Friday, January 1, 2021

FILSAFAT DEKONSTRUKSI JACQUES DERIDDA (Bagian I)

Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy


I.   PENGANTAR.
Dalam kedudukannya di tengah arus besar filsafat postmodernisme, pemikiran-pemikiran filsafat Jacques Deridda menduduki tempat yang terbilang sentral. Gayanya dalam berfilsafat banyak diikuti pemikir, terutama pemikir-pemikir Prancis  kontemporer dan Jerman dan ini menyebabkan sehingga Deridda dipandang sebagai salah satu pemimpin pemikir Prancis kontemporer bersama-sama dengan filsuf seperti Jacques Lacan dan Michel Foucault. 

Menurut Liewelyn (%1), tulisan-tulisan Deridda bersifat “parasitisme” atau semacam the intertextual allusion (Madison, 1988) (%2). Hal mana karena hampir semua karya Deridda mengambil rupa komentar atas pemikiran filsuf lain yang kemudian dikemas secara lebih spesifik melalui kritik dan tafsiran bersumber dari pemikirannya. Komentar-komentar kritikal yang dimunculkan Deridda dalam bentuk yang khusus ini selanjutnya justeru berkembang selangkah demi selangkah dan mendestilasi kemunculan murni pemikirannya. Bagian terbesar dari pemikiran-pemikiran luar biasa Deridda merupakan kajian dan kritik terhadap karya Huserl dan Heidegger. Minat kritiknya juga muncul sebagai pengaruh terhadap pemikiran Ferdinand de Saussure dan perkembangan semiologi (%3) sebagai konsekwensi pembidangan perhatian Deridda terhadap aturan dan fungsi bahasa. 

Meskipun pemikiran Deridda cukup banyak dan berkembang karena menukik secara kritis pada sejumlah pemikiran filsuf besar postmodern, terdapat satu pokok yang kental teridentifikasi pada jalan pemikiran filosofisnya yang banyak dibahas orang bahkan hingga sekarang. Yang dimaksud adalah pemikirannya menyangkut “filsafat dekonstruksi.” 

Filsafat dekonstruksi Deridda telah menyumbang pengaruh kepada arus pemikiran sejumlah besar pemikir dari berbagai kalangan. Sebut saja seperti Mohammed Arkoun, John D. Caputo (Profesor humaniora dan pendiri “Teologi Lemah” yang sebagian besar karyanya berfokus pada hermeneutika, fenomenologi, dekonstruksi, dan teologi), berikut juga Cathy Caruth (yang menyandarkan pemikirannya tentang pengalaman traumatis pada pemikiran dekonstruktif Derrida serta Paul de Man), ada pula Stanley Cavell (filsuf Amerika yang banyak menulis karya tentang Derrida), dan Simon Critchley (pengajar Filsafat di Sekolah Baru untuk Penelitian Sosial. Simon Critchley, banyak menulis buku tentang Derrida, termasuk The Ethics of Deconstruction: Derrida dan Levinas dan Ethics-Politics-Subjectivity: Essays on Derrida, Levinas, dan Contemporary French Thought). Critchley bahkan mendapuk Deridda dengan penilaian sebagai "pembaca yang brilian" dan sangat penting untuk mengikuti teladannya. Demikian halnya juga dengan Jonathan Culler (Profesor di Cornell University yang benyak mengasilkan karya tentang dekonstruksi). 
Tentu saja, selain dari Deridda kita juga menjumpai pemikir dekonstruksi (dekonstruksionis) hebat semisal Soren Kierkegaard, seorang filsuf berkebangsaan Denmark.



II.   BIOGRAFI JACQUES DERIDDA.
Lahir di El-Biar, Aljazair pada 15 Juli 1930, Jacques Derrida berasal dari lingkungan keluarga berketurunan Yahudi dan dia di kemudian hari menjadi seorang filsuf besar berkebangsaan Perancis yag dipandang sebagai pengusung arus utama tema dekonstruksi di dalam filsafat postmodern. Orang tua Deridda (Aime Derrida dan Georgette Sultana Esther Safar) menikah pada 1923 dan dua tahun kemudian yakni pada 1925, mereka pindah ke Aljazair hingga berakhirnya perang dunia II. Selepas berlangsungnya perang dunia II, tepatnya pada tahun 1949, Derrida pindah ke Prancis untuk menempuh sekolah dimana dari sinilah jejak awal langkah dan kariernya sebagai seorang pemikir besar dekonstruksi berawal.

Ketertarikan Derrida pada dunia filsafat cukup kuat dan hal itu menuntunnya mengikuti ujian filsafat untuk masuk ke École Normale Supérieure, salah satu sekolah bergengsi yang terdapat di Paris ketika itu. Pada kesempatan ini, Deridda sempat mengalami gagal dalam hasil ujian sehingga mematahkan kesempatannya untuk belajar di sini. Beruntungnya, Deridda tidak sampai patah semangat dan mengulanginya pada kesempatan kedua di tahun 1952 dan dinyatakan lulus. Maka mulailah pada sekolah elite yang dikelola Michel Foucault, Louis Althusser, dan sejumlah filsuf garda depan Prancis inilah pemikiran-pemikiran filosofis Deridda tumbuh dengan sangat pesat.

Kehebatan kapasitas akademis Deridda pernah diuji oleh ketidakberhasilan yakni ketika dimasa penyelesaian studi doktoralnya, Deridda menulis desertasi berjudul “The Ideality of the Literary Object”. Sayang sekali desertasi ini tidak sempat dirampungkannya, padahal untuk kepentingan penyelesaian desertasi dimaksud, Deridda serius mendalami inti-inti pemikiran Hegel bersama seorang filsuf bernama Jean Hyppolite. Namun demikian, kegagalan ini tidak melemahkan progres kapasitas Derida sebagai seorang pemikir besar dan justeru memantik kemunculan ketajaman pemikiran dan partisipasi keilmuannya atas dunia akademik dimana melalui buah-buah pemikirannya yang luar biasa bagi pengembangan ilmu filsafat postmodern, Deridda pernah diganjar gelar Doctor Honoris Causa oleh sejumlah perguruan tinggi terkemuka seperti dari Universitas Cambridge, Universitas Columbia, The New School for Sosial Research, Universitas Essex, Universitas Louvain, dan William College. 
Deridda baru memperoleh gelar doktor melalui disertasi bertajuk “The Time of a Thesis: Punctuations” pada tahun 1980.

Selain menempuh studi di École Normal Supériuere, Jacques Deridda juga sempat belajar di Husserl Archive, pusat kajian fenomenologi yang ada di Louvain, Prancis. Di École Normal Supériuere ini pula Deridda resmi mengajar setelah meraih gelar kesarjanaannya yang pertama. Selain dari mengajar di Husserl Archive di Louvain, Prancis dan École Normal Supériuere, tahun 1960, Deridda juga diminta mengajar filsafat di Universitas Sorbonne.

Derrida mulai dikenal sebagai tokoh penting dalam arus besar pemikiran Prancis adalah terutama ketika dia mengumumkan dua karyanya pada tahun 1967 yang masing-masing berjudul; “La Voix et le Phenomene, (Speech and Phenomena).” --karya ini sesungguhnya didedikasikan guna menganalisis gagasan Husserl tentang tanda,-- dan yang kedua berjudul; “De la Gramatologie”. Selain dua karya yang disebutkan ini, pada tahun yang sama dia juga menerbitkan “L’ecriture et la Difference”. Judul yang oleh Allan Bas pada tahun 1978 diterjemahkan sebagai “Writing and Difference.” Karya Deridda ini ditujukan, menganalisis karangan Rousseau berjudul “Essay on the Origin of Language” dari sudut sejarah pemikiran tentang tanda.

Dalam kaitan Michel Foucault, perlu dikemukakan bahwa sekalipun Deridda sangat menghormati pemikiran-pemikiran Foucault, akan tetapi tercatat, dia pernah menulis review berjudul “Cogito and the History of Madness” tahun 1963 dimana pada intinya mengkritik interpretsi Foucault terhadap Descrates yang muncul melalui terbitnya karya monumental Foucault berjudul “Folie et déraison” (Madness and Civilization). 

