Monday, May 11, 2020

MARXISME ANTITESIS AGAMA?(Bagian I)

Oleh: Hendry Nofry Pasalbessy


PENGANTAR.
Meski mungkin akan sedikit memantik kritik, Penulis ingin membuka tulisan ini dengan mengemukakan bahwa sekalipun sebagian besar orang merasa punya alasan untuk membencinya dalam sejarah atas nama maintenance keberlanjutan nilai, ekosistem dan sejarah eksistensi agama, Karl Marx merupakan pribadi yang turut melindungi eksistensi nilai-nilai agama secara paradoxal menurut argumen-argumen kritikalnya. 

Melalui konklusi ini pula Penulis mengajukan judul tulisan dalam rasa tanya yang mendalam, "Marxisme Anti Tesis Agama?, terutama Agama yang sebagian sistem serta pelakunya dihadapi Marx ketika berkutat dengan tiga akar pokok yang membangun dalil filosofis materialismenya yakni analisis terhadap pergolakan politik Prancis, spesifik revolusi borjuis sekitar tahun 1790-an, yang berrentetan  dengan perjuangan-perjuangan kelas berikutnya selama awal abad ke-19. Kedua, analisis kritisnya terhadap konstruksi ekonomi Inggris berkaitan sistem kapitalis yang berkembang di sana pada waktu itu. Berikutnya, akar ketiga Marxisme, yang secara historis merupakan titik permulaan Marxisme, tidak lain 'filsafat Jerman'. 


AGAMA ADALAH CANDU.
Atas banyak hal yang bisa kita kenang dari salah satu tokoh pilar ilmu Sosiologi dan politik Ekonomi ini, salah satunya pernyataan Agama adalah candu” dan karena itu tidak heran bila agama merupakan "opium masyarakat" adalah frasa paling populer dalam ruang-ruang pembahasan Marx dan materialisme dialektikanya. Selain popularitas, nilai lebih lain dari frasa ini adalah menjadi sangat well-advertised. Kerap diiklankan gratis atau sering disitir orang pada berbagai ruang diskursus jika bicara dalam perspektif pertentangan gagasan-gagasan sosial Karl Marx versus Agama. 

Pernyataan lengkapnya berbunyi: “Agama adalah keluh kesah dari masyarakat yang tertindas, hati dari dunia yang tidak berhati dan jiwa dari keadaan yang tidak berjiwa. Agama adalah candu masyarakat (“Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people).”
Afirmasi agama adalah candu, atau dalam bahasa Jerman “Die Religion  ist das Opium des Volkes” mulanya dikemukakan pada bagian pembukaan tulisan Marx berjudul “A Contribution to the Critique of Hegels Philosophy of Right yang dia tulis tahun 1843 dan realis tahun 1844 di Paris melalui “DeutschFranzösische Jahrbücher”, suatu jurnal yang dieditorinya sendiri bersama Moses Hess. Beberapa waktu kemudian, setelah melalui proses penerjemahan dalam beberapa bahasa, munculah versi bahasa Inggrisnya yang cukup terkenal hingga saat ini “Religion is the opium of the people.”

Pesan intelektual yang Marx usung dalam pernyataannya ini hendak meneropong fakta tentang posisi paradoksal agama dalam relasi kegunaannya secara sosial dan terutama politik ekonomi pada jamannya, bai yang dianalisisnya di Prancis, Inggris dan terutama Jerman.
Dengan dasar argumentasi materialisme dialektikanya, Marx keras menyoroti partikularitas (sifat mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok diatas kepentingan yang lebih umum, dan yang terutama ada kaitannya dengan dimensi kepentingan baik secara politik, ekonomi dan kebudayaan), dan sifat eksklusif agama yang dipandang sebagai salah satu sebab primer (jika bukan dianggap biang keladi) atas segala bentuk kekerasan baik psikis, fisik maupun doktrin terhadap masyarakat tertindas, kelompok marginal di tangga kesejahteraan ekonomi (kaum proletariat). Nilai-nilai dan pernyataan-pernyataan dalam agama yang luhur, menenangkan, membahagiakan dan menawarkan cita-cita hidup yang lebih tinggi di suatu masa di depan, justeru dikapitalisasi untuk menciptakan ketidakberdayaan disertai penundukan masyarakat hingga mereka pasrah menerima apa adanya keadaan-keadaan yang dialami. 
Bahwa jiwa penundukkan kaum proletar bermanifestasi dalam wujud visitasi dan doktrinasi dalil-dalil religiusitas dengan sengaja dipraktekkan secara efektif oleh para religiokratnya dan interpretasi menurut kepentingannya yang sepihak. Karena itu, agama dalam keberadaannya yang aktual-fungsional menjadi penyumbang sarat makna sekaligus ekspresi penderitaan manusia. Inilah point utama pernyataan agama sebagai opium yang bermaksud mengungkapkan protes atas ketidakberdayaan kelompok termarginal secara ekonomi dan kesejahteraan yang disebabkan aktualisasi ajaran agama. 
Dalam kecaman Marx, mereka-mereka yang menganut, mempraktekkan dan menggunakan ajaran agama untuk kepentingannya serta penguatan kelompok kapitalis dan penguasa dipandangnya memiliki pemahaman agama yang sempit sehingga perlu diluruskan dan diberi pemahaman yang benar.


MENGAPA OPIUM?
Mengapa Marx mengambil kiasan pada opium untuk menjelaskan peran agama di kancah dialektika materialisme yang berujung pertarungan upaya penggulingan posisi antara kaum proletariat dengan kelompok pemilik modal dan sarana produksi (Borjuis), serta menyajikannya dalam kalimat yang bernada sangat satire? Tidak lain, karena pada jaman dimana Marx hidup dan mengaktifasi gagasan-gagasan kritikalnya, opium merupakan jenis obat atau  suplemen mental yang dianggap mujarab meski punya efek adiktif. Pemakaian opium pada jaman itu tidak mengandung arti buruk, sebaliknya merefleksi identitas dan kelas sosial penggunanya. Opium yang berefek candu itu merupakan jenis obat murah yang mampu diperoleh masyarakat kelas pekerja. Tujuan mengkonsumsinya pun berbeda dengan masa sekarang yang ternyata justeru menandai penyimpangan kepribadian, moral, hukum, bahkan sebagai salah satu sumber penyakit adiktif yang sangat dilawan oleh aparat penegak hukum.

Sebaliknya, terkait agama, banyak pemikiran dan pemahaman masyarakat yang kurang terlalu jernih menyimak dan memahami pesan penghargaan Marx terhadap agama. Dalam pandangan Penulis, Karl Marx cukup menghargai nilai-nilai ideal agama bagi kehidupan manusia yakni sebagai sesuatu yang besar dan berdampak bagi masyarakat. Hanya saja, menurutnya di dalam kendali para religiokrat, Agama dimainkan sebagai agen pengatur ritme kepentingan kaum borjuis yang berkorporasi dengan negara/pemