Saturday, November 30, 2019

MEMULIAKAN ALLAH DENGAN MENGHADIRKAN DAMAI SEJAHTERA DI BUMI

Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy

"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." (Lukas 2:14)

Bunyi Lukas 2:14 diatas adalah dasar bagi penetapan tema natal Gereja Protestan Maluku tahun 2019 yang berbunyi “Memuliakan Allah Dengan Menghadirkan Damai Sejahtera Di Bumi.” Suatu pesan profetik yang memandu suasana penantian dan perayaan Natal segenap keluarga besar AMGPM serta khusus di Daerah Pulau Ambon. Tema ini juga sekaligus menjadi pedoman memantapkan semangat melayani di tahun pelayanan 2020.

Bila disimak bersama, terdapat dua ide atau kata kunci penting dalam narasi Lukas 2:14 yang diteruskan ke tema Natal GPM tahun ini yaitu: kata kunci “Kemuliaan”, dan kata kunci “Damai Sejahtera”. Sehubungan itu terdapat 4 (Empat) pertanyaan yang patut kita renungi bersama:
Satu, mengapa kita diminta memuliakan Allah?;
Dua, seberapa substansial Damai Sejahtera sehingga memuliakan Allah perlu dilakukan melalui menghadirkannya?;
Tiga; apa kaitan Damai Sejahtera dengan Kristus yang kita nantikan dan rayakan KelahiranNya?, serta; Empat; Apa relefansi dibalik pesan tema natal ini bagi keluarga besar AMGPM Daerah Pulau Ambon --bahkan-- semua orang Kristen?

Kata “Kemuliaan” di Lukas 2:14, dalam bahasa Inggris disebut “glory”, dan bahasa Ibrani "Kabod". Kedua kata ini mengandung arti Berlimpah, Mulia, Makmur, Agung. Sementara padanan bahasa Yunani untuk kata Kemuliaan ialah “Doxa” yang artinya, Semarak, Kecemerlangan, atau Kemasyuran.
Kemuliaan Allah dalam berbagai pengertian ini menjelaskan sifat, tindakan, karakter dan cara Tuhan dalam manifestasi diri-Nya di tengah manusia. Manifestasi mana salah satunya diwujudkan melalui cara bagaimana Tuhan Yesus hadir dan berkarya.

Ada alasan Firman Tuhan mengarahkan kita untuk memuliakan Allah dalam hidup. Tentu saja dalam hal ini alasannya bukan untuk kepentingan di pihak Allah. Mengapa demikian? karena Allah yang kita imani dalam kekristenan adalah Allah yang berlimpah dalam segala sesuatu selain bukan merupakan Tuhan yang egosentris, yang seolah-olah menggunakan saudara dan saya serta persekutuan AMGPM Daerah Pulau Ambon untuk menegaskan superioritas ketuhanan-Nya melalui media dan ritual memuliakan-Nya. Oleh karena itu, tidaklah keliru bila dalam konteks puji-pujian sebagai wujud memuliakan Allah, seorang tokoh besar gereja, Martin Luter pernah berkata, “puji-pujian berguna untuk orang percaya, bukan untuk Allah”. Artinya bila terasa seperti kita sedang memuliakan-Nya itu hanyalah respons terhadap kabaikan-Nya selain melalui tindakan memuliakan Allah, kita diajarkan memusatkan hidup pada ketergantungan akan Allah.
Perlu untuk diinsafi secara mendalam bahwasanya hakikat Tuhan yang sempurna tidak akan bertambah sedikitpun kemuliaan-Nya karena interfensi puji dan puja kita. Karena itu, sekali lagi untuk menegaskan prinsip iman kita, jika kita diminta memuliakan Allah, itu hal baik yang mengajarkan kita memusatkan hidup pada ketergantungan akan Allah.

Lalu, apa itu Damai Sejahtera yang kehadirannya menjembatani spirit memuliakan Allah sebagaimana ditegaskan tema yang kita geluti saat ini? Sepadan dengan Eirene dalam bahasa Yunani dan Shar Shalom dalam bahasa Ibrani, Damai Sejahtera mengandung makna “tenang, damai, sentosa, keharmonisan antar individu, keamanan, keselamatan, kemakmuran”. Dan secara kontekstual, diksi Damai Sejahtera bisa kita pahami melalui paling tidak tiga indikator keunikan sekaligus penting.
Bahwa Damai Sejahtera itu ada di hati. Damai sejahtera itu lahir dan menetap di dalam hati seseorang secara eksklusif dimana sifat penganugerahannya transenden (berasal dari Allah yang mahatinggi) sekaligus imanen (digeluti sepenuh hati dalam kehidupan).
Bahwa mempraktekkan Damai Sejahtera membutuhkan keluhuran sikap hati. Semua usaha untuk perform Damai Sejahtera (penampakan ke luar) akan melelahkan secara mental dan hasilnya  semu bila dilakukan tanpa benar-benar melibatkan kepenuhan hati. Artinya, ajakan untuk aktualisasi Damai Sejahtera adalah sia-sia dan buang-buang energi mental bila tidak sungguh-sungguh keluar dari keluhuran sikap hati kita. Parahnya, itulah das sein (kenyataan) yang selalu kita perankan.
Bahwa Damai Sejahtera itu untuk berbagi. Damai sejahtera itu tidak pernah dimaksudkan untuk konsumsi pribadi, sebab tujuan spiritualitas dari Damai Sejahtera diperuntukkan guna kebutuhan hidup dalam kaitan eksistensi bersama dan bersesama.