Pada 1986, Deridda resmi diangkat sebagai guru besar humaniora pada Universitas California, Irvine. Bahkan bila kita ingin  mengetahui dan mendalami buah-buah pemikiran filosofis Deridda baik buku-buku yang telah terbit maupun yang belum, termasuk banyak arsip yang belum sempat terpublikasi, universitas Irvine menjadi lokasi rujukan terbaik karena memiliki koleksi lenkap Deridda.

Beberapa karya Deridda dipandang cukup berkelas dalam dunia pemikiran filsafat, menunjukkan bahwasanya sebagai filosof, Jacques Derrida sangat produktif mengelola kapasitas pemikiran dan menuangkannya dalam tulisan sebagai sarana suatu pergulatan khazanah keilmuan filsafat.  Beberapa karyanya  yang dapat disebutkan antara lain: Pada 1962 Deridda menerbitkan terjemahan karangan Husserl, Asal-Usul Ilmu Ukur. Tahun 1967 ada tiga buah buku yang diterbitkan, masing-masing; “La voix et le phenomène.”, “Introduction au problem du signe dans la phenomenology de Husserl (suara dan fenomena: Pengantar pada masalah tanda dalam fenomenologi Husserl); L'écriture et la différance (tulisan dan perbedaan), dan; De la grammatologie  (tentang Gramatologi). 

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1972, terbit tiga buku Deridda yang lain; “Marges de la Philosophie” (pinggiran-pinggiran filsafat) yang isinya menyajikan serangkaian studi tentang Heidegger, Hegel, Husserl, Valery (penyair Prancis), Aristoteles, Austin dan beberapa pemikiran filosof lain; “La Dissemination” (penyebaran) yang isinya memuat studi-studi tentang antara lain Plato dan Mallarme (sastrawan Prancis), serta; “Position” (posisi-posisi), sebagai hasil mengumpulkan tiga wawancara yang pernah diberikan Derrida tentang pemikiran dan karyanya. Tahun 1974, terbit “Glas”. Empat tahun kemudian (1978), terbit dua karya yakni; “Éperons: les styles de Nietzsche”, dan; “De l'esprit: Heidegger et la question.”

