Monday, November 25, 2019

DAS SOLLEN, DAS SEIN, DAN MOGEN

Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy

Beberapa waktu lalu, dalam suatu diskusi menyorot dinamika tarik ulur Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (PERPPU KPK) Penulis sempat menyebutkan istilah "Das Sollen dan Das Sein" guna menunjuk situasi dialektika politik yang tengah berlangsung. Tidak disangka kedua istilah ysng menjembatani narasi yang Penulis argumentasikan memantik pertanyaan salah seorang peserta diskusi, yang menanyakan apa itu Das Sollen dan Das Sein berikut bagaimana konsep dimaksud dimaknai dalam suatu contoh kalimat!

Pada kesempatan diskusi yang waktunya cukup terbatas telah dijelaskan apa itu Das Sollen dan Das Sein, tetapi guna memberi penjelasaan yang benar-benar mendetail dengan kedalaman pengetahuan yang memadai sehingga menyentuh beberapa spektrum yang tidak sempat terjelaskan dalam diskusi, sekaligus merupakan interaksi edukaif lanjutan, berikut dibuat suatu tulisan ringan tentang apa itu Das Sollen dan Das Sein.

Sebelum memasuki penjelasan, Penulis ingin melengkapi bahwa bila pada kesempatan diskusi dimaksud hanya Das Sollen dan Das Sein yang disampaikan, pada kesempatan tulisan ini, diperkenalka pula konsep ‘Mogen’.

Baik Das Sollen, Das Sein, dan Mogen, ketiganya diambil dari bahasa Jerman. Das Sollen menunjuk arti sesuatu yang dicita-citakan atau yang patut diharapkan karena aspek idealitasnya. Das Sein sebeliknya menunjuk pada keadaan yang sementara berlangsung atau kenyataan yang mengaktual. Sementara Mogen menampakkan arti ‘relatif. Yakni, bisa berarti iya atau bisa juga ‘tidak’. Atau ‘dapat dibolehkan/diwujudkan’ tapi juga ‘dapat tidak dibolehkan/dikonkritkan’.

Ketiga konsep ini secara dimensional dapat diterapkan pada berbagai kondisi dan disiplin pengetahuan, baik itu dalam bidang teori dan penerapan hukum, dalam bidang kajian norma etik dan kaidah moralitas, implementasi ajaran agama, bahkan dalam metodologi suatu penelitian ilmiah. Misalnya, dalam lapangan penelitian ilmiah, Das Sollen memaknakan segala sesuatu yang mengarahkan pikiran dan sikap kita kepada suatu cita-cita atau impian kualitatif, bahkan utopia (sebagai sesuatu yang sangat didambakan). Suatu dunia kaidah serta kenyataan normatif yang menjadi patokan penerapan. Sementara Das Seinnya dalam kaitan ini dapat diartikan sebagai semua hal yang diimplementasi atau terimplementasi dari latar morivasional yang dicita-citakan melalui perspektif Das Solle. Das Sein dengan demikian secara konklusif merupakan peristiwa konkrit atau realita yang --telah-- terjadi.

Singkatnya, Das Sein adalah "apa yang ada/terjadi" sementara Das Sollen adalah "apa yang seharusnya ada/seharusnya terjadi."

Contoh Das Sollen, Das Sein dan Mogen pada beberapa bidang kehidupan dapat disebutkan di bawah ini.

1. Contoh dalam bidang Pendidikan:
Das Sollen: Jika ingin jadi Sarjana harus menyusun dan mempertanggungjawabkan skripsi di hadapan persidangan akademik.
Das Sein: Antara tahun 2001 hingga 2004 (masa-masa rekonstruksi dan reaktivasi kehidupan kampus pasca konflik sosial masyarakat Maluku) ada sejumlah mahasiswa di Universitas Pattimura yang meraih gelar akademik Sarjana hanya dengan menyusun dan mempertanggungjawabkan Proposal penelitian ilmiah (bukan skripsi)
Mogen: Gelar Sarjana di Universitas Pattimura antara tahun 2001 hingga 2004 itu boleh diraih melalui penulisan skripsi tapi juga boleh bermodalkan penulisan proposal.

2. Contoh dalam bidang penerapan Hukum:
Das Sollen: setiap orang yang hendak menyeberang jalan, harus melalui zebra cross.
Das Sein: sebagian dari masyarakat kita yang kurang taat aturan berlalulintas, menunjukkan perilaku menyeberang jalan tidak melalui jalur zebra cross.
Mogen: pada beberapa lokasi yang tidak terdapat zebra cross, orang boleh saja menyeberang jalan boleh juga tidak (tergantung kepentingan dan kebutuhannya).

