat mencari rujukan pengetahuan akademisnya pada teori hierarki kebutuhan menurut Abraham Maslow.

(jika ada kesempatan, saya akan rangkai tulisan ini kepada konsep hierarki kebutuhan menurut Abraham Maslow...) 


Catatan kaki:
Edisi Ulang Tahun Immanuela Amie Gracelly Pasalbessy (23 September 2017 - 23 September 2022)

Wednesday, September 21, 2022

"MAMI, AKU MENCINTAIMU"

Oleh: V. N. I. Pasalbessy. 


Nadiku merasakan betapa gelora hatimu selalu hanya untuk mencintai kami, hingga jiwa lemahku menemukan sandaran terbaik, dan raga ini menjadi kokoh berdiri dan berlari menyambut esok.

Hingga detik ini, tiap sentuhanmu adalah kehebatan yang memotivasi di tiap lika-liku hidupku

Ketegasan didikanmu selalu setegas kasihmu. Matamu membawa sinar cinta yang melebihi terang manapun. 

Pelukmu membawa ketentraman jiwa hingga kami   teduh tenang dibawah rindang perlindungan. 

Suaramu membawa gelombang didikan dan itu tidak pernah berubah. 
Menyebut namamu membawa berkat ke dalam hidupku.

Ajarilah aku menghormati kasih sayangmu,..
Dan maafkan aku yang memandang lelahmu sebagai caraku menghayati hidup dan potensi agar menjadi berguna di hari esok.

Mami…
Aku mencintaimu! 
Terima kasih untuk semua waktu dan lelahmu.

Sekali lagi dari nada hati terdalamku, 
Mami... 
Aku mencintaimu! 

(Bhumi Sangkanhurip-14 Oktober 2021) 

Monday, September 19, 2022

"MOHON MAAFKAN KESALAHAN DAN KEBODOHAN SAYA"

Saya tidak menyangka akan melalui hari dengan suatu kebodohan yang tidak terkira. 

Saya telah lengah dan membiarkan emosi negatif menguasai bahkan dalam beberapa menit mengendalikan pikiran sadar saya. Mengubah saya dari pribadi yang seharusnya mencintai dan mengupayakan situasi-situasi damai, menghargai dan menjunjung rasa hormat kepada orang lain serta lebih memikirkan lebih dulu akibat dari apapun yang akan saya lakukan dibandingkan menyesalinya setelah terjadi.
Padahal dengan usia, pengalaman hidup dan latar belakang pendidikan yang saya jalani, saya bisa menjadi contoh baik dan bukan contoh buruk.

Sungguh-sungguh Saya telah kehilangan moral sosial dalam hubungan dengan orang lain di pagi ini hingga berapapun banyaknya hal baik yang saya lakukan sepanjang hari ini tidak dapat menghapus noda yang telah saya buat. 

Persisnya, tadi pagi (Selasa 20 September 2022) sekitar antara pukul 06:40 - 06:50 WIB, saya hendak melalui kepadatan pertigaan di bawah jembatan tol dan Kereta api cepat yang berlokasi di perbatasan antara kota "B" dan Kabupaten "B".

Saat itu saya hendak belok kanan ke arah sebuah komplek pemukiman. 
Keberadaan komplek itu sendiri menyebabkan jalur transportasi membentuk suatu pertigaan dengan arus lalulintas yang cukup padat, terutama di pagi dan sore hari.

Karena pertimbangan akan belok ke arah kanan maka saya mengambil posisi paling kanan dari jalur searah saya yang saya perkirakan akan memudahkan saya saat berbelok. 

Sebaliknya, dari arah berlawanan, muncul sebuah mobil warna putih yang jenis dan pelat nomornya tidak saya ingat. Tentu saja karena merasa tidak ada pentingnya saya mengetahui hal itu. 

