Tuesday, May 12, 2020

TIGA WILAYAH KEBUDAYAAN, POLA PENGELOMPOKKAN MASYARAKAT ADAT DAN TIGA SISTEM PEMERINTAHAN ADAT DI MALUKU


Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy



I. Gambaran Umum.
Berdasarkan pemetaan wilayah kebudayaan (culture area), kita mengenal bahwa gugus kepulauan Maluku  terbagi atas atas 3 wilayah, antara lain: Culture Area bagian utara, yang meliputi keseluruhan wilayah kepulauan yang kini masuk provinsi Maluku Utara. Culture Area bagian tengah, yang meliputi pulau Seram dan pulau-pulau disekitarnya, termasuk pulau Nusalaut, pulau Saparua, Pulau Haruku, Pulau Ambon hingga pulau Buru. Dan, yang terakhir adalah Culture Area bagian Tenggara, yang meliputi hampir seluruh kepulauan di wilayah tenggara raya. Setiap Culture Area ini, terbentuk melalui pengelompokkan diri satuan subetnik masyarakat yang beragam dan khas baik sifat, perilaku sosial, kerumpunan bahasa, intonasi berbahasa maupun bentuk budayanya. 
Pembentukkan wilayah kebudayaan ini, mula-mula berbentuk kelompok kecil yang eksistensinya berangsung-angsur mengakumulasi melalui internalisasi karakter dan teritorial budaya menjadi kelompok besar dan menghasilkan suatu pola bentuk anatomis kebudayaan. Pengelompokkan masyarakatnya pun memiliki dua sifat, yakni pengelompokkan masyarakat yang bersifat “geneologis” dan pengelompokkan masyarakat yang bersifat teritorial, dimana dalam proses pembentukkannya, pengelompokkan masyarakat yang bersifat territorial baru terbentuk kemudian setelah berkembangnya hubungan-hubungan kekerabatan berdasarkan ikatan geneologis.


1. Maluku Bagian Utara.
Pola dasar pengelompokkan masyarakat di Maluku Bagian Utara secara stratifikatif dimulai dari lapisan dasar klen inti (mata rumah inti). Yang dimaksudkan dalam hal ini adalah ayah, ibu dan anak kandung. Lapisan setelah mata rumah inti atau tingkat kedua adalah gabungan beberapa klen inti yang disebut halu, yang merupakan gabungan dari mata rumah inti ayah atau gabungan dari mata rumah inti ibu. Di atas halu atau tingkat ketiga adalah gabungan beberapa halu yang disebut soa. selanjutnya gabungan soa, membentuk suatu teritori yang dalam bahasa Halmahera dikenal dengan nama O’ kampono, atau dalam bahasa melayu Ambon disebut kampung.  


2. Maluku Bagian Tengah.
Sebangun maknanya dengan O’kampono di Halmahera, struktur pengelompokkan masyarakat pada wilayah kebudayaan Maluku Tengah dikenal dengan nama Aman (Yaman) atau Hena. Struktur ini terbentuk secara bertahap yang terdiri dari klen inti, Rumatau/Lumatau, dan Uku atau Huku. 
Istilah-istilah ini mengalami dinamika perubahan sejalan dengan masuknya komponen pengaruh Islam, kolonialisme dan regulasi sistem ketatanegaraan sesudah Indonesia merdeka. Perubahan itu antara lain Aman/hena mengalami perkembangan menjadi Uli, selanjutnya menjadi negeri, dan akhirnya menjadi desa, sementara komponen dasar masyarakat seperti uku/huku berubah menjadi soa. 

a. Rumatau atau Lumatau.
Rumatau/Lumatau merupakan komponen dasar masyarakat yang terbentuk melalui gabungan beberapa klen inti yang diperluas tetapi berasal dari satu garis keturunan (geneologis). Menurut Prof, Dr. Hermin Soselisa, MA., kata Rumatau atau Lumatau searti. Perbedaannya hanya terletak pada bentuk vokal (ucapan) yang terpengaruh dialek masing-masing negeri di Maluku. Saparua menyebut lumal, Haruku menyebut Ruma, Hitu dan sekitarnya menyebut luma.
Ruma/luma artinya rumah, dan Tau artinya isi. Arti lain dari tau adalah tembikar besar. Jadi, Rumatau/Lumatau adalah rumah yang didiami secara bersama-sama oleh orang yang memiliki satu garis keturunan. Orang Saparua menyebutnya sebagai mata rumah yang berarti rumah induk atau rumah asal.

b. Uku/Huku dan Soa.
Menurut penulis, “Uku/Huku” merupakan perkembangan dari Rumahtau/Lumatau. Masih tetap bersifat geneologis dan dicirikan dengan teritori tempat tinggal yang umumnya berdekatan. Sementara itu dikenal pula Soa yang merupakan unit kebudayaan yang merefleksikan pengelompokkan masyarakat yang setingkat dengan model Uku/Huku namun memiliki sifat dasar yang agak berbeda. 