Disamping karya-karya Derrida yang ditulis dalam bahasa Perancis, kita dapat pula menyimak sejumlah karya lainnya yang berbahasa Inggris, meskipun hakikatnya juga merupakan terjemahan dari beberapa karyanya yang berbahasa Perancis. Lengkapnya (setidaknya yang sempat penulis list kurang lebih 26 karya) dapat dilihat sebagai berikut:
1. Speech and Phenomena and Other Essays on Husserl’s Theory of Signs, Evanston, III : Northwestern University Press, 1973. 
2. Menerbitkan Glas, yang memperkuat pengaruhnya dalam para kritik sastra Amerika, 1974. Ini merupakan suatu buku yang cukup mencolok mata karena bentuknya. Dimana setiap halaman terdiri atas dua kolom: yang di sebelah kiri memberikan komentar atas suatu teks Hegel tentang keluarga, sedangkan yang di sebelah kanan menganalisa suatu teks Jean Gener, sastrawan Perancis. Dalam hal ini bukunya sengaja dicetak demikian sehingga dapat dibaca dari kiri ke kanan dengan menggunakan teks Hegel dengan teks Genet.
3. Writing and Difference, Chicago: University of Chicago Press, 1978. 
4. Menerbitkan “The Thruth in Painting”, yang mengaplikasikan Dekonstruksi untuk seni, psikologi dan politik, 1978. 
5. Menerbitkan The post Card: from Socrates to Freud and beyond, tentang hubungan antara bahasa lisan dan tulisan dengan mereinterpretasi teori Depth Psychology-nya Freud, 1980. 
6. Dissemination, Chicago: University of Chicago Press, 1981. 
7. Margin of Philosophy, Chicago: University of Chicago Press, 1982. 
8. Position, Chicago: University of Chicago Press, 1982. 
9. Signeponge (atau: signsponge), New York: Columbia Press, 1984. 
10. Glas, Lincoln: University of Nebraska Press, 1986. 
11. Shibboleth, in S.Budic and G. Hartman (ed), Midras and Literature, New Haven: Yale University Press, 1986.
12. Menerbitkan memoar untuk Paul de Man, yang menyebabkan ia dituduh sebagai pembela aliran anti-semit, 1986. 
13. Menerbitkan of spirit: Heidegger and the Question, tentang hubungan Heidegger dan Nazisme, 1987. 
14. The Post Card: From Socrates to Freud and Beyond, Chicago: University of Chicago Press, 1987. 
15. The Truth in Painting, Chicago: University of Chicago Press, 1987. 
16. The Ear of the Other: Otobiography, Transference, Translation: Texs and Discussion with Jaques Derrida, Lincoln: University of Nebraska Press, 1988. 
17. Limeted lnc, ed. G. Graff, Evanston, III: Northwestern University Press, 1988. 
18. Edmudn Husserl’s Origin of Geometry: An Introduction, rev. edn, Lincoln: University of Nebraska Press, 1989. 
19. Memories for Paul de Man. New York: Colombia University Press, 1989. 
20. Of Spirit Heidegger and Question, Chicago: University of Chicago Press, 1989. 
21. Act of Literrature, London: Routledge, 1992. 
22. The Other Heading: Reflection on Today’s Europe, Blomming: Indiana University Press, 1992. 
23. Aporias, Standford: Standford University Press 1993. 
24. Given Time, Chicago: University of Chicago Press, 1993. 
25. The Gift of Death, Chicago: University of Chicago Press, 1995. 
26. Menerbitkan On Cosmopolitanism and forgiveness, 2001.

Selain menulis dan menerbitkan karya-karyanya, Deridda juga beberapa kali terlibat dalam pembuatan film dokumenter biografi. Dua karya diantaranya adalah film dokumenter biografi “D'ailleurs Derrida” (Derrida's Elsewhere) oleh Saafa Fathy pada tahun 1999 dan ”Derrida” oleh Kirby Dick and Amy Ziering Kofman.

Sejak tahun 1974 Derrida ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan himpunan dosen filsafat yang memperjuangkan tempat yang wajar untuk filsafat pada taraf sekolah menengah: GREPH {(Groupe de Recherche sur l’ensigment philosopique) yakni, (kelompok penelitian tentang pengajaran filsafat)}. Kelompok ini didirikan ketika dalam rangka rencana pembaruan pendidikan, peranan filsafat pada sekolah menengah justeru mulai dipersoalkan. 

Tahun 2003, Derrida terdiagnosis mengalami kanker pankreas, penyakit yang memberi dampak pada menuruhnya kapasitas motorik dan berbicara Deridda. Dia meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Paris pada tanggal 8 Oktober 2004. Semasa hidupnya, pemikiran dan karya-kerya tulis Derrida sangat banyak dipengaruhi oleh pemikiran Heidegger, Nietzsche, Adorno, Levinas, Husserl, Freud, dan de Saussure. Afirmasi ini bahkan diakui sendiri oleh Deridda.



III. DEKONSTRUKSI.
Dekonstruksi merupakan salah satu paradigma yang muncul pada masa post-Strukturalisme sebagai kritik terhadap teori-teori strukturalisme yang dianggap kaku karena terlalu terpaku pada struktur dan sistem tertentu.

Di bawah jagat konsep filsafat, dekonstruksi menemukan fondasi pada pemikiran sejumlah tokoh era kontemporer (%4), dan beberapa diantaranya yang dominan mengemuka dengan pemikiran dimaksud adalah Marthin Heidegger dan Deridda. Namun pada masing-masing dari antara kedua tokoh ini, terdapat sedikit perbedaan pemilihan konsep terkait bagaimana mengoperasionalkan makna-makna ide dekonstruksi. Bila Heidegger menggunakan konsep “destruksi” maka dekonstruksi dalam bingkai pemikiran Deridda cenderung menyasar kritik atas konsep filosofis, “Logosentrisme”, “Fonosentrisme” dan “Metafisika kehadiran”.