INSIDEN TABRAKAN.
Dalam penilaian saya mungkin lebih tepatnya bukan tabrakan tapi saya yang di tabrak. 
Jadi, karena di depan saya ada sejumlah motor yang jalurnya searah dengan saya yang hendak maju namun terhalang arus sebaliknya menyebabkan motor saya tidak bisa maju. Dalam posisi motor saya terdiam di tempat karena kemacetan, saya menurunkan kaki untuk menahan keseimbangan motor. Pada saat itulah, sebuah mobil Putih (yang saya sebutkan di atas) dari arah komplek (sebelah jalur kanan) yang hendak berbelok masuk jalur berlawanan dengan arah motor saja mencoba menerobos kemacetan. Saat itulah, bagian kanan bumper mobil tersebut menabrak kaki kanan saya yang sementara menahan posisi motor agar seimbang. Akibatnya betis saya tertabrak dan terdorong ke belakang hingga terhimpit keras di antara bumper mobil dan sadel belakang motor saya. tulang kaki saya terasa sakit minta ampun karena tabrakkan itu. 
Seketika itu saya terdiam karena rasa sakit dan kemudian meledak menjadi emosi.

Pada sudut pandang saya, saya merasa benar karena motor saya sedang diam tetapi saya justeru yang ditabrak.
Sebaliknya mungkin karena pada sudut pandang orang yang menyetir mobil tersebut, yang bersangkutan merasa benar pada posisinya maka terjadilah perdebatan diantara kami yang berujung saling mengamcam.

Ternyata pada momentum inilah kebodohan dan emosi tidak penting menguasai pikiran dan perasaan saya secara penuh.
Rasa sakit di bagian kaki, emosi dan merasa di posisi benar menyebabkan saya mengejar mobil yang ternyata  supirnya juga memiliki niat yang bersambut denga niat saya (memperpanjang masalah). 

Lebih bodoh lagi, saya justru membawa rantai (yang biasa dipakai untuk merantai motor saat diparkir) dengan tujuan menggertak.

Ujung dari semua peristiwa itu adalah kamipun berduel di tengah kerumunan orang yang lalu lalang dan dilerai oleh beberapa orang.

Sungguh saya menyesali kebodohan ini, suatu kebodohan yang tidak pernah terpikirkan akan saya lakukan terhadap siapapun.

Kebodohan yang menyebabkan saya merasa sudah kehilangan nilai diri karena gagal menghormati nilai diri orang lain.
Hikmah dalam diri saya, kedewasaan saya, pemahaman-pemahaman baik dalam pikiran saya, seluruhnya runtuh ke tanah hanya oleh satu hal yakni "emosi dan rasa harga diri yang semu".

Andai saya tahu siapa orang yang sudah saya sakiti tubuh dan hatinya pagi tadi, dengan rendah hati, akan saya datangi untuk menyatakan maaf saya dan dengan tulus hati bersedia diperlakukan dengan rasa sakit yang sama sebagai konsekwensi yang harus saya tanggung jika dalam pandangannya hal itu adalah suatu keadilan.

Sungguh, dari lubuk hati saya yang terdalam saya mohon maaf.
Peristiwa ini akan jadi pengalaman pahit pertama yang tidak akan pernah terulang. 

Ajakan saya untuk siapapun yang membaca tulisan saya pagi ini, belajarlah pada kebodohan saya.
Bahwa "Kesabaran dan ketenangan harusnya menjadi hal paling utama saat kita ada di jalan." Lebih dari itu, menghormati orang lain dan selalu belajar ada di posisi orang lain adalah penting untuk mengevaluasi diri kita mengantisipasi tindakan-tindakan kita yang berpotensi negatif.

Kecil kemungkinan saya bertemu lagi dan minta maaf secara langsung pada orang yang saya sakiti tubuh dan hatinya pagi ini, namun kiranya tulisan ini menjadi cara lain menebus kasalahan saya (berharap tidak ada orang lain yang meniru kebodohan saya).