Istilah soa sendiri, pada mulanya tidak dikenal pada culture area Maluku Tengah. Kemunculanya sejalan dengan perluasan kekuasaan kerajaan Ternate dan Tidore dari Maluku Utara ke Maluku Tengah. Merupakan hasil pembentukkan dari pengelompokkan rumatau, dimana secara karakteristik, pengelompokkan ini tidak mutlak berasal dari satu garis keturunan melainkan bisa atau cenderung berasal dari beberapa garis keturunan yang berbeda. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa soa terbentuk berdasarkan kesamaan tempat tinggal atau teritori, sementara Uku/Huku dibentuk berdasarkan pengelompokkan menurut sifat garis keturunan. Artinya, menurut penulis, Jika ditemukan ada soa yang hanya terdiri dari satu garis keturunan, kenyataan itu sangat mungkin hanya suatu kebetulan. 


c. Hena/Aman.
Hena/Aman adalah tingkat pengelompokkan masyarakat yang terbentuk dari penyatuan  komponen kelompk masyarakat pada strata Uku/Huku dan Rumatau/Lumatau. Mengutip pengertian yang disampaikan oleh Wouden, menurut Penulis, pemimpin Aman/Hena disebut dengan istilah Amanno yang berarti Bapak atau orang paling Tua. 


d. Uli.
Uli merupakan bentuk persekutuan masyarakat yang terbentuk berdasarkan penyatuan dari beberapa Hena/Aman, dan dapat ditemukan di Ambon maupun Lease. Sepanjang yang diketahui oleh Penulis, pengertian Uli hingga saat ini masih sangat debatable. Namun terlepas dari hal tersebut, Uli bisa diartikan atau tepatnya merupakan wujud sebuah aliansi yang terstruktur berdasarkan peran dan fungsi masing-masing hena. Konstruksi Uli Hatuhaha di Haruku kiranya dapat dapat dijadikan sebagai contoh.  
Dalam studi yang dilakukan Penulis, dijumpai bahwa beberapa hena/aman di pulau Haruku menggabungkan dirinya ke dalam kesatuan Uli yang dikenal dengan uli Hatuhaha. Motiv pembentukannya sekurang-kurangnya didasari oleh dua alasan yakni:
-. Kesadaran intrinsic hakikat keturunan. Pemikirannya adalah semua anak adat/masyarakat adat pulau Haruku lahir dari satu nenek moyang yang besar dan kekar. Citra orang kekar pulau Haruku ini kemudian dipersonifikasi dalam sistem tata pemerintahan di Uli Hatuhaha.
-. Kesadaran bahaya atas interfensi lingkungan eksternal. Adanya penjajahan mengharuskan Hena/Aman di Haruku mengkonstruksi mekanisme perlindungan dengan cara bersatu diantara mereka, sehingga bisa melawan penjajah.

Menurut catatan sejarah, Uli di Maluku Tengah sudah ada sejak sebelum abad ke 17, dan memiliki suatu karakter khas yaitu terbagi dua kelompok besar berdasarkan bilangan lima dan Sembilan yang melambangkan jumlah penggabungan uku. Apabila sebuah uli terdiri dari lima Uku maka akan dinamakan Uli Lima dan sebaliknya yang Sembilan Uku, disebut Uli siwa.

Pada kesatuan masyarakat adat Negeri Nolloth di pulau Saparua Maluku Tengah, dikenal adanya Uku Lima dan Uku Lua yang merupakan dua pengelompokkan besar dari mata rumah-mata rumah yang ada di Negeri tersebut.


e. Negeri
Kata “Negeri” (atau ‘Negri’) berasal dari bahasa sansekerta “nagara”, yang berarti daerah, kota atau kerajaan. Penulis kemudian mensejajarkan pengertian ini dengan apa yang oleh Cooley ditunjuk sebagai suatu wilayah pemerintahan, serta identik dengan aman/hena. 
Penjajah (baik portugis maupun Belanda) Mengadopsi bahasa sansekerta ini untuk menyebut setiap perkampungan masyarakat yang terdapat di Maluku.


3. Maluku Bagian Tenggara
Agak berbeda dalam hal istilah yang digunakan, di masyarakat culture area Maluku Tenggara, pengelompokkan dasar masyarakat dimulai dari Riin Narho, yang mengelompok menjadi Ub. Penyatuan beberapa Ub, kemudian menjadi Riin. Gabungan Riin, disebut dengan Rahan. Perkembangan karena pertambahan Rahan-Rahan baru selanjutnya menjadi Ohoi Ratut.
Perbedaan lainnya dari pola pengelompokkan dasar masyarakat di Maluku Tenggara dengan yang di Maluku tengah adalah jika di Maluku tengah pengelompokkn Uli sangat memperhatikan aspek jumlah satuan yang berkelompok, di culture area Maluku Tenggara hal itu tidak terlau berpengaruh. Sebaliknya yang berpengaruh dan menjadi faktor penting adalah sifat geneologisnya.