Oleh Heidegger, “destruksi” dimaksudkan menghancurkan permukaan konseptual metafisika tradisional yang dianut filsuf-filsuf masa lalu sehingga mudah untuk kembali atau menemukan akar-akar yang eksis dalam pengalaman-pengalamannya yang memberikan hidup. Konsep Heidegger ini menggantung erat pada kritik-kritik kerasnya terhadap historis eksistensi dalam mana praktek dan ajaran-ajaran Katolik pada jaman pertangahan (masa kegelapan ilmu pengetahuan) yang untuk berapa realitas masih ditemukan berkelindan hingga jaman Heidegger. Melalui kritiknya itu Heidegger mengajukan pembacaan filosofis atas keadaan sedemikian rupa sehingga mengandung sifat kontra makna yakni apa yang disebutnya “de(kon)struksi” atas pengoperasian mekanisme-mekanisme metafisika terhadap realitas. Tepat di sini pula titik pijak pemikiran Deridda tentang filsafat dekonstruksi berlangsung.
Dalam bukunya “Being and Time”, Heidegger meletakkan suatu “penghancuran” (destruction) terhadap pokok-pokok pemikiran metafisika yang terbungkus dan dianut Hegel, Huserl dan tradisi metafisika secara keseluruhan. Heidegger menyatakan bahwa seluruh sejarah filsafat ditandai “lupa akan ada”.

Meskipun dekonstruksi, yang dikemukkan Heidegger mendahului Deridda, tetapi dekonstruksi itu sendiri dapat dipandang merupakan salah satu optimum filsafat Deridda, hal mana sehingga hampir setiap percakapan tentang Deridda tidak dapat melepaskan pemikiran dekonstruksinya.
Melalui filsafat dekonstruksinya ini, Deridda sebagaimana halnya Heidegger, on the track mengarahkan serangan terbuka terhadap apa yang disebut Deridda sebagai “metafisika kehadiran” (The Metaphysics of presence) termasuk didalamnya “hermeneutika” yang disebut sebagai “metafisika makna dan kebenaran” (The Metaphysics of meaning and truth) (%5). 
Dengan demikian tidak dapat disangkal bahwa konsep dekonstruksi yang dikembangkan melalui kritik Deridda, mendapatkan inspirasi sekaligus merupakan bentuk adaptasi dari konsep “destruksi” dalam pemikiran filosofis Marthin Heidegger.

Sederhananya, dekonstruksi diartikan menghancurkan atau bahkan meruntuhkan yang ada untuk selanjutnya menyusun ulang dengan cara yang lain atau berbeda, atau dengan persepsi lain dapat diartikan sebagai mengalihkan/menggeser pemikiran dari pusat ke pinggiran dengan cara menukarkan posisinya. Melalui pandangan ini secara tidak langsung, Derrida turut membuka pemikiran bebas dan ruang terbuka bagi perbedaan dan keberagaman dalam pemahaman dan pengetahuan mengenai makna sosial, budaya, masyarakat, dan lain-lain.

