Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy.
"Jika cukup pun tidak cukup bagimu maka apapun tidak akan pernah cukup di hadapanmu"
(Pasalbessy H. N)
PENGANTAR.
Saya memulai tulisan ini dengan mengemukakan suatu aphorism yang berbunyi; "Jika cukup pun tidak cukup bagimu maka apapun tidak akan pernah cukup di hadapanmu."
Rasa-rasanya tidak terlalu perlu untuk mencari subjek evaluasi pada orang lain atau harus berkutat dengan tumpukan Buku-buku tekstual yang isinya mengulas tentang arti pentingnya merasa cukup. Kita semua bisa menilainya pada diri kita masing-masing.
Secara pribadi saya mengambil contoh paling kontekstual. Android yang sementara saya gunakan untuk mengetik artikel singkat ini adalah edisi baru dari yang sebetulnya impact ketidakpuasan saya menggunakan Handphone yang lama (padahal baik yang lama maupun yang sementara saya pakai ini merknya sama). Namun manakala saya melirik pada Handphone Android milik anak saya yang ternyata lebih anyar, lebih estetis, dan lebih baik dari sisi mengakomodasi kebutuhan entertain, prestige dan menunjang fleksibilitas berbagai kebutuhan mobilitas diri, saya jadi ingin memiliki jenis yang sama, bahkan jika dimungkinkan yang lebih baru dan sophisticated dibandingkan milik anak saya. Espektasi itu tentu saja bukan dengan dasar maksud yang hampa. Sebagian tentu saja karena hasil evaluasi bahwasanya Handphone yang ada tidak seakomodatif yang baru yang saya bayangkan. Apalagi jika diembel-embeli dengan dengan setumpuk kriteria yang tentu saja bersifat subjektif (setidaknya unggul dalam hal fisiknya maupun fitur-fitur yang tersedia). Selain itu tidak dapat dibantah bahwa bawah pikiran sadar saya menghendakinya justru karena kecenderungan ketidakpuasan.
Saya rasa banyak orang didera realitas seperti saya, dan ini sesuatu yang sangat universal dimana sekali lagi, pangkalnya adalah perihal "ketidakpuasan."
Menurut Saya, ketidakpuasan bukan hanya ciri khas melainkan telah mengkonstitusi cara hidup manusia. Dan dalam perspektif tertentu yang lebih luas, nampak sangat paradoksal karena menciptakan perkembangan dan kemajuan bersamaan memantik potensi degradasi dan disorientasi. Faktanya energi yang memutar dunia secara sentrifugal, yang berpusat pada manusia beroperasi menggunakan cara itu. Cara ras manusia mendayagunakan mentalitas kepuasan dan atau ketidakpuasan.
PENGERTIAN KETIDAKPUASAN.
Dari sudut ekonomi manajemen dengan sub keilmuan pemasaran, kita menjumpai pengertian ketidakpuasan yang oleh Kotler dan Keller, dirumuskan sebagai suatu keadaan dimana pengharapan konsumen tidak sama atau lebih tinggi daripada kinerja yang diterimanya dari pemasar. Konsumen seringkali mencari variasi dan termotivasi untuk berpindah merek apabila konsumen tersebut tidak puas dengan produk sebelumnya.
Pengertian di atas sedikitpun tidak salah, namun sayangnya perihal ketidakpuasan seseorang tidak tunggal mengarah pada persoalan ekonomi. Ketidakpuasan bisa terjadi pada manusia terhadap apa saja, entah dalam hal yang besar dan akademis seperti dalam bidang ekonomi, sosial, politik, filsafat, hingga yang sehari-hari dan teknis seperti ukuran sandal untuk kaki, percintaan, diskusi hingga skor pertandingan bola. Sebab itu secara tentatif saya merumuskan pengertian ketidakpuasan sebagai "sensasi emosional yang mendorong untuk menjangkau pengalaman mental yang baru sebagai bentuk penolakaan atas keadaan mental eksisting, baik dalam kaitan dengan suatu benda, peristiwa, afirmasi gagasan maupun realitas lainnya"
KETIDAKPUASAN ITU SALAH?
Muncul pertanyaan reflektif, apakah memiliki rasa ketidakpuasan itu salah?
Tentu saja tidak jika ketidakpuasan itu ditempatkan setiap orang pada koridor motivasi produktif-konstruktif.
Bila kita tarik ke belakang, perjalanan panjang menembus milenium oleh ras manusia, mulai dari jaman batu, jaman Api, jaman besi dan perunggu, hingga jaman internet ini seluruhnya berlangsung dalam jalinan ketidakpuasan (yang Saya sebut sebagai motiv ketidakpuasan eksponensial) yaitu: suatu kondisi yang berujung pencarian formula baru secara berulang-ulang, berkesinambungan dan berpeningkatan. Tanpa itu, kemungkinan besar tulisan saya ini tidak akan terbaca oleh anda dan orang lain karena bukanlah untuk mengaksesnya dibutuhkan media dan tools yang tersedia berkat proses discovery.
Bahkan dalam hal yang sederhana, tulisan ini adalah buah ketidakpuasan saya atas seluruh kode pemikiran saya yang hanya mengendap di pikiran yang saya anggap tidak akan berbuah apapun. Apakah nanti buahnya berwujud kritikan, cibiran, pengakuan atau didayagunakan sebagai sumber rujukan deskriptif lebih jauh, itu suatu hal yang lain.
SUMBER KETIDAKPUASAN
Dari mana sumber kemunculan serta kepuasan atau ketidakpuasan dirasakan, tidak lain dari keinginan dan atau kebutuhan manusia dimana antara keduanya terjalin konfigurasi yang saling tumpang tindih berkelindan dengan kecakapan mental dan kepentingan orang yang menjadi subjek kepuasan atau ketidakpuasan.
Di sini kita dapat mencari rujukan pengetahuan akademisnya pada teori hierarki kebutuhan menurut Abraham Maslow.
(jika ada kesempatan, saya akan rangkai tulisan ini kepada konsep hierarki kebutuhan menurut Abraham Maslow...)
Catatan kaki:
Edisi Ulang Tahun Immanuela Amie Gracelly Pasalbessy (23 September 2017 - 23 September 2022)