II. Sistem Pemerintahan Adat
Terdapat variasi dalam hal sistem pemerintahan adat yang cukup menonjol pada seluruh culture area di Maluku. Bahkan menurut penulis, perbedaan tersebut bukan hanya diperlihatkan antara sesama culture area, melainkan dalam satu culture area pun terdapat perbedaan. Dicontohkan bahwa di Maluku Tengah saja, terdapat perbedaan sistem pemerintahan adat di pulau Seram antara Seram Barat dan Seram Timur, atau di pulau Ambon, terdapat perbedaan antara di wilayah kekuasaan kerajaan Hitu (lei Hitu) dan di lei Timor.


a. Sistem Pemerintahan Upu/Latu (sebelum abad 15)
Sebelum masuknya pengaruh kerajaan Ternate dan Tidore serta penjajahan, sistem pemerintahan adat di Maluku mengenal Latu sebagai pemimpin hena/aman. Syarat menjadi latu setidaknya ada dua yang penting yaitu: Pertama, seseorang harus yang memiliki ilmu kekebalan tubuh yang tinggi (pada beberapa daerah atau negeri atau aman, dikenal dengan istilah “pakatang”), dan atau yang kedua, seseorang itu harus berasal dari klen/marga pendiri hena/aman, serta secara turun temurun, mata rumah/marga dari seseorang yang dimaksud itu akan disebut sebagai “mata rumah parenta” (klen yang memiliki hak eksklusif untuk memerintah). 
Dalam kepemimpinannya, Latu di bantu oleh Mauwen (berperan sebagai imam yang menghubungkan latu dengan penguasa alam semesta), dan Malessi, (seseorang yang bertugas sebagai pemimpin keamanan dan memimpin peperangan melawan musuh). Diwaktu kemudian setelah penaklukkan oleh Ternate dan Tidore, sebutan atau istilah malessi diganti dengan kapitan.


b. Raja/Pati/Orang Kaya (Kedatangan Barat awal abad 16)
Sistem pemerintahan adat Raja/Pati/Orang kaya serta sistem struktur keorganisasian (pembantu-pembantunya) tidak berbeda dengan distem pemerintahan adat Latu. Jika ada perbedaan maka itu hanya berupa perubahan nama karena pengaruh penjajahan kolonial serta nilai-nilai yang diintrodusirnya, dimana tersimpan tujuan dibalik perubahan sistem dan struktur pemerintahan tersebut, yakni supaya pemerintahan adat hena/aman lebih mudah diajak bekerja sama demi kepentingan penjajah.
Dari segi kemilikan istilah, sebenarnya istilah Raja, Patti dan Orang Kaya bukan istilah asli yang tergali dari bahasa lokal Maluku. istilah Raja, oleh beberapa pendapat, diktakan berasal dari bahasa Sansekerta, dan Patti berasal dari kata bupati, --kata ini kebanyakan digunakan dalam kebudayaan masyarakat jawa.


c. Sistem pemerintahan adat Raja Saniri Negeri.
Penulis berpandangan bahwa bentuk sistem pemerintahan adat raja dan saniri negeri adalah perpaduan dua lembaga ke dalam satu sistem dan bersifat lebih maju dan modern dibandingkan dua sistem pemerintahan yang telah disebutkan sebelumnya (Sistem Pemerintahan Upu/Latu dan Sistem Pemerintahan Raja/Pati/Orang Kaya). Keistimewaannya terletak pada kemampuan struktur melayani lembaga-lembaga yang ada di luar struktur pemerintahan tetapi sekaligus merupakan bagian dari sistem itu sendiri. Misalnya, Saniri Besar, Dewan Adat (Tuan-Tuan Tanah), Kewang, institusi Sasi, dan lain-lain.
Beberapa peran yang dapat dicermati pada sistem pemerintahan adat Raja Saniri Negeri antara lain, pertama, Sistem Raja Saniri Negeri mendesain adanya kerja sama didalam pembagian wewenang secara khas dan proporsional. Kedua, dalam pembagian wewenang (distribution of power) berkaitan pengambilan keputusan, kedudukan raja adalah yang tertinggi sekalipun untuk sampai pada keputusan perlu dilakukan melalui suatu mekanisme dalam struktur yang dikenal dengan forum dewan saniri biasa (yang terdiri dari Raja, Kepala-kepala Soa, Kewang serta Marinyo). Dan, yang terakhir, Raja Saniri Negeri, memiliki tiga lembaga penting di luar struktur sistem pemerintahan, yaitu: Saniri Rajapati, Saniri Lengkap dan Saniri Besar. 
---------------
Kiranya tulisan ini berguna bagi pembaca sekalian.

Monday, May 11, 2020

MARXISME ANTITESIS AGAMA?(Bagian I)

Oleh: Hendry Nofry Pasalbessy


PENGANTAR.
Meski mungkin akan sedikit memantik kritik, Penulis ingin membuka tulisan ini dengan mengemukakan bahwa sekalipun sebagian besar orang merasa punya alasan untuk membencinya dalam sejarah atas nama maintenance keberlanjutan nilai, ekosistem dan sejarah eksistensi agama, Karl Marx merupakan pribadi yang turut melindungi eksistensi nilai-nilai agama secara paradoxal menurut argumen-argumen kritikalnya. 

Melalui konklusi ini pula Penulis mengajukan judul tulisan dalam rasa tanya yang mendalam, "Marxisme Anti Tesis Agama?, terutama Agama yang sebagian sistem serta pelakunya dihadapi Marx ketika berkutat dengan tiga akar pokok yang membangun dalil filosofis materialismenya yakni analisis terhadap pergolakan politik Prancis, spesifik revolusi borjuis sekitar tahun 1790-an, yang berrentetan  dengan perjuangan-perjuangan kelas berikutnya selama awal abad ke-19. Kedua, analisis kritisnya terhadap konstruksi ekonomi Inggris berkaitan sistem kapitalis yang berkembang di sana pada waktu itu. Berikutnya, akar ketiga Marxisme, yang secara historis merupakan titik permulaan Marxisme, tidak lain 'filsafat Jerman'. 


