Oleh: Hendry Nofry Pasalbessy
Dalam konstruksi pandangan filosofis dan praktek hidup masyarakat sekuler bergenre pop culture yang semakin rasionalistik, tarikan kuas penggambaran landscape new era nampak sedang tebal-tebalnya menggaris nisbat teknologi modernitas sebagai pemburam peran-peran mendasar dari apa yang saya sebut "agama doktrinal" berbasis kitab ajaran yang ribuan tahun berpijak sebagai spot episenter dari dimensi eksistensi sekaligus sarana survivalitas rohani/jiwa manusia.
Bahwa jika pada agama doktrinal, teks-teks di rujuk sebagai landasan acuan keyakinan, hal ini berbeda dengan era teknologi dimana kehadiran aktual berbagai perangkat fisik dan jaringan hasil olah pikir manusia rasional yang mengandung daya virtual justeru dijadikan landasannya.
Diantara begitu berserakannya sarana yang diproduksi melalui jaman baru ini, smartphone yang ada dalam genggaman manusia termasuk yang sedang saya gunakan untuk menulis artikel ini, nampak telah menjamah tahta transendensi di balik pengakuan masyarakat modern sebagai salah satu "tuhan" (t huruf kecil). Smartphone mengakuisisi Tuhan konvensional yang dinarasikan agama-agama kitab.
Bentuk fisik, merk ter-endorse, konten-konten dan aplikasi smartphone tersaji serupa potensi kuasa ketuhanan yang memformulasi dan mentransformasi secara dominan harapan para penggunanya, mengatur dan mengendalikan melalui algoritma (terlepas dari ada atau siapa operator yang mengendalikan).
Algoritma itu sendiri telah mempartisi tiap-tiap penggunanya ke dalam aliran-aliran kepercayaan yang diikuti dan ditekuni secara sukarela hingga melahirkan banyak dogma termasuk dogma post-truth yang ramah dan kompromistis pada pseudo fenomenologi, dimana apapun realitas yang muncul atau sengaja dimunculkan bisa diatur dan dimanipulasi melalui standar ganda nilai.
Hoax pun telah menjadi semacam credo yang wajar, normal dan sah-sah saja ditaati masyarakat informasi.
Tujuannya tidak lain agar sesuai dengan espektasi yang di cari. Itu sebabnya tidak terlalu keliru bila dikatakan bahwa terasa kita kini sedang mengenyam didikan-didikan bersubstansi hoax secara masif sebagai kebenaran alternatif. Sebagian diantara masyarakat, berlangsung, memeluk dan mencintai hoax nyaris segila-gilanya seperti dalam fenomena para pengikut aliran keagamaan tertentu yang kerap mengalami spiritualitas trance dihipnosi mistisisme. Minimal bisa kita tangkap fenomenanya manakala ada hajatan-hajatan publik besar seperti pemilihan umum dimana politisi dan atau operator survei berperilaku selayaknya pencipta sekaligus penyembah hoax. Tentu saja fenomena ini hanya sekelumit dari begitu banyaknya kondisi dan peristiwa yang permisif beriman kepada praktek hoax.
Kefanatikkan yang ekstrim dalam mengkonsumsi konten-konten melalui smartphone yang begitu baik hati bersedekah hoax, sangat mungkin suatu ketika akan mengubah dan menurunkan *Tuhan-agama" dari Tahta Langit Suci (terjemahan dari The Sacred Canopy karya Peter L. Berger) untuk kemudian menobatkan "tuhan-teknologi" sebagai being sang penunduk, penunjuk dan pengarah kehendak atas orientasi humanitas dan transenden manusia.
Bedanya, jika bagi Berger, agama adalah "Realitas Sosial" tempat manusia mengartikulasi iman, new era nampak paradoks sebab introduksi dasar-dasar keimanannya dilandasi realitas teknologi yang membanjiri adrenalin daya eksis manusia melalui konten-konten media sosial serta dipergunakan sebagai semacam simbolik ritus religiusitas.
Dalam situasi ini, penting mengaktifkan "Kesadaran imanen" -potensi terkuat- sebagai medium filter yang menyaring intensitas paparan dari kooptasi tuhan-teknologi yang nampak dalam sebongkah smartphone. Meski langkah ini pun tidak mudah karena kita terlanjur berada di pusaran transisi pergulatan triple being yakni, Tuhan-agama, tuhan-teknologi dan tuhan-antroposentrik yang lebih jauh bisa pembaca dalami melalui bukunya Yuval Noah Harari, bertajuk "Homo Deus"
Aktivasi kesadaran kita selalu relevan dan penting untuk mematahkan eksistensi tuhan (t huruf kecil) dalam sebongkah smartphone, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk orang-orang yang kita sayangi termasuk anak-anak kita.
Perlu untuk selalu terlibat bersama dan mengedukasi anak-anak kita saat mengarungi samudera kosmologi virtual smartphone untuk menjaga kemurnian dari pemurtadan iman dan percaya mereka kepada Tuhan (T huruf besar) yang selama ini kita perkenalkan kepada mereka.
Bagaimanapun juga smartphone bukan lagi elementer asing dari tubuh, pikiran dan hati manusia, bahkan dalam kiasan tertentu telah menjadi nyawa ekstenal tiap orang yang terutama sangat dihidupi penuh semangat oleh anak-anak.
Sebab itu, karena kita sudah tidak mungkin lagi menarik device berotak artifisial bernama smartphone dari mereka maka sebaiknya fokuskanlah anak-anak kita pada dimensi positif keberadaan smartphone agar menolong mem-profiling kecerdasan majemuk anak-anak.
Saya sendiri mengijinkan dan (sedapat mungkin) mengawasi penggunaan smartphone oleh anak-anak saya dengan tujuan mengisi lembar-lembar file kecerdasan di otak mereka. Mulai dari kecerdasan analitik, kecerdasan kinestetik, musikalitas hingga kecerdasan linguistik.
Semoga!
No comments:
Post a Comment