Sunday, August 20, 2023

PANDANGAN

Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy. 


Melihat atau memandang bukanlah sekedar visualisasi objek belaka. Bukan sekedar mengarahkan dan menghadapkan tatapan pada suatu objek tertentu di luar diri dengan menggunakan mata jasmaniah kita.

Melihat berkaitan juga dengan keterlibatan banyak aspek lain baik secara internal (diri) maupun eksternal (kondisi di luar).

Aspek internal yang berkaitan langsung dengan penglihatan misalnya, mata dan otak. Mata melihat tetapi otak selaku wadah dimana pemikiran menetap yang memproses untuk melihat, menilai dan menginterpretasi apa yang dilihat. Jika diteruskan lebih jauh maka pandangan juga berkaitan dengan hati selaku wadah dimana rasa dan mental berkelindan mengalami baik apa yang terobjektifikasi oleh mata dan pikiran maupun yang terresonansi dalam alam imajinasi yang selanjutnya terasa oleh batin. Sementara aspek eksternal bisa berkaitan dengan tempat dimana posisi seseorang berdiri dan menjadi titik awal sudut pandang (misalnya melihat dari tempat yang tinggi akan berbeda dengan melihat dari tempat yang rendah); bisa berkaitan dengan tempus atau waktu ketika suatu objek di pandang. Katakanlah memandang suatu di tengah laut ketika siang hari dan ketika malam hari tentu akan sangat berbeda. Aspek eksternal lain yang juga cukup besar pengaruhnya dalam hal pandangan atau penglihatan mata adalah suhu, cuaca dan iklim.


Abstraksi di atas lebih jauh diuraikan pada, beberapa point berikut ini:

1. Pikiran yang menilai dan menginterpretasi untuk membuat suatu keputusan.
Bahwa dengan menerima tendensi realitas objek penglihatan, pikiran setiap orang secara alamiah akan bereaksi menilai realitas objek yang tertancap lalu kemudian berupaya menangkap makna-makna (meanings) yang melekat pada apa yang terlihat. Makna-makna yang terstruktur dan terorganisir dalam pikiran itu kemudian di deskripsi keluar dengan berbagai cara yang simbolik baik verbal, lisan maupun visualisasi ekspresif lewat gerak fisik anggota tubuh.

Contoh kasus:
Dalam perjalanannya ke sekolah, Victor melihat peristiwa kemacetan di jalan raya. Pikirannya serentak menilai kemacetan tersebut, baik berkaitan sebab-sebab terjadinya maupun dampak yang akan timbul akibat kemacetan. Interpretasi hasil penilaiannya adalah kemacetan yang terjadi ini bisa atau tidak beresiko menghambat Victor untuk tiba di sekolah tepat waktu. Penilaian evaluatif dan interpretasinya kemudian menghasilkan keputusan apakah dia harus bersabar menghadapi kemacetan atau kembali pulang ke rumah dan tidak masuk sekolah hari ini.


2. Posisi berpijak yang mempengaruhi luasan zona pandangan.
Sudah menjadi hukum alam bahwa siapa yang berdiri paling depan cenderung akan melihat lebih objektif karena memiliki rintangan penglihatan yang relatif sedikit, sebaliknya siapa yang berdiri paling belakang akan menghadapi rintangan penglihatan yang lebih banyak, baik karena jarak maupun karena material penghalang yang ada di sepanjang jalur penglihatan untuk sampai pada objek inti penglihatan/pandangan.

Begitu pula, orang yang berada di tempat yang tinggi cenderung memiliki luas penglihatan yang lebih signifikan dibanding orang yang melihat dari tempat yang rendah. 

