Saturday, August 5, 2023

REMAH DARI MEJA PELATIHAN MULTIMEDIA GKP JEMAAT DAYEUHKOLOT

Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy



I. PENGANTAR.
BERKESEMPATAN mengikuti pelatihan MULTIMEDIA yang disampaikan oleh Pa Binsar Napitupulu dan Pa Andrianto pada Minggu, 30 Juli 2023 di gedung Kapel Rehuel Rumah Sakit Immanuel-Bandung, saya menemukan remah-remah pengetahuan yang saya yakini menjadi kebutuhan kita di jemaat. Kebutuhan yang dapat mendesain keunggulan komparatif jemaat berbasis skill sekaligus kekuatan pengetahuan kolektif internal jemaat (potensi yang seakan tidak ingin disadari dan diasup/ditimba oleh jemaat).

Sebagai seorang yang menyenangi dan berlatar belakang pengetahuan ilmu-ilmu sosial, psikologi dan filsafat, saya di awal tidak saja mempersepsikan materi ini bukan kebutuhan saya, melainkan memandang bahwa materi ini tidak akan menarik, kaku dan kering (maklum saja karena basis yang saya miliki dengan apa yang akan saya ikuti merupakan dua dunia yang bertabrakkan secara diametral). Itu alasannya ketika ada undangan mengikuti pelatihan melalui grup jemaat, saya tidak terlalu responsif terhadap ajakan presensi guna mengikuti materi ini. 

Jika akhirnya saya menjadi satu dari antara kurang lebih 7 peserta ketika itu, alasannya berangkat dari rasa galau menyimak budaya partisipasi berjemaat kita yang nampaknya sedang tidak pada performa yang ideal (mohon maaf jika asumsi ini berlebihan). Karena itu saya memilih ikut sekedar menjadikan diri sebagai teladan partisipasi melalui keterlibatan tubuh meski sejak awal pandangan saya masih tetap tidak berubah bahwa pelatihan ini bukan kebutuhan saya. Asumsi lainnya, presentasinya nanti akan membosankan dan tidak ada pengetahuan baru yang mungkin akan saya dapatkan menurut kebutuhan saya. 

Persepsi awal saya itu kemudian patah berantakkan. Alasannya paling sedikit ada dua hal:
1. Konten (isi) materinya ternyata menyenangkan dan mengajarkan pengetahuan yang baru --setidaknya mampu memperluas horizon pengetahuan saya, dimana peta maknanya dapat saya konversi ke arah pemahaman-pemahaman ilmu sosial yang saya pahami meski secara terbatas.
2. Para trainer (Pa Binsar dan Pa Andrianto) ternyata hebat, cerdas dan piawai mengulas sistem kerja perangkat multimedia. Saya jadi merasa belajar pada guru yang tepat. Mereka menyampaikannya dengan apik, ringan, sangat rileks  namun sistematis. Tidak ada kesan pedagogis di sana (sistem belajar guru-murid dimana guru memandang dirinya lebih qualified dibandingkan murid) melainkan memilih laku sebagaimana apa yang dikenal sistem pembelajaran andragogis (teman belajar  yang saling mentransformasi pengetahuan sehingga menjadi kaya dan cerdas bersama-sama).



II. INFORMASI YANG SAYA DAPAT.
Sensorik memori pengetahuan saya menangkap sejumlah isi pelatihan dan menancapkannya dengan sangat lugas pada ingatan hingga menambah wawasan pengetahuan multimedia saya. Beberapa konten materi yang ter-cover antara lain:

KESATU:
Multimedia GKP Jemaat Dayeukolot, dalam hampiran jaringan sistem dapat dipartisi atau dibagi ke dalam 3 divisi besar yakni:
1. Perangkat yang berkaitan dengan sistem operasi Sound Sistem;
2. Perangkat yang berkaitan dengan operasi sistem software Video and Mixing (V'mix);
3. Perangkat yang mengelola sistem Presentation.

KEDUA:
- Bahwa secara elementer, sistem operasi sound sistem terkait dengan optimalisasi fungsi suara yang meramu atau mengkonektifisasi Mic, Keyboard, speaker kontrol dan beberapa perangkat lain dan sentralnya ada pada pendayagunaan mixer.

-. Operasi aplikasi software V'Mix memungkinkan peliputan dan penayangan baik berupa video streaming maupun secara live streaming yang memungkinkan untuk mempublikasikan produksi secara langsung ke internet. (Apa yang saya pahami ini, jika ternyata keliru, mohon pencerahan pengetahuan lagi dari Pa Binsar dan Pa Andri). 

Dengan adanya kebutuhan peliputan untuk video streaming maupun live streaming, maka pengenalan dan pengetahuan tentang sistem pengoperasian camera menjadi include ke dalam penguasaan komponen V'Mix. 