Sebagai catatan penting bahwa kritik-kritik dekonstruksi Deridda hidup dan dinamis dalam kaitan dengan teks meskipun tentu saja dekonstruksinya bukan hanya brkisar pada teks semata-mata. Menurutnya, setiap teks menyimpan makna-makna yang tersembunyi di belakangnya. Melalui optik teoritik dekonstruksinya, Derrida melihat bahwa teks didalam kehadirannya selalu tidak tetap sejak mengemuka atau tidak lagi sebagai tatanan yang utuh melainkan terus berubah di arena pergulatan yang terbuka. Teks dengan demikian menurut Deridda bersifat senantiasa mengambang bebas dan mudah tergelincir.
Meminjam kutipan Bambang Sugiharto atas Deridda, dikemukakan bahwa; “dibalik teks filosofis yang terdapat bukanlah kekosongan melainkan sebuah teks lain, --suatu jaringan kekuatan-kekuatan yang pusat referensinya tak jelas” (%6). Artinya, sejak awalnya, kehadiran teks telah menyuguhkan ketidakjelasan dikarenakan ketidakstabilan makna; dan itulah sejatinya “ketidakpastian.” Bahwa kepastian tunggal yang selalu dicari dan diagung-agungkan manusia modern sebagaimana diaminkan dengan kukuh oleh era klasik hingga pra-renaissance merupakan suatu keniscayaan, dan itu hanya dapat dipersembahkan oleh “ketidakpastian.” Oleh sebab itu kepastian menurut Derida adalah sama persis dengan ketidakpastian.

Tentang bahwa teks itu senantiasa mengambang bebas dan mudah tergelincir karena menyimpan makna-makna yang tersembunyi di belakangnya atau bisa dikonstruksi secara terbalik, dapat disimak melalui beberapa ilustrasi di bahwa ini;
Ketika mulai menjajaki kuliah pada fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu-Ilmu Politik Universitas Pattimura pada program studi Ilmu Pemerintahan, penulis adalah salah satu dari seluruh mahasiswa pada fakultas ini yang senantiasa didera labelisasi berkuliah pada “Kampus SD” atau “Fakultas kebun kangkung”. Apa yang dimaksud Kampus SD atau Fakultas kebun kangkung tentu saja adalah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Penyebutan seperti ini tidak lain merupakan penafsiran yang mengembang dan liar terhadap teks lain yakni kampus Fisip Universitas Pattimura.

Akronim FPI misalnya, ternyata tidak standar dalam pengenaanya pada salah satu organisasi massa besar di Indonesia (Front Pembela Islam) karena ternyata ada juga kepanjangan lain dari orgaisasi lain yang menggunakan akronim FPI yakni Forum Persaudaraan Islam yang justeru bertolakbelakang prinsip eksistensinya dengan Front Pembela Islam. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai teks, FPI tidaklah bersifat stabil karena menyimpan banyak tafsir.  

Pada suatu masa dalam sejarah berGMKI, penulis kerap mendengar istilah “amsal” namun ternyata bukan nama salah satu kitab Perjanjian Lama melainkan singkatan dari “Ambon-Salatiga”, atau istilah “amsalku” yang dapat ditafsir sebagai credo atau pengakuan/pernyataan imanen personal, tetapi ternyata kerap digunakan mengidentifikasi suatu in-grup dalam lingkar pergaulan antar cabang di GMKI yakni (Ambon-Salatiga-Kupang).

Kata “Kecab” misalnya, bisa bukan berarti cairan kental berwarna merah atau hitam yang rasanya manis atau asin yang selalu digunakan untuk penyedap makanan tetapi bisa juga dimaksudkan sebagai kata ganti jabatan pada suatu organisasi yang bersifat hierarkis semisal Kecab Nehemia (yang dimaksudkan adalah Ketua Cabang pada organisasi AMGPM) atau Kecab GMKI Ambon (yang dimaksudkan adalah Ketua Cabang GMKI Ambon).

Bisa juga diambil dari konteks yang lebih umum misalnya plesetan: Berhentilah menuntut ilmu karena ilmu tidak bersalah; Jangan membalas budi karena ketika peristiwa terjadi budi tidak berada di tempat; Jangan mengarungi lautan karena karung bukan ember yang bisa menampung air; Berhentilah menimba ilmu karena ilmu tidak ada di dalam sumur; Yang penting jangan lupa daratan karena kalau sampai lupa, kamu akan tinggal di mana?, atau; Jangan ngurusin orang lain karena belum tentu dia kepingin kurus, dan lain-lain.