AGAMA ADALAH CANDU.
Atas banyak hal yang bisa kita kenang dari salah satu tokoh pilar ilmu Sosiologi dan politik Ekonomi ini, salah satunya pernyataan Agama adalah candu” dan karena itu tidak heran bila agama merupakan "opium masyarakat" adalah frasa paling populer dalam ruang-ruang pembahasan Marx dan materialisme dialektikanya. Selain popularitas, nilai lebih lain dari frasa ini adalah menjadi sangat well-advertised. Kerap diiklankan gratis atau sering disitir orang pada berbagai ruang diskursus jika bicara dalam perspektif pertentangan gagasan-gagasan sosial Karl Marx versus Agama. 

Pernyataan lengkapnya berbunyi: “Agama adalah keluh kesah dari masyarakat yang tertindas, hati dari dunia yang tidak berhati dan jiwa dari keadaan yang tidak berjiwa. Agama adalah candu masyarakat (“Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people).”
Afirmasi agama adalah candu, atau dalam bahasa Jerman “Die Religion  ist das Opium des Volkes” mulanya dikemukakan pada bagian pembukaan tulisan Marx berjudul “A Contribution to the Critique of Hegels Philosophy of Right yang dia tulis tahun 1843 dan realis tahun 1844 di Paris melalui “DeutschFranzösische Jahrbücher”, suatu jurnal yang dieditorinya sendiri bersama Moses Hess. Beberapa waktu kemudian, setelah melalui proses penerjemahan dalam beberapa bahasa, munculah versi bahasa Inggrisnya yang cukup terkenal hingga saat ini “Religion is the opium of the people.”

Pesan intelektual yang Marx usung dalam pernyataannya ini hendak meneropong fakta tentang posisi paradoksal agama dalam relasi kegunaannya secara sosial dan terutama politik ekonomi pada jamannya, bai yang dianalisisnya di Prancis, Inggris dan terutama Jerman.
Dengan dasar argumentasi materialisme dialektikanya, Marx keras menyoroti partikularitas (sifat mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok diatas kepentingan yang lebih umum, dan yang terutama ada kaitannya dengan dimensi kepentingan baik secara politik, ekonomi dan kebudayaan), dan sifat eksklusif agama yang dipandang sebagai salah satu sebab primer (jika bukan dianggap biang keladi) atas segala bentuk kekerasan baik psikis, fisik maupun doktrin terhadap masyarakat tertindas, kelompok marginal di tangga kesejahteraan ekonomi (kaum proletariat). Nilai-nilai dan pernyataan-pernyataan dalam agama yang luhur, menenangkan, membahagiakan dan menawarkan cita-cita hidup yang lebih tinggi di suatu masa di depan, justeru dikapitalisasi untuk menciptakan ketidakberdayaan disertai penundukan masyarakat hingga mereka pasrah menerima apa adanya keadaan-keadaan yang dialami. 
Bahwa jiwa penundukkan kaum proletar bermanifestasi dalam wujud visitasi dan doktrinasi dalil-dalil religiusitas dengan sengaja dipraktekkan secara efektif oleh para religiokratnya dan interpretasi menurut kepentingannya yang sepihak. Karena itu, agama dalam keberadaannya yang aktual-fungsional menjadi penyumbang sarat makna sekaligus ekspresi penderitaan manusia. Inilah point utama pernyataan agama sebagai opium yang bermaksud mengungkapkan protes atas ketidakberdayaan kelompok termarginal secara ekonomi dan kesejahteraan yang disebabkan aktualisasi ajaran agama. 
Dalam kecaman Marx, mereka-mereka yang menganut, mempraktekkan dan menggunakan ajaran agama untuk kepentingannya serta penguatan kelompok kapitalis dan penguasa dipandangnya memiliki pemahaman agama yang sempit sehingga perlu diluruskan dan diberi pemahaman yang benar.


MENGAPA OPIUM?
Mengapa Marx mengambil kiasan pada opium untuk menjelaskan peran agama di kancah dialektika materialisme yang berujung pertarungan upaya penggulingan posisi antara kaum proletariat dengan kelompok pemilik modal dan sarana produksi (Borjuis), serta menyajikannya dalam kalimat yang bernada sangat satire? Tidak lain, karena pada jaman dimana Marx hidup dan mengaktifasi gagasan-gagasan kritikalnya, opium merupakan jenis obat atau  suplemen mental yang dianggap mujarab meski punya efek adiktif. Pemakaian opium pada jaman itu tidak mengandung arti buruk, sebaliknya merefleksi identitas dan kelas sosial penggunanya. Opium yang berefek candu itu merupakan jenis obat murah yang mampu diperoleh masyarakat kelas pekerja. Tujuan mengkonsumsinya pun berbeda dengan masa sekarang yang ternyata justeru menandai penyimpangan kepribadian, moral, hukum, bahkan sebagai salah satu sumber penyakit adiktif yang sangat dilawan oleh aparat penegak hukum.