-. Bagian penting berikutnya adalah perangkat yang mengelola sistem Presentation; berupa operasi software komputer Power Point (setidaknya untuk saat ini) dari harapan ideal agar pada waktu mendatang Power Point ini akan diganti penggunaannya oleh aplikasi Easy Worship karena dipandang lebih adaptif dan berpresisi tinggi (mengandung persesuaian yang sangat akurat terhadap elemen-elemen kebutuhan peribadahan) saat menayangkan pelaksanaan ibadah atau kegiatan gerejawi lainnya melalui in-vocusdan bahkan di platform jaringan internet.

KETIGA:
Bahwa ketiga bagian ini (Sound Sistem, V'Mix dan Presentation) merupakan elemen yang integral antara satu dengan yang lain sehingga optimalisasi fungsinya terkoneksi dan dijalankan secara bersamaan. 

KEEMPAT:
Bahwa untuk dapat mengoperasikan seluruh perangkat inti ini, dibutuhkan paling sedikit 4 (empat) operator, yakni;
-. 1 operator sound sistem;
-. 1 operator V'Mix;
-. 1 operator Presentation;
-. 1 atau 2 operator Camera.
Dimana seyogyanya seluruh operator merupakan orang-orang bekerja bermodal skill spesifik.

Saya yakin persis bahwa pelatihan multimedia ini dimaksudkan untuk tujuan ini (mencari dan membentuk skill anggota jemaat). 
Maka adalah berkat yang luar biasa jika ada jemaat yang mau bersekolah di kesempatan belajar secara gratis ini. Dan, saya berusaha keras menepis pikiran pesimis saya akan kemungkinan ini meski tetap saja sulit. 

KELIMA:
Bahwa sesungguhnya Pa Binsar, Pa Andrianto dan teman-teman komisi Multimedia adalah orang-orang yang dianugerahi kapasitas berpikir positifnya Dan optimisme yang mengagumkan. Mengapa?
karena mereka yakin akan ada banyak dari anggota jemaat Dayeuhkolot yang punya spirit belajar untuk terus belajar mengembangkan kapasitas diri (saya menyebutnya "retreanibilitas"). 
Karena itulah meski pada Pelatihan sesion yang pertama minim partisipasi namun mereka committed menyelenggarakan pelatihan yang kedua pada Minggu 6 Agustus 2023 di tempat dan jam yang sama.



III. MEMAKNAI PERAN MULTIMEDIA BAGI GKP JEMAAT DAYEUHKOLOT.
Dibandingkan sejumlah Gereja lain di provinsi Jawa Barat, bahkan di Gereja Kristen Pasundan sendiri, Jemaat GKP Dayeuhkolot memiliki situasi yang terbilang spesifik yang lahir dari realitas permasalahan berjemaatnya. 

Dalam pandangan saya selaku anggota simpatisan, Jemaat Dayeuhkolot sedang mengalami dilema mono-duarealitas, dimana pada satu sisi, penyelenggaraan seluruh proses berjemaat dan bergereja terpaksa berlangsung melalui cara berdiaspora di atas teritorial pelayanannya sendiri imbas patologi hukum dan patologi sosial yang dihadapinya.
Sementara pada realitas yang lain, terjadi penurunan mobilitas partisipasi bergereja anggotanya dengan level kuantifikasi cukup signifikan.

Realitas sebagaimana saya sampaikan di atas, bila ditanggapi dengan cara berpikir "hanya ingin dilayani", tentu sekali akan berimbas kepada semakin melemahkan kapasitas jemaat ini baik dalam hal rasio kecukupan ketersediaan standar anggota jemaat menurut Tata Gereja GKP (berkurangnya SDM jemaat), dan juga menurunnya spirit keterpanggilan untuk turut serta dalam arak-arakan persekutuan, kesaksian dan pelayanan (melemahnya aspek tripanggilan).

Karena itu, seyogyanya pandangan "hanya ingin dilayani" ini diubah melalui cara berpikir yang lebih visioner progresif, dan itu yang saya jumpai melalui momentum eksistensi komisi multimedia di jemaat Dayeuhkolot.
Komisi multimedia ini menurut saya adalah jalan keluar terbaik saat ini untuk menata langkah kaki bergereja kita di Dayeuhkolot sehingga terus berbuah bagi kemuliaan Tuhan.

Komisi multimedia kita, saya pandang merupakan tumpuan terkokoh kita saat ini yang mungkin Tuhan siapkan namun tidak kita sadari sehingga kita agak mengabaikannya.