Dalam buku berjudul ‘Salt And Light’ (Garam dan Terang), Heyden Robinson mengargumentasikan bahwa: “Tidak akan ada damai di antara negara, jika tidak ada damai di dalam negara,.. tidak ada damai di dalam negara jika tidak ada damai dalam (hati) orang-orangnya,… dan, tidak ada damai dalam (hati) orang-orang jika (mereka) tidak menyerahkan hidupnya ke tangan Raja Damai.” Disinilah letak kaitan Damai Sejahtera dengan Kristus yang kita nantikan dan rayakan KelahiranNya.
Adalah Nabi Yesaya, yang pada masa Perjanjian Lama --kira-kira 2700 tahun lalu-- meramalkan, “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” (Yesaya 9:5).
Sang Raja Damai yang diramalkan dalam ayat ini tidak lain menujuk kepada Kristus, Aktor penggenap pengharapan Israel.
“Raja Damai” dalam bahasa Ibrani adalah “Shar Shalom”, sementara dalam bahasa Yunani Septaguinta “arkhontas Eirene” artinya adalah “Pemimpin kedamaian” atau “Pangeran Damai (Prince of Peace).” Menunjuk kepada “seseorang yang menghapus unsur-unsur yang mengganggu kedamaian, sekaligus mengukuhkan kedamaian itu.” Suatu profil Pemimpin yang berbanding terbalik atau berhadapan makna dan taktikal peran secara diametral ketika menelisik kecenderungan semua sistem pemerintahan saat ini yang menggantungkan kekuasaannya pada kekerasan, dendam dan permusuhan, politik saling meniadakan, penyebaran berita bohong (hoax), agitasi, dan penghianatan, pertumbahan darah dan produksi sifat-sifat patologis lainnya.

Pesan tema natal ini bagi keluarga besar AMGPM Daerah Pulau Ambon, mengandung suatu relefansi yang mengarah kita kepada bagaimana “Memulikan Allah” sekaligus mewujudnyatakan “Damai Sejahtera” pada seluruh medan perutusan atau panggilan.

Sehubungan ini, saya membayangkan sementara memandang pada sebuah salib. Ya, salib! Benda yang namanya beberapa waktu lalu membibiri berita media masa, cetak dan online, yang seakan menggelisahkan namun sensasional untuk terus dihidupkan dalam wacana kerukunan antar penganut agama. Salib, salah satu rujukkan simbolik kekristenan yang mengarahkan kita pada Kristus, dimana melaluinya mata rohani kita melihat ada dua arah yang menggambarkan dua keadaan yang saling sinergi yang menuntun orientasi kita dalam beriman. pertama adalah “Palang Kemuliaan.” Kemuliaan selalu berkenaan dengan yang berada di tempat yang mahatinggi. Allah itu mulia dan kita memuliakan Dia dalam kemuliaan-Nya, bukan kemuliaan kita. Yang kedua adalah “Palang Damai Sejahtera.” Berkenaan dengan yang berada di bumi yang menjembtani kita pada peran-peran profetis penginjilan dan pemuridan. Dan dari keduanya, hal yang harus ada atau dinyatakan lebih dulu yakni KEMULIAAN di tempat yang mahatinggi, barulah kemudian ada DAMAI SEJAHTERA di bumi.

Dalam peran dan tanggungjawab kita sebagai bagian dari gereja (Warga Gereja),  tema tahun ini mengajarkan kita untuk yidak hanya berfungsi ke dalam (sentripetal) tetapi juga keluar (sentrifugal). Sehingga, berita keselamatan bukan hanya untuk ‘kebutuhan‘ warga gereja, sebaliknya  hal itu diupayakan sehingga setiap orang yang ada di luar tembok gereja juga merasakannya, menjadi fokus untuk berita Shalom yang dihadirkan. Ini indikasi kita berjalan pada rel tujuan berAMGPM dan bergereja.

Selanjutnya apa yang harus kita lakukan dalam upaya mewujudkan pesan Natal tahun ini, menurut saya, Pertama; Memandang penuh iman pada Allah didalam kemuliaan-Nya, bersamaan itu menetapkan niat yang dikukuhkan dengan komitmen untuk mengorientasikan hidup pada upaya Damai Sejahtera. Kedua; Sesudah menetapkan komitmen, kenali dan usahakan Damai dalam diri sendiri secara benar-benar hakiki dan sejati. Ketiga; Bangun perspektif yang kuat dalam pikiran kita bahwa tidak ada tugas yang lebih mulia daripada tugas pendamaian. Ini privilege kita yang dipanggil menjadi sarana Garam dan Terang. Dan Keempat; Mengaktualisasikan hidup kita secara pribadi dan dalam relasi dengan sesama sebagai agen pendamaian (peace maker), sebab bukankah untuk itulah kita menerima anugerah pendamaian dari Allah melalui Kristus (kelahiranNya, karya-karya hidupNya dan Kematiannya?). Melalui cara ini, manfaat keagenan kita akan turut menolong sesama menemukan arti Damai Sejahtera dalam hidupnya sebagai suatu potensi alamiah yang telah disediakan Tuhan.
"Kiranya dalam kemuliaan-Nya, Tuhan menolong kita untuk menyatakan Damai Sejahtera di kiprah hidup kita, sebab kita adalah Garam dan Terang Dunia"
------------------------

Selamat Memasuki Adventus I

No comments:

Post a Comment