Contoh kasus.
Victor mengajak Amie untuk pulang sekolah sama-sama, tetapi Amie tidak mau jika waktu pulangnya sekarang karena dari depan pintu pagar sekolah Amie melihat di depan, jalanan sangat macet. Hal ini justru berbeda dengan Victor yang karena dia sementara ada di lantai 5 sekolah mereka dapat melihat jelas bahwa kemacetan tersebut hanya terjadi di depan sekolah yang artinya kemacetan tersebut tidak terlalu panjang sehingga cukup aman untuk perjalanan pulang. Posisi berdiri Victor yang lebih tinggi inilah yang membuatnya dapat melihat jauh lebih luas dari pandangan Amie.
Artinya, posisi berdiri mereka berdua menghasilkan evaluasi dan interpretasi yang berbeda dengan rekomendasi penilaian serta decicion making yang berbeda.


3. Waktu dan intensitas konsisten pencahayaan mempengaruhi ketajaman pandangan. 
Berbeda dengan beberapa jenis hewan nokturnal yang penglihatannya (termasuk pendengaran dan penciumannya) cukup tajam di malam hari, manusia dikaruniai ketajaman penglihatan yang lebih baik di siang hari dan kurang baik di waktu malam hari.

Pada saat penglihatan manusia kurang baik di waktu senja atau malam lumrah bahwa proses mengobjektifikasi fokus oleh mata juga akan menurun, bahkan cenderung bias secara kualitatif. Di dalam kondisi malam atau tempat yang gelap, apa yang terlihat oleh seseorang menjadi lebih samar.l atau tidak jelas sehingga berdampak dalam hal penilaian, diinterpretasi dan keputusan bertindak.

Memang selain alasan waktu dan intensitas konsisten pencahayaan, ada juga gejala bilogis lain seperti karena indikasi medis tertentu dari mata seseorang yang menyebabkan proses dan hasil proyeksi objek berubah, yakni karena penyimpangan dari fungsi normal retina mata seseorang.
Kita tahu bahwa pada retina mata, bekerja dua jenis saraf mata yakni saraf batang (yang bekerja pada kondisi redup) dan saraf kerucut (yang bekerja pada saat kondisi terang) dimana malfungsi pada kedua jenis saraf ini dapat mengakibatkan hemeralopia (rabun di siang hari) atau nyctalopia (rabun saat senja dan malam hari).


4. Suhu, cuaca dan klim turut mempengaruhi kemampuan mengobjektifikasi fokus pada apa yang dipandang.

Suhu, cuaca dan klim yang dimaksud bisa berupa panas atau kering ekstrim maupun dinging ekstrim.
Cuaca panas kering di padang gurun dapat menghasilkan fatamorgana, --bias pandangan yang mengandaikan terdapat oasis atau kolam kecil berisi air segar di padang gurun. Fatamorgana ini nampak di saat seseorang mengalami kondisi kelelahan dan dehidrasi akut.

Terbalik dari menghadapi suhu tinggi semisal di padang gurun, suhu dingin ekstrem pun berdampak hampir serupa pada tubuh, otak dan penglihatan seseorang. Penyebabnya karena serangan hipotermia.
Seseorang yang mengalami hipotermia dapat menyebabkan terganggunya fungsi-fungsi kerja otak dan mata terutama kornea dan retina akan terganggu.

Kedinginan ekstrim yang dialami tubuh menyebabkan distraksi kerja enzim otak sehingga berdampak disorientasi berpikir seperti mengalami kebingungan, halusinasi, bahkan amnesia dikarenakan jantung tidak dalam performa baik untuk memompa darah dan otak kekurangan oksigen.

Tubuh manusia memang memiliki mekanisme alamiah untuk melangsungkan survifalitas organ-organnya menghadapi kondisi kurang normal. Tapi, selalu ada batas optimum dari toleransi tubuh dalam menanggung perubahan keadaan oleh tubuh.


Perspektif seseorang tentang suatu realitas atau objek bergantung pada dan terintegrasi secara keseluruhan dengan kondisi atau perubahan kondisi realitas atau objek dengan impac perubahan konsepsi realitas, evaluasi, penilaian, interpretasi dan penetapan keputusan.
Selamat membaca.

No comments:

Post a Comment