Sebaliknya, terkait agama, banyak pemikiran dan pemahaman masyarakat yang kurang terlalu jernih menyimak dan memahami pesan penghargaan Marx terhadap agama. Dalam pandangan Penulis, Karl Marx cukup menghargai nilai-nilai ideal agama bagi kehidupan manusia yakni sebagai sesuatu yang besar dan berdampak bagi masyarakat. Hanya saja, menurutnya di dalam kendali para religiokrat, Agama dimainkan sebagai agen pengatur ritme kepentingan kaum borjuis yang berkorporasi dengan negara/pemerintah sebagai pemegang otoritas pemaksaan kepatuhan. Suatu kombinasi yang komplit dan berkelindan antara instrumen paksa, modal dan "penenang" yang penggunaannya menjadi begitu mudah menundukkan pemberontakkan kelas proletar yang senyatanya rentan penindasan karena tidak punya modal, mesin dan keberpihakkan regulasi.

Saat Marx mengimpresi agama sebagai candu, secara antagonik, Marx sementara mengkonstruksi pandangannya bahwa kekuatan agama yang besar tersebut bisa membentuk ilusi kebahagiaan di benak dan pikiran masyarakat dan jadi semacam opium bagi orang-orang (kaum proletar) yang didera rasa sakit dan sengsara. Suatu keadaan yang sungguh-sungguh dimengerti serta dimainkan secara efektif oleh para religiokrat (kaum agamawan). Maka, sekedar terjebak hanya pada frasa "agama adalah candu" tanpa membongkar secara utuh meta meaning yang yang diintroduksi Marx, menyebabkan posisi argumentasi Marx tentang adanya ilusi kebahagiaan yang ditawarkan agama dihakimi sebagai perlawanan atau antitesis agama. Dimana dalam pandangannya, ilusi kebahagiaan ini justeru sangat mudah melemahkan semangat perlawanan kaum tertindas terhadap kelas diatasnya yang opresif, kelas sosial yang ‘tanpa hati dan jiwa’. Penulis menginterpretasi pandangannya ini sebagai cermin yang memantulkan emosi intelektual filosofis marx.
-----------------------
(Bersambung)

MARXISME ANTITESIS AGAMA?(Bagian II)

Oleh: Hendry Nofry Pasalbessy


POSISI FILOSOFIS MATERIALISME MARX.
Posisi filosofis materialisme Karl Marx secara langsung memiliki kaitan dengan agama, sebab itu akan menempuh jalur yang benar bila untuk menjelaskan lebih substansial mengenai Marx dan agama, kita mulai dari posisi filosofis materialisme yang dia pakai mendasari analisa-analisanya (pengemukaan pendapat yang dipertahankan sebagai suatu kebenaran), yang tergambar dalam beberapa premis antara lain:
*. Dunia materi ada secara mandiri dari manusia atau makhluk lainnya yang memiliki kesadaran.
*. Dunia materi ini tidak berasal dari gagasan atau pikiran manusia melainkan gagasan dan pemikiran manusialah yang berasal atau diperoleh dari dunia material ini. 
*. Pengetahuan riil jika tidak total atau absolut tentang dunia dan seisinya, adalah sesuatu yang nischaya dan memang susah di capai.
*. Manusia adalah bagian dari alam tapi bagian yang istimewa. 

Simpul umum pandangan Marx yang termuat dalam beberapa premisnya diatas tidak lain paham dalam radius pembahasan filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar adalah materi. Jadi secara mendasar, semua hal yang terdiri dari materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satu-satunya substansi sehingga segala sesuatu yang lain termasuk seluruh entitas nonmaterial patut ditolak bila karakteristinya tidak memanifestasi aktifitas materi. Dalil materalisme Marx ini, berkaitan erat dengan penemuan-penemuan ilmu di dunia yang kini hasilnya telah menjadi fakta-fakta umum karena telah dibuktiakan berkali-kali dari penerapan dan praktek sepanjang waktu. 
Dalam pemikiran Marx (juga sahabat kolaboratifnya Friedrich Engels), manusia adalah penghasil konsep dan ide-ide bagi hidup mereka. Manusia menjadi aktif secara nyata justeru karena dikondisikan oleh perkembangan tertentu dalam kekuatan produktifnya. 

Marx menemukan hukum perkembangan sejarah manusia. Fakta sederhana yang melampaui paham apapun ialah bahwa manusia haruslah pertama-tama makan, minum, punya tempat tinggal untuk perlingungan fisiknya dan ada pakaian untuk membungkus diri sebelum bisa berkumpul berkelompok dan berbicara tentang banyak hal atau fenomena termasuk politik, kesenian, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya, termasuk agama sekalipun. Disinilah salah satu kunci pokok paham materialisme, Itulah sebabnya produksi materi sebagai survifal tool yang menghasilkan tingkatan perkembangan ekonomi yang dicapai manusia, membentuk fondasi dimana institusi-institusi negara, konsepsi-konsepsi legal, kesenian dan bahkan ide tentang agama kemudian tersusun dan terbentuk. 

Uraian diatas menunjukkan bahwa pokok-pokok ide Marx, baik implisit maupun eksplisit memaktubkan sikap dan pandangannya yang jelas terhadap agama. Pertama, Marx beranggapan bahwa keyakinan agama di dalam berbagai bentuknya patutlah dikecualikan sebab hal itu berkaitan dengan sesuatu fenomena yang nonmaterial, sementara itu, ide-ide dan praktek religius sebagaimana ide-ide dan praktek lainnya adalah produk sejarah dan produk sosial oleh manusia, sebab itu pula agama adalah materi yang diproduk oleh ide yang adalah juga bersifat material. 
Kedua, argumen Marx yang berbasis materialisme itu menuntut penjelasan materialis lebih lanjut dari agama. Mengikuti cara berpikir Marx, tidak tepat bila kita memandang agama sebagai murni fantasi, hayalan atau kebodohan yang kebetulan memikat benak dan batin manusia selama berabad-abad. Artinya ada kecenderungan atau motiv “materialisme partikular.” 
Penulis menggunakan istilah materialisme partikular untuk menjelaskan bahwa ada pengutamaan kepentingan kelompok kapitalisme melalui praktek kedip mata kepentingan antara pihak-pihak pendukung kapitalis rente (kaum borjuis). Mereka mengoptimalkan kapasitas penggunaan agama yang sangat disadari sebagai sesuatu yang vital dan sensitif bagi setiap lapisan masyarakat.

Keutamaan kesadaran reflektif Marx yang mengantarnya masuk sangat dalam menyoroti agama diawali ketertarikannya pada kritik agama yang disampaikan Bruno Bauer (seorang teolog radikal berbasis Hegelian Jerman pada abad pertengahan). Selain Bauer, ada juga Ludwig Berbach sebagai salah satu kiblat utama pembentukan orientasi gagasan Marx. Interaksi pertama Marx dan Bauer terjadi pada kira-kira tahun 1839 tepat saat Bauer mementori Marx pada mata kuliah Kitab Yesaya di FriedrichWilhelm University di Berlin. Proses ini mengasah kekritisan Marx sehingga banyak melahirkan topik tentang agama di awal-awal karirnya sebagai penulis sekaligus jurnalis. Sebab itu tidaklah mengherankan bila Marx cukup memiliki kesadaran realitas menyangkut bagaimana agama berkelindan dengan kepentingan politik dan kekuasaan ekonomi di masa itu.

Marx secara yakin menemukan adanya hubungan tidak semestinya antara gereja dengan pemegang kekuasaan yang terjadi di ranah agama dan politik Eropa pada abad 19. Hal mana membuatnya marah secara intelektual dan psikologis atas kenyataan bahwa kelompok elit penguasa terutama kaum agamawan yang semestinya menjadi parton atau trendsetter etis bagi penguatan kesejahteraan kaum buruh disamping penguatan spiritualnya justeru menggunakan agama untuk memobilisasi dan mengkapitalisasi tenaga kerja dan kepatuhan mereka demi memenuhi hasrat kapitalisme. 

Marx menyadari besarnya kekuatan agama yang mampu digerakkan ke dua arah secara bersamaan yang mampu memunculkan praktek dalam logika belah bambu (mengangkat yang satu dan meredam yang lain), yakni bagaimana agama kerap digunakan sebagai alat penggerak masa oleh mereka yang berkuasa atau mereka yang ingin mendompleng penguasa. Pada saat yang sama agama dijadikan sebagai ilusi kepada mereka yang tertindas agar tetap tunduk tanpa daya. Jika kita mau lihat sedikit lebih dalam Marx sebenarnya sedang berusaha menyadarkan umat beragama untuk tetap kritis pada apa yang dipercayainya.

Buntut kemarahannya itu, Marx (bersama Engels) mengkonstatir pernyataan keras yang dikemudian waktu menjadi salah satu argumennya yang paling berpengaruh, yakni bahwa agama haruslah dapat dijelaskan dalam konteks kondisi sosial dan ekonomi, tidak melulu teologis dan terkotakkan pada dikotomi atas (sorga/sakral/suci) atau bawah (neraka/profan/dosa). 

Sebab itu, menurut Penulis, rasa-rasanya kurang tepat bila kita jatuh pada penghakiman dengan mengatakan bahwa Marx adalah seorang pemikir yang anti agama. Namun demikian, Penulis mengakui bila ada yang mengatakan bahwa kelemahan Marx dalam membahas agama adalah justeru karena dia sendiri secara historis terpantau tidak memiliki atau membangun komitmen apapaun dengan agama manapun yang ada di masa itu.
---------------------
(Bersambung)

MARXISME ANTITESIS AGAMA?(Bagian III)


Oleh: Hendry Nofry Pasalbessy



MENGAPA MARX DICITRAKAN ANTI AGAMA?
Terdapat dua alasan yang mendasari citra anti agama disematkan kepada Marx. Pertama, karena konstruksi gagasan dan fondasi filosofis yang dibangun Marx mengacu pada kondisi sosial politik jaman yang dijalaninya serta buah perenungan intelektual dalam perjumpaan dengan baik tokoh-tokoh kritis maupun tulisan-tulisan mereka, bahkan hingga perseteruan teoritisnya dengan mereka, semisal Bruno Bauer, beberapa gagasan Hegel (terutama berkaitan dengan gagasan perkembangan kesadaran manusia), termasuk beberapa  konsep Feuerbach, salah satunya “The Essence of Christianity. 
Terang sekali penulis menemukan Marx sebagai pemikir dan teoris yang memegang filosofi materialisme dibandingkan idealisme dan itu tergambar dalam banyak tulisan yang mengulas tentang dirinya dan pokok pikirannya yang sedikit banyak memuntut interpretasi objektif kita dalam menilai citra, wawasan dan dukungannya pada eksistensi agama.

Menurut Marx, masyarakatlah yang membentuk agama (Man is the world of man  state, society. This state and this society produce religion, which is an inverted consciousness of the world, because they are an inverted world). Posisi berdiri gagasannya adalah bahwa agama dan tuhan tidak lain proyeksi manusia dan tidak lain dari sebuah produk realitas material (sebagaimana disampaikan dalam bagian tulisan Penulis sebelumnya). Artinya, Tuhan bukanlah makhluk yang eksis sebelum manusia dan menentukan eksistensi manusia (pre-existing being) namun keberadaan manusialah yang menentukan eksistensi Tuhan. Jadi dengan demikian Tuhan adalah realitas dan makna yang sengaja dicetuskan manusia agar dia sendiri bisa dengan rela didominasi.
 
Kedua karena dinamika politik internasional yang mempertentangkan perebutan zona global bagi kepentingan penanaman ideologi yang terjadi secara diametral, utamanya antara dua paham besar yakni paham liberal-kapitalisme melawan sosialis-komunisme cukup menyudutkan paham Marxisme karena diidentikkan dengan komunisme. Pergolakan ini turut menyedot persepsi atas ajaran-ajaran Marx dengan kadar konotasi kiri yang cukup kuat sehingga apapun yang dia tawarkan sebagai solusi, cara dan analisa atas suatu kondisi menjadi musuh besar penguasa di negara-negara berbasis demokrasi-liberal-kapitalisme serta dan kelompok-kelompok yang ingin mempertahankan status quo atau ingin menyelamatkan posisi kekuasaannya. Hal ini dialami beberapa negara-negara yang level pertumbuhan demokrasinya cukup baik. Contoh terbaiknya bisa dirujuk pada konteks Indonesia (yang Penulis gelari negara demokrasi berasa kapitalisme malu-malu”) yang pernah punya sejarah kelam benturan komunisme (G30.S/PKI) versus TNI sebagai instrumen negara dan kelompok besar masyarakat agama (utamanya Islam). Pengalaman itu automatically merangkai persepsi umum masyarakat Indonesia yang buruk tentang hubungan marxisme dengan agama. Tentu saja ini mungkin terjadi diakibatkan gambaran yang ditarik dari pembacaan setengah-setengah atas sejarah yang ada. Padahal. Jika disibak secara lebih mondial, sejarah perjumpaan Marxisme dengan agama tidak hanya di eropa timur, Cina, Cuba, Korea Utara Vietnam atau Rusia di masa Stalin. Represi dan penindasan terhadap kaum beriman bukanlah fenomena yang hanya terjadi dalam masyarakat yang dipimpin oleh kelompok Marxis. Di masa awal revolusi Rusia, kelompok Bolsevic bahkan berhasil memikat simpati kelompok Muslim.

Kesimpulannya, ketika Marx mengkritik agama, sesungguhnya yang sedang dia kritik adalah konstruksi materialisme di balik agama yang dimainkan guna kepentingan kapitalisme kaum borjuis. Marx pun patut diakui sebagai bukan figur yang mengagungkan dan memuja eksistensi salah satu agama bagi kegunaan dan kapasitas spiritualitas dirinya karena dianggapnya bertentangan dengan gaya berpikir logis yang dicari dasarnya pada paham yang bersifat materialis, namun dia sesungguhnya amat sangat menentang pandapat apapun yang melarang agama. Agama dalam pandangan Marxis seharusnya adalah urusan privat dan urusan agama apapun haruslah berlaku di negara terlepas dari apapun ideologinya. Tidak boleh ada diskriminasi dalam beragama apalagi menggunakan kapasitas sistem keagamaan untuk melakukan diskriminasi, intimidasi dan alienasi sosial. Mereka yang punya keyakinan tertentu terhadap agama tidak patut dipandang sebagai seakan-akan seorang fundamentalis atau reaksioner dan karena itu seyogyanya pemilik keyakinan agamapun tidak berperilaku linear dengan gaya fundamentalis dan reaksioner.

Dengan demikian maksud kritik-kritiknya adalah untuk memurnikan nilai dan praktek keagamaan oleh masyarakat pelaku dan pemujanya. Maka pada posisi inilah, Penulis ingin kembali kepada kesimpulan di awal tulisan, bahwa sekalipun sebagian besar orang merasa punya alasan untuk membencinya dalam sejarah atas nama maintenance keberlanjutan nilai, ekosistem dan sejarah eksistensi agama, Karl Marx merupakan pribadi yang turut melindungi eksistensi nilai-nilai agama secara paradoxal menurut caranya. 
Sebagai penutup, ingin dikatakan bahwa “Karl Marx memang tidak sempurna tetapi Penulis dan para pembaca perlu juga berefleksi secara objektif serta membenahi akar berketuhanan serta berkeagamaan kita melalui belajar dalam nalar kritis, sebab kebenarannya adalah sekalipun cara  beriman kita tidaklah salah bahkan patut ditingkatkan, kita tidak dapat sombong dan menutup diri untuk berkata ada banyak masalah dalam cara kita beragama dan karena itu Karl Marx tidak melakukan kegagalan gagasan.

