Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy.
Baru sejenak bersantai di beranda depan rumah meluruhkan rasa lelah setelah menempuh perjalanan Bandung-Ambon, saya disuguhi riuhnya suara sekelompok anak dari arah depan rumah. Sekitar lima belas orang anak berbagai usia yang bisa ditaksir berumur antara 5 hingga 10 tahun baik anak perempuan maupun laki-laki, mereka dengan segenap "keapaadaannya" berjalan maju sambil mendorong sesama temannya disertai tingkah malu-malu mau. Dengan karakter kekanak-kanakannya mempertontonkan keceriaan dan kepolosan menghampiri saya sambil kompak mengucapkan "Salamat Natal deng Taong Baru, Om" (Selamat Natal dan Tahun Baru, Om). Suatu tanda verbal dari keinginan bertamu ("pegang tangan") dan mengharapkan diberi sesuatu di hari Natal serta tahun baru, entah berupa kue, camilan meja hidangan atau minuman soda atau yang lainnya. Diantara banyak kemungkinan yang bisa mereka dapatkan, umumnya anak-anak ini senang bila tindakkan simbolik "pegang tangan" itu diganjari lembar uang. Trend menerima uang ini yang di masa saya masih kecil, justru terbilang kesempatan yang sangat eksklusif dan jarang bisa diperoleh.
Dengan nilai mata uang sekarang, kira-kira antara Rp. 2.000 hingga Rp. 5.000 per anak, sudah cukup memantik tingkah sukacita mereka. Apalagi jika diberikan lebih dari itu, mereka akan lebih mengekspresikan kegembiraannya melalui berbagai cara, termasuk memproklamirkan kasusksesan mereka kepada teman-teman sebaya lain yang kebetulan dipapasi di jalan sambil mengusulkan agar jejak mereka diikuti. Hehehe begitulah anak-anak dengan dunianya.
Dalam kasus ini, mereka masing-masing saya beri Rp. 2.500 per orang dengan cara pecahan uang Rp. 5.000 diterima salah seorang anak untuk dibagi berdua dengan salah satu teman yang lain. Sesudah itu saya sempatkan mereka untuk mengambil beberapa potong kue di atas meja yang peruntukkannya memang bila ada tamu yang datang. Sesudah mendapatkan yang diinginkan, mereka berlalu dengan girang. Beberapa anak tidak lupa menyampaikan terima kasih, namun beberapa yang lain telah berlalu lebih dulu.
Peristiwa sebagaimana saya alami ini subur dalam tatanan budaya perayaan natal dan tahun baru di Ambon serta telah berlangsung lama. Saya yakin, dianut pada banyak masyarakat di manapun yang tipologi masyarakatnya homogen pada konteks agama dominan, entah itu Natal dan tahun baru di kalangan masyarakat Kristen atau Idul fitri di kalangan masyarakat Islam, atau konteks masyarakat beragama lain yang merayakan hari raya keagamaannya.
Lalu apa makna yang bisa di petik dari kodefikasi budaya "pegang tangan" yang melaluinya tertera pelajaran bersosial secara lebih substansial? Sementara pada bagian lain, kita sungguh merasakan bahwa tradisi tersebut seakan menyimpan energi sosial yang melimpah.
Jalan "pegang tangan" Natal dan Tahun Baru" menjadi salah satu tradisi dalam masyarakat Kristen Ambon yang sudah mengakar sangat dalam dan menjadi nyawa perayaan Natal dan Tahun Baru. Selain tradisi itu tetdapat juga trasisi lain seperti kebaktia/ibadah, piknik, pertemuan keluarga besar, pesta makan patita (makan bersama) hingga terbentuknya sel-sel temporal beberapa orang sekedar menghabiskan hari raya dengan nyanyi-dendang atau duduk menenggak miras.
Sebagai inklusi praktik budaya, tradisi pegang tangan tidak lain buah teologis yang mengalami pembiasaan laku individual yang secara alami menjadi kebiasaan masyarakat. Dan karena dipandang mengandung nilai positif maka kelangsungannya diwariskan secara turun-temurun hingga hari ini.
Sebagai kode budaya, tradisi "pegang tangan" menyingkap proses ritual sosial berwujud interaksi manusia individual maupun komunal dalam menjawab dinamika atau tantangan kehidupan. Dan bukankah budaya memang dimaksudkan salah satunya untuk itu?
Tradisi "pegang tangan" pun tidak hanya sekedar ritual sosial yang hampa, namun mengandung nilai filosofis dan kearifan lain.
Dalam konteks umum kelangsungan kehidupan sosial, tradisi "pegang tangan" menyiratkan rasa hormat dalam relasi anak terhadap orang tua, relasi seseorang terhadap orang lain yang lebih tua atau dituakan, termasuk dalam kontek relasi hubungan-hubungan formal di dunia pekerjaan yakni antara bawahan terhadap atasan. Selain itu juga sebagai perwujudan etika kesopanan yang bersifat universal terhadap orang lain dalam berbagai suasana dan tujuan perjumpaan. Yermasuk dalam hal ini, manajemen suasana bagi pemulihan ikatan-ikatan sosial yang retak dan masih banyak lagi.
Jika di tarik simpulan sederhana dari nilai tradisi "pegang tangan", paling sedikit ditemukan pesan tentang kedamaian sebab melekat pada makna Natal yang membawa damai. Sehingga "pegang tangan" adalah realisasi konkrit damai yang paling sederhana dan mudah dilakukan. Pesan kedua yakni adanya rasa saling mencintai, saling memaafkan, dan pesan beeikutnya tentu saja ekspresi dari komitmen untuk saling menjaga, saling menolong dan saling membela.
Sementara dalam konteks anak-anak, tradisi pegang tangan berguna menyemai bibit interaksi sisial positif yang mengajarkan pesan damai, kecakapan bersosialisasi, pengenalan dan kepercayaan pada lingkungan dan lain-lain. Bobotnya paling dominan ada pada perspektif sosiologis berupa sosialisasi dan psikologis berupa suasana produksi batin bahagia. Kondisi ini berdampak baik bagi pertumbuhan seorang anak dalam kaitan situasi faktual masyarakat. Jika ingin menjadi makluk manusia secara efektif memang sungguh diperlukan sosialisasi. Dan harus diakui tradisi "pegang tangan" itu medan perluasan daya sosialisasi seorang anak. Pada momentum ini, mereka mampu dan berani berziarah melintasi rasa canggung dan malu untuk bisa berinteraksi dengan orang lain yang mungkin sekali tidak mereka kanali dan akrabi sebelumnya. Fenomena ini bila dikelola efektif dan positif memperkuat daya hidup positif seorang anak yang berkontribusi langsung maupun tidak langsung bagi tata keteraturan sosial hari esok.
Akhirnya, interaksi sosial yang berharga ini merasuki hati anak-anak dan menciptakan suasana sukacita bagi mereka. Tanpa sadar, sukacita mereka pun menular ke diri saya, seperti ada anergi dari dalam yang menata pikiran dan hati saya untuk memandang banyak hal di luar secara lebih bijak.
Harus selalu belajar dari anak sebab mereka adalah sumber daya manusia yang ikut serta dalam pembangunan sosial dimana saya ada dan bergelut bahkan membutuhkannya secara sangat substansial.
-------------------
No comments:
Post a Comment