Beberapa plesetan diatas jelas menunjukkan bahwa ternyata keberadaan teks bersifat tidak tetap tetapi bervariasi dan bergerak. Dalam teks, Deridda mengatakan, "perasaan kognitif terselip, pikiran dan makna berkeliaran, mengambang diantara kemungkinan tafsir yang berbeda-beda. Teks terus bergerak dalam setiap pemikiran pembaca sehingga teks apapun selalu dapat dibaca dengan cara yang baru. Tepat diatas pemahaman ini, kiranya tidaklah mudah memasuki belantara dekonstruksi yang interpretasinya rumit dan sangat berkelindan dengan komplikasi makna sehingga mengaburkan netralitas dan ketunggalan makna teks itu. Sebab itu menurut Derida apa yang adalah kepastian sekaligus ketidakpastian.
Derrida sendiri mengakui jika dekonstruksi begitu sulit didefinisikan. Pengakuannya tercermin melalui isi wawancara oleh seorang wartawan terhadapnya. Ketika wartawan tersebut meminta Deridda mendefinisikan dekonstruksi secara singkat (in a nutshell), ia mengaku tidak bisa melakukannya. Hal tersebutlah yang akhirnya membuat salah satu buku pengantar berjudul Deconstruction in a Nutshell karya Caputo (1997) menjadi begitu terkenal (%7).
Meski demikian, dalam pengakuan akan keterbatasannya, kita bisa menarik garis hubung antara penekanan dekonstruksi Deridda dengan pandangannya tentang logosentrisme, fonosentrisme, dan metafisika kehadiran yang diusung oleh para filsuf sebelumnya. Tiga konsep yang secara esensial ditolak melalui filsafat dekonstruksinya, selain kritiknya terhadap beberapa konsep lain semisal, “Writing”, dan “Difference.”

Selain dari teks, dekonstruksi Deridda juga dipergunakan untuk menafsir konteks.
Deridda sendiri dalam wawancaranya dengan salah seorang reporter asal Italia (yang kemudian dibukukan dalam buku: Philosofi On The Time Error), menggunakan metode dekonstruksi untuk meneropong peristiwa tragedi WTC 11 September di Amerika (%8). Metode pemikiran Deridda ini dikenal dengan istilah oto-imunisasi. Istilah dikemukakan Deridda ketika mengulas tentang peliknya relasi antara Amerika dengan gerilyawan Afganistan, baik itu Taliban maupun Al-Qaeda.
Menurut Deridda, tragedi WTC bukanlah serta-merta merupakan kesalahan Al-Qaeda karena awalnya Amerika sendiri yang melatih gerilyawan Al-Qaeda. Artinya, bila pada kenyataannya terlihat gerilyawan Al-Qaeda ini punya kemampuan militer yang baik hal itu justru karena Amerika sendiri yang melatih mereka di masa perang dingin untuk menghadapi usaha dominasi komunisme Uni Sovyet. Bermodal efisiensi dan efektifitas metode militer yang diajarkan oleh militer Amerika Serikat kepada mereka itulah, Al-Qaeda menggunakannya untuk menggempur Amerika.

Disini Deridda tidak ingin terjebak pada peristiwa tabrakan pesawat yang menghancurkan gedung kembar WTC melainkan memindahkan pusat pemikiran ke arah pinggiran ketika semua orang ramai-ramai mengoptikasi fokus pada gedung kembar tersebut. Dia lebih tertarik mengamati dampak ikutan setelah peristiwa inti itu dimana menurutnya, ternyata tragedi ini menyebabkan Negara Amerika dan Negara-negara Eropa meningkatkan kewaspadaan, memperbarui dan memperkuat aspek keamanan nasional dan ekonomi negaranya. Serta memberi kesempatan kepada masyarakatnya melakukan pembaruan sosial atau revitalisasi sosial. Amerika dan Eropa memiliki momentum untuk kembali membangun basis solidaritas. Intinya, melalui peristiwa penyerakan gedung kembar WTC, Deridda tidak ikut-ikut untuk terjebak menalari dan menginterpretasi pusat peristiwa sekaligus pusat pemikiran dunia tetapi bergeser menelisik dan menjamah wilayah peripheral suatu peristiwa dengan melahirkan pemikiran yang baru.

