Oleh: Hendry Nofry Pasalbessy
MENGAPA MARX DICITRAKAN ANTI AGAMA?
Terdapat dua alasan yang mendasari citra anti agama disematkan kepada Marx. Pertama, karena konstruksi gagasan dan fondasi filosofis yang dibangun Marx mengacu pada kondisi sosial politik jaman yang dijalaninya serta buah perenungan intelektual dalam perjumpaan dengan baik tokoh-tokoh kritis maupun tulisan-tulisan mereka, bahkan hingga perseteruan teoritisnya dengan mereka, semisal Bruno Bauer, beberapa gagasan Hegel (terutama berkaitan dengan gagasan perkembangan kesadaran manusia), termasuk beberapa konsep Feuerbach, salah satunya “The Essence of Christianity.
Terang sekali penulis menemukan Marx sebagai pemikir dan teoris yang memegang filosofi materialisme dibandingkan idealisme dan itu tergambar dalam banyak tulisan yang mengulas tentang dirinya dan pokok pikirannya yang sedikit banyak memuntut interpretasi objektif kita dalam menilai citra, wawasan dan dukungannya pada eksistensi agama.
Menurut Marx, masyarakatlah yang membentuk agama (Man is the world of man state, society. This state and this society produce religion, which is an inverted consciousness of the world, because they are an inverted world). Posisi berdiri gagasannya adalah bahwa agama dan tuhan tidak lain proyeksi manusia dan tidak lain dari sebuah produk realitas material (sebagaimana disampaikan dalam bagian tulisan Penulis sebelumnya). Artinya, Tuhan bukanlah makhluk yang eksis sebelum manusia dan menentukan eksistensi manusia (pre-existing being) namun keberadaan manusialah yang menentukan eksistensi Tuhan. Jadi dengan demikian Tuhan adalah realitas dan makna yang sengaja dicetuskan manusia agar dia sendiri bisa dengan rela didominasi.
Kedua karena dinamika politik internasional yang mempertentangkan perebutan zona global bagi kepentingan penanaman ideologi yang terjadi secara diametral, utamanya antara dua paham besar yakni paham liberal-kapitalisme melawan sosialis-komunisme cukup menyudutkan paham Marxisme karena diidentikkan dengan komunisme. Pergolakan ini turut menyedot persepsi atas ajaran-ajaran Marx dengan kadar konotasi kiri yang cukup kuat sehingga apapun yang dia tawarkan sebagai solusi, cara dan analisa atas suatu kondisi menjadi musuh besar penguasa di negara-negara berbasis demokrasi-liberal-kapitalisme serta dan kelompok-kelompok yang ingin mempertahankan status quo atau ingin menyelamatkan posisi kekuasaannya. Hal ini dialami beberapa negara-negara yang level pertumbuhan demokrasinya cukup baik. Contoh terbaiknya bisa dirujuk pada konteks Indonesia (yang Penulis gelari negara demokrasi berasa kapitalisme malu-malu”) yang pernah punya sejarah kelam benturan komunisme (G30.S/PKI) versus TNI sebagai instrumen negara dan kelompok besar masyarakat agama (utamanya Islam). Pengalaman itu automatically merangkai persepsi umum masyarakat Indonesia yang buruk tentang hubungan marxisme dengan agama. Tentu saja ini mungkin terjadi diakibatkan gambaran yang ditarik dari pembacaan setengah-setengah atas sejarah yang ada. Padahal. Jika disibak secara lebih mondial, sejarah perjumpaan Marxisme dengan agama tidak hanya di eropa timur, Cina, Cuba, Korea Utara Vietnam atau Rusia di masa Stalin. Represi dan penindasan terhadap kaum beriman bukanlah fenomena yang hanya terjadi dalam masyarakat yang dipimpin oleh kelompok Marxis. Di masa awal revolusi Rusia, kelompok Bolsevic bahkan berhasil memikat simpati kelompok Muslim.
Kesimpulannya, ketika Marx mengkritik agama, sesungguhnya yang sedang dia kritik adalah konstruksi materialisme di balik agama yang dimainkan guna kepentingan kapitalisme kaum borjuis. Marx pun patut diakui sebagai bukan figur yang mengagungkan dan memuja eksistensi salah satu agama bagi kegunaan dan kapasitas spiritualitas dirinya karena dianggapnya bertentangan dengan gaya berpikir logis yang dicari dasarnya pada paham yang bersifat materialis, namun dia sesungguhnya amat sangat menentang pandapat apapun yang melarang agama. Agama dalam pandangan Marxis seharusnya adalah urusan privat dan urusan agama apapun haruslah berlaku di negara terlepas dari apapun ideologinya. Tidak boleh ada diskriminasi dalam beragama apalagi menggunakan kapasitas sistem keagamaan untuk melakukan diskriminasi, intimidasi dan alienasi sosial. Mereka yang punya keyakinan tertentu terhadap agama tidak patut dipandang sebagai seakan-akan seorang fundamentalis atau reaksioner dan karena itu seyogyanya pemilik keyakinan agamapun tidak berperilaku linear dengan gaya fundamentalis dan reaksioner.
Dengan demikian maksud kritik-kritiknya adalah untuk memurnikan nilai dan praktek keagamaan oleh masyarakat pelaku dan pemujanya. Maka pada posisi inilah, Penulis ingin kembali kepada kesimpulan di awal tulisan, bahwa sekalipun sebagian besar orang merasa punya alasan untuk membencinya dalam sejarah atas nama maintenance keberlanjutan nilai, ekosistem dan sejarah eksistensi agama, Karl Marx merupakan pribadi yang turut melindungi eksistensi nilai-nilai agama secara paradoxal menurut caranya.
Sebagai penutup, ingin dikatakan bahwa “Karl Marx memang tidak sempurna tetapi Penulis dan para pembaca perlu juga berefleksi secara objektif serta membenahi akar berketuhanan serta berkeagamaan kita melalui belajar dalam nalar kritis, sebab kebenarannya adalah sekalipun cara beriman kita tidaklah salah bahkan patut ditingkatkan, kita tidak dapat sombong dan menutup diri untuk berkata ada banyak masalah dalam cara kita beragama dan karena itu Karl Marx tidak melakukan kegagalan gagasan.
KIRANYA TULISAN INI BERMANFAAT BAGI PEMBACA.
------------------------
Selesai
No comments:
Post a Comment