Oleh: Hendry Nofry Pasalbessy
POSISI FILOSOFIS MATERIALISME MARX.
Posisi filosofis materialisme Karl Marx secara langsung memiliki kaitan dengan agama, sebab itu akan menempuh jalur yang benar bila untuk menjelaskan lebih substansial mengenai Marx dan agama, kita mulai dari posisi filosofis materialisme yang dia pakai mendasari analisa-analisanya (pengemukaan pendapat yang dipertahankan sebagai suatu kebenaran), yang tergambar dalam beberapa premis antara lain:
*. Dunia materi ada secara mandiri dari manusia atau makhluk lainnya yang memiliki kesadaran.
*. Dunia materi ini tidak berasal dari gagasan atau pikiran manusia melainkan gagasan dan pemikiran manusialah yang berasal atau diperoleh dari dunia material ini.
*. Pengetahuan riil jika tidak total atau absolut tentang dunia dan seisinya, adalah sesuatu yang nischaya dan memang susah di capai.
*. Manusia adalah bagian dari alam tapi bagian yang istimewa.
Simpul umum pandangan Marx yang termuat dalam beberapa premisnya diatas tidak lain paham dalam radius pembahasan filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar adalah materi. Jadi secara mendasar, semua hal yang terdiri dari materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satu-satunya substansi sehingga segala sesuatu yang lain termasuk seluruh entitas nonmaterial patut ditolak bila karakteristinya tidak memanifestasi aktifitas materi. Dalil materalisme Marx ini, berkaitan erat dengan penemuan-penemuan ilmu di dunia yang kini hasilnya telah menjadi fakta-fakta umum karena telah dibuktiakan berkali-kali dari penerapan dan praktek sepanjang waktu.
Dalam pemikiran Marx (juga sahabat kolaboratifnya Friedrich Engels), manusia adalah penghasil konsep dan ide-ide bagi hidup mereka. Manusia menjadi aktif secara nyata justeru karena dikondisikan oleh perkembangan tertentu dalam kekuatan produktifnya.
Marx menemukan hukum perkembangan sejarah manusia. Fakta sederhana yang melampaui paham apapun ialah bahwa manusia haruslah pertama-tama makan, minum, punya tempat tinggal untuk perlingungan fisiknya dan ada pakaian untuk membungkus diri sebelum bisa berkumpul berkelompok dan berbicara tentang banyak hal atau fenomena termasuk politik, kesenian, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya, termasuk agama sekalipun. Disinilah salah satu kunci pokok paham materialisme, Itulah sebabnya produksi materi sebagai survifal tool yang menghasilkan tingkatan perkembangan ekonomi yang dicapai manusia, membentuk fondasi dimana institusi-institusi negara, konsepsi-konsepsi legal, kesenian dan bahkan ide tentang agama kemudian tersusun dan terbentuk.
Uraian diatas menunjukkan bahwa pokok-pokok ide Marx, baik implisit maupun eksplisit memaktubkan sikap dan pandangannya yang jelas terhadap agama. Pertama, Marx beranggapan bahwa keyakinan agama di dalam berbagai bentuknya patutlah dikecualikan sebab hal itu berkaitan dengan sesuatu fenomena yang nonmaterial, sementara itu, ide-ide dan praktek religius sebagaimana ide-ide dan praktek lainnya adalah produk sejarah dan produk sosial oleh manusia, sebab itu pula agama adalah materi yang diproduk oleh ide yang adalah juga bersifat material.
Kedua, argumen Marx yang berbasis materialisme itu menuntut penjelasan materialis lebih lanjut dari agama. Mengikuti cara berpikir Marx, tidak tepat bila kita memandang agama sebagai murni fantasi, hayalan atau kebodohan yang kebetulan memikat benak dan batin manusia selama berabad-abad. Artinya ada kecenderungan atau motiv “materialisme partikular.”
Penulis menggunakan istilah materialisme partikular untuk menjelaskan bahwa ada pengutamaan kepentingan kelompok kapitalisme melalui praktek kedip mata kepentingan antara pihak-pihak pendukung kapitalis rente (kaum borjuis). Mereka mengoptimalkan kapasitas penggunaan agama yang sangat disadari sebagai sesuatu yang vital dan sensitif bagi setiap lapisan masyarakat.
Keutamaan kesadaran reflektif Marx yang mengantarnya masuk sangat dalam menyoroti agama diawali ketertarikannya pada kritik agama yang disampaikan Bruno Bauer (seorang teolog radikal berbasis Hegelian Jerman pada abad pertengahan). Selain Bauer, ada juga Ludwig Berbach sebagai salah satu kiblat utama pembentukan orientasi gagasan Marx. Interaksi pertama Marx dan Bauer terjadi pada kira-kira tahun 1839 tepat saat Bauer mementori Marx pada mata kuliah Kitab Yesaya di FriedrichWilhelm University di Berlin. Proses ini mengasah kekritisan Marx sehingga banyak melahirkan topik tentang agama di awal-awal karirnya sebagai penulis sekaligus jurnalis. Sebab itu tidaklah mengherankan bila Marx cukup memiliki kesadaran realitas menyangkut bagaimana agama berkelindan dengan kepentingan politik dan kekuasaan ekonomi di masa itu.
Marx secara yakin menemukan adanya hubungan tidak semestinya antara gereja dengan pemegang kekuasaan yang terjadi di ranah agama dan politik Eropa pada abad 19. Hal mana membuatnya marah secara intelektual dan psikologis atas kenyataan bahwa kelompok elit penguasa terutama kaum agamawan yang semestinya menjadi parton atau trendsetter etis bagi penguatan kesejahteraan kaum buruh disamping penguatan spiritualnya justeru menggunakan agama untuk memobilisasi dan mengkapitalisasi tenaga kerja dan kepatuhan mereka demi memenuhi hasrat kapitalisme.
Marx menyadari besarnya kekuatan agama yang mampu digerakkan ke dua arah secara bersamaan yang mampu memunculkan praktek dalam logika belah bambu (mengangkat yang satu dan meredam yang lain), yakni bagaimana agama kerap digunakan sebagai alat penggerak masa oleh mereka yang berkuasa atau mereka yang ingin mendompleng penguasa. Pada saat yang sama agama dijadikan sebagai ilusi kepada mereka yang tertindas agar tetap tunduk tanpa daya. Jika kita mau lihat sedikit lebih dalam Marx sebenarnya sedang berusaha menyadarkan umat beragama untuk tetap kritis pada apa yang dipercayainya.
Buntut kemarahannya itu, Marx (bersama Engels) mengkonstatir pernyataan keras yang dikemudian waktu menjadi salah satu argumennya yang paling berpengaruh, yakni bahwa agama haruslah dapat dijelaskan dalam konteks kondisi sosial dan ekonomi, tidak melulu teologis dan terkotakkan pada dikotomi atas (sorga/sakral/suci) atau bawah (neraka/profan/dosa).
Sebab itu, menurut Penulis, rasa-rasanya kurang tepat bila kita jatuh pada penghakiman dengan mengatakan bahwa Marx adalah seorang pemikir yang anti agama. Namun demikian, Penulis mengakui bila ada yang mengatakan bahwa kelemahan Marx dalam membahas agama adalah justeru karena dia sendiri secara historis terpantau tidak memiliki atau membangun komitmen apapaun dengan agama manapun yang ada di masa itu.
---------------------
(Bersambung)
No comments:
Post a Comment