Konteks aktual ketika tulisan ini dibuat bertepatan waktu menemani kedua anak Penulis (Victor Natanof Immanuel dan Amie Gracelly Immanuela) mengikuti latihan untuk mengisi acara natal Sekolah Minggu di GKP Jemaat Dayeuhkolot. Konteks ini kiranya baik dijadikan contoh menjelaskan aspek Das Sollen, Das Sein dan Mogen melalui suatu konstruksi peristiwa imajinatif (karena beberapa bagian karangan belum terjadi namun dikesankan akan demikian).
Diandaikan Natal Sekolah Minggu GKP (Gereja Kristen Pasundan) Jemaat Dayeuhkolot-Bandung akang digelar tanggal 23 Desember 2019 yang karna alasan dimaksud, beberapa minggu terakhir ini Natanof dan Gracelly terlibat latihan mengisi acara. Pada rencana lainnya, tanggal 22 Desember 2019 (sehari sebelum perayaan Natal Sekolah Minggu), mereka berdua akan berlibur ke Ambon (dan diandaikan hal itu benar-benar terwujud) yang karena itu berkonsekwensi tidak turut perform di Natal Sekolah Minggu bersama teman-teman sebaya yang lain".

Melalui lukisan peristiwa imajinatif ini, dapatlah ditemukan Das Sollen, Das Sein dan Mogennya.
Das Sollennya adalah seharusnya Natanof dan Gracelly turut mengisi acara pada Natal Sekolah Minggu sebab mereka sudah berlatih untuk hal dimaksud (mengisi acara menjadi cita-cita atau harapan di balik mereka berlatih).
Das Seinnya adalah ternyata mereka tidak menghadiri dan mengisi acara perayaan Natal dikarenakan fakta bahwa sehari sebelum Natal, mereka sudah pulang ke Ambon.
Sementara itu, Mogen dari peristiwa ini adalah fleksibilitas dimana mereka berdua boleh terlibat dalam Natal Sekolah Minggu bila tidak pulang ke Ambon tapi boleh juga tidak terlibat karena pulang ke Ambon sekalipun telah mengikuti sejumlah repetisi latihan, sebab mungkin ketidakterlibatan mereka tidak terlalu mengganggu formasi tertentu dari performance team.
Pada level yang lebih teoritis, beberapa contoh yang disampaikan diatas di atas menerangkan bahwa Das Sollen dimunculkan sebagai keharusan-keharusan normatif yang belum menjelma ke dalam tindakan. Itu pula alsannya, Das Sollen kerap diistilahkan "kenormaan" atau  "dunia norma", atau "dunia kaidah."

Terdapat beda sudut pemahaman Penulis dengan sebagian orang lain yang menelisik pokok bahasan yang serupa, terutama terkait persamaan Das Sollen dan Mogen. Menurut Penulis, Mogen pada akhirnya dinampakkan melalui aktualisasi salah satu sisi peluang eksistensi paradoksalnya yaitu diantara "boleh atau tidak boleh". Sementara menurut beberapa penelisik lain, baik Das Sollen maupun Mogen, kedua-duanya merupakan norma teoritis. Dengan kata lain, kedua-duanya belumlah menjelma atau dijelmakan dalam pelaksanaan, melainkan masih bentuk kenormaan. Sehubungan ini, menurut penulis akan baik dan produktif bagi tulisan ini dan bagi dialektika pengetahuan bila ada diskusi teks lanjutan, entah dalam perspektif dekonstruksi maupun konstruksi.

Lebih lanjut, Penulis berani menggariskan cara pandang yang menyebutkan bahwa "map meaning" (peta makna) adalah pembeda primer antara Das Sollen dan Mogen.
Das Sollen bermakna imperative (keharusan) yakni konsekwensi norma yang mengatur perihal kewajiban atau ketaatan prosedural. Sedangkan Mogen bermakna kebolehan atas norma yang menitikberatkan tentang hak.

Dalam prakteknya, Das Sollen dan Das Sein implementatif secara bersamaan di dalam segala bidang kehidupan manusia. Keduanya bisa saling melengkapi secara konstruktif tapi bisa juga Das Sein mendekonstruksi ekspektasi Das Sollen.

Sebagai penutup tulisan, menurut Penulis, perbedaan Das Sollen dan Mogen didemarkasi oleh kata kunci "kewajiban" dan "hak", sebaliknya perbandingan antara Das Sein dan Das Sollen dikodifikasi oleh kata kunci "masalah".

Semoga tulisan ini bermanfaat, dan terbuka untuk didialogkan lebih lanjut.

----------------------------------
(Didedikasikan untuk kedua anak Penulis Vinof dan Mielly yang penuh keceriaan di Sekolah Minggu)

No comments:

Post a Comment