Apa yang dikembangkan dalam pemikiran-pemikirannya, sekaligus merefleksikan karakteristik Deridda sebagai pribadi yang kuat menolak untuk menjadi pusat perhatian, sekaligus dia sangat konsisten untuk selalu berada di pinggiran. Selalu berada jauh dari sorotan publik dan tidak berciri media darling, meski justru itu yang menyebabkan Deridda semakin diburu dan semakin terkenal.

(Bersambung…..)
------------------------
Diposting, 1 Januari 2021
------------------------

Referensi: 
(%1) Liewelyn. J., Deridda On The Threshold of Sense, St. Martin’s Press, New York.
(%2) Madison. G. B., 1988,  The Hermeneutics of Postmodernity, Indiana University Press, Bloomington and Indianapolis.
(%3) Semiologi adalah ilmu umum tentang tanda. Dalam definisi Saussure, semiologi merupakan sebuah ilmu yang mengkaji kehidupan tanda-tanda di tengah masyarakat dan. Dari titik ini, Semiologi menjadi bagian atau memiliki kedekatan disiplin ilmu yang lebih intim dengan psikologi sosial. 
(%4) Era kontemporer merupakan era dimana kajian-kajian filsafat banyak tertarik pada tema-tema bahasa seperti semilogi, strukturalisme, post strukturalisme, filsafat bahasa seharihari, teori speech-act atau hermenetika, dimana seratus tahun yang lalu kunci dari kajian filsafat tidak terlepas dari akal, roh, pengalaman dan kesadaran.
(%5) Caputo, J. H.,  1987 Radical Hermeneutics, Indiana University Press, Bloomington and Indianapolis.
(%6) Bambang Sugiharto, Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat, [11] Ibid.hlm , 45
(%7) Zehfuss, Maja. 2009. Jacques Derrida dalam T. Radike (Ed.) Teori-Teori Kritis Menentang Pandangan Utama Studi Politik Internasional. Teguh Wijaya Kusumo (terj.) 2013. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
(%8) Serangan 11 September (disebut September 11, September 11th atau 9/11), adalah serangkaian empat serangan bunuh diri yang telah diatur terhadap beberapa target di New York City dan Washington, D.C. pada 11 September 2001. Pada pagi itu, 19 pembajak dari kelompok militan Islam, al-Qaeda, membajak empat pesawat jet penumpang. Para pembajak sengaja menabrakkan dua pesawat ke Menara Kembar World Trade Center di New York City; kedua menara runtuh dalam kurun waktu dua jam. Pembajak juga menabrakkan pesawat ketiga ke Pentagon di Arlington, Virginia. Ketika penumpang berusaha mengambil alih pesawat keempat, United Airlines Penerbangan 93, pesawat ini jatuh di lapangan dekat Shanksville, Pennsylvania dan gagal mencapai target aslinya di Washington, D.C. Menurut laporan tim investigasi 911, sekitar 3.000 jiwa tewas dalam serangan ini. Dugaan langsung jatuh kepada al-Qaeda, dan pada 2004, pemimpin kelompok Osama bin Laden, yang awalnya menolak terlibat, mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini. Al-Qaeda dan bin Laden juga mengatakan dukungan AS terhadap Israel, keberadaan tentara AS di Arab Saudi, dan sanksi terhadap Irak sebagai motif serangan ini. Amerika Serikat merespon serangan ini dengan meluncurkan Perang Melawan Teror dengan menyerang Afghanistan untuk menggulingkan Taliban yang melindungi anggota-anggota al-Qaeda. Pada Mei 2011, setelah diburu bertahun-tahun, Presiden Barack Obama mengumumkan bahwa bin Laden ditemukan dan ditembak mati oleh marinir AS, walaupun belum ada bukti yang dipublikasikan yang menyatakan kematian tersebut dengan gamblang. Kehancuran ini mengakibatkan dampak serius terhadap ekonomi Lower Manhattan. Pembersihan lahan World Trade Center selesai dilaksanakan pada Mei 2002.