Mengapa saya berpandangan seperti ini? 
Beberapa hari lalu ketika saya duduk bersantai di auditorium Universitas Maranatha sambil membaca-baca Artikel ilmiah (mengisi waktu menunggu Istri saya mengikuti acara pelantikan pengurus DPD PWKI Provinsi Jawa Barat, situasi yang hampir sama sebagaimana detik menulis ini juga saya sementara duduk santai malam di depan warung Kopi KASIH di jalan Antapani). Artikel mana mengasup pikiran akademis sekaligus kesadaran teologis saya bahwa hakikat Gereja sebagai bangunan tempat ibadah selalu berubah menurut perubahan jaman dalam balutan rencana keselamatan Allah bagi manusia.

Dimulai dari seonggok susunan batu sebagai "Mezbah Pembakaran Ukupan", menjadi "Kemah (Suci), menjadi " Perkumpulan di rumah-rumah" Pada masa pembuangan di Babel, menjadi "Bait Allah", menjadi Sinagog, terus bertransformasi makna ke dalam "Tubuh Ketuhanan Kristus" yang kematianNya mempersonifikasi runtuhnya Bait Allah dalam tiga hari, selanjutnya bertransformasi makna lagi menjadi "Gereja sebagai Anggota Tubuh Kristus" yakni jemaat yang akhirnya menginstitusionalisasi diri di masa sekarang sebagai organisasi dan bangunan Gereja.

Perubahan-demi perubahan mana bila dicerna dari perspektif Iman Kristen menurut saya hendak mengantar kita pada jawaban bahwa yang hakiki bukanlah bangunan gedung melainkan Gereja yang adalah manusianya sendiri. Suatu yang karena itu Tuhan mengijinkan Pandemi Covid terjadli guna mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu memenjara diri dalam dinding-dinding bangunan gedung dan karena itu rintangan berkebaktian di gedung Gereja Sukabirus bukanlah akhir atau pembunuh eksistensi Jemaat kita.

Pada titik ini, kebaktian melalui sarana multimedia bukanlah suatu kebetulan belaka. Dan, bahwa penyelenggaran kebaktian berbasis pemanfaatan Teknologi Komunikasi dengan jaringan internet dan
Media Sosial sebenarnya adalah bentuk transformasi lanjutkan dari Mezbah Pembakaran Ukupan atau bangunan gedung Gereja. 

Bukankah keunggulan dari 
Teknologi ini adalah dalam jangkauan lebih luas sehingga batas jarak dan waktu tidak menjadi penghalang yang itu artinya ada banyak anggota jemaat kita yang dimudahkan untuk merawat iman Kristen mereka lewat ibadah virtual? 

Lebih dari itu, SKB 2 Menteri dan kejumawaan segelintir orang yang haus radikalisme tidak mudah memberangusnya sebagaimana mereka lakukan atas bangunan fisik Gereja di Sukabirus! 

Ibadah-ibadah yang dilaksanakan secara Virtual (Zoom Cloud 
Meeting), Live Streaming, Video Streaming dan Tele Conference dapat menciptakan interaksi yang real time yang itu artinya ada realitas kenormalan berjemaat yang bisa terus dipertahankan.

Mamang harus diakui bahwa upaya adaptasi pada kultur baru dimana konsep dan praktek Ibadah berubah dari Gereja ke rumah dan berbagai tempat atau online via media sosial sejauh tersedia internet dan perangkat smartphone bukanlah sesuatu hal yang mudah diterima taken for granted sebab ini berkaitan dengan survifalitas pertahanan budaya lama. Bagi sejumlah orang (dan saya akui termasuk diantaranya), ada something yang kurang dirasakan seperti situasi khidmat, kurang konsentrasi 
bahkan ada yang menganggap seperti melihat siaran televisi ketika kita beribadah via jaringan maya. 

Namun demi memandang masa depan bergereja kita di Jemaat GKP Dayeuhkolot dan juga peka iman menanggapi rencana-rencana terbaik Allah yang dimaksudkan atas kita dan Jemaat kita, rasa-rasanya saya teramat yakin bahwa eksistensi multimedia kita di bawah komando Pa Binsar, Pa Andri, Pa Agus, Vicco dan seluruh pendukung lainnya adalah bentuk janji penyertaan Tuhan atas langkah-langkah Jemaat dan Gereja kita. 



IV. PENUTUP.
Kembali pada perihal pelatihan multimedia, bahwa pada aspek yang terdalam, pelatihan ini harus dimaknai lebih serius dan mendalam bahwa ketika kita bersama-sama mendukung pelatihan dan bersedia menjadi calon operator Multimedia, itu afirmasi iman bahwa belajar hakikatnya ibadah kita yang bersifat kontekstual dan bahwa melalui kontekstualisasi ibadah itulah kita telah memilih untuk terus melayani Tuhan di jemaat tercinta.

Mari menyambut pelatihan Multimedia sesion-II (Minggu, 6 Agustus 2023). In Majorem Gloriam Dei (semua untuk kemuliaan Tuhan). 

No comments:

Post a Comment