KIRANYA TULISAN INI BERMANFAAT BAGI PEMBACA.
------------------------
Selesai

Sunday, May 3, 2020

APA SEBETULNYA WAKTU ITU

Oleh: Hendry Nofry Pasalbessy.

Apa sebetulnya waktu itu? 
Yang menggenggam kita secara sangat aneh dan misterius?
Kenyataan tanpa wujud yang selalu saja superior. 
Sanggup meluruhkan daya, membuat kita tidak pernah mampu mengalahkannya!

Kita bahkan terjerat melayaninya yang terus berlari di lintasannya tanpa terhentikan, hingga harus mengakui dari dalam energi hidup kita yang terkulai kehilangan kesombongan, bahwa; Bukan hanya “ketika waktunya tiba”, namun sepenjang waktu kita tidak memegang kendali.” Ya!, waktulah tuan kita yang terhormat.

Kita tidak dapat lagi kembali ke masa lalu dan dengan kemustahilan itu pula tidak akan bisa memproyeksikan diri kita di masa depan!, hingga melemparkan beban itu pada intuisi dan imajinasi yang terbukti beberapa diantaranya meleset jauh.
Itulah kenyataan yang melumpuhkan kedikdayaan aku, kamu, kita dan jagat raya ini di hadapan waktu yang tidak lain misteri.

Waktu!,..
Dia mewajahkan mitos atas kita hingga dengan sedikit berlaga bijak, juga penuh sok tahu berkata “tenang saja karena waktu akan menyembuhkan” luka-luka hati kita, padahal nalar kita sudah selesai menerangkan betapa lebih banyak ia tidak berkontribusi melakukan hal demikian.
Dan saat kamu berkata “sudah tidak ada waktu lagi” untuk berleha-leha atas sesuatu, aku mungkin justru berkata “kita masih punya banyak waktu.”
Lalu siapakah yang sesungguhnya membual penuh kepongahan antara aku dan kau di hadapan waktu itu?

Inilah kebenarannya bahwa dia tidak pernah menunggu siapapun dan keadilannya mutlak tak terbantakan sebab baik kemarin, detik ini dan untuk selanjutnya, dia memberi kepada kita secara berimbang dari keberadaannya.

Aku, kamu, mereka dan siapapun, bahkan alam ini dijatahi penuh waktu yang sama. Kau presiden punya waktu yang sama dengan tukang sayur yang tiap hari lalu-lalang didepan rumahku.
Kau politisi yang paling gagah dan flamboyang tidak dikaruniai waktu lebih sedetikpun dibandingkan tukang cukur rambut yang hanya bekerja di waktu terang.
Pejabat birokrat, pendeta, guru maupun industriawan yang sibuk dibebani banyak tanggungjawab, tidak memiliki waktu yang lebih dari seorang pengamen jalanan, pengemis, gelandangan pengangguran, siswa putus sekolah.
Semua punya waktu yang sama!

Dia kadang dihakimi sebagai kejam manakala tukang maling ayam dihadapkan pada koruptor, tetapi akan selalu adil dalam perjalanan waktu untuk menjadi si penuntut balas.

Dia dirayakan dan disematkan nama, kualitas dan kuantitas hingga punya otoritas yang terus berputar dalam rorasi penanda tertentu, menyebabkan pada kita ada ulang hari, ulang minggu, ulang bulan, ulang tahun, ulang abad dan segenap ulang-ulang lainnya.

Sementara, diapun terus berjalan menabur usia, mempertua seluruh kenyataan hingga ketika bagian dari diri kita pergi, menjadi mustahil untuk bisa kembali.

Yaa!, dia memang tidak memberi sebagaimana layaknya ketika uang dan materi bisa kita habiskan berulang-ulang dan menghabiskannya dengan cara apapun yang kita mau. 
Waktu,.. kita hanya bisa menghabiskannya sekali dan sesudahnya dia tidak akan pernah kembali walaupun kita kadang-kadang berharap ia akan kembali.

Sungguh, sebagaimana detik ini aku berharap dalam doa engkau sang waktu yang penuh kekuatan itu, akan kembali lagi dan terus kembali di 2 Mei untuk dia meski yang kembali bukanlah waktu yang sama.

“Selamat Ulang Tahun ke-6, VICTOR NATANOF IMMANUEL PASALBESSY 
Mari bersama merancangkan harapan terbaik bagimu di sepanjang tahun ini, dan akan ku ajari tentang “tidak ada penjelasan atas kehidupan yang lengkap tanpa menyertakan beberapa pertimbangan tentang waktu”, sebab bukankah UNTUK SEGALA SESUATU ADA WAKTUNYA?!
TUHAN MEMBERKATIMU.
-------
Posting pertama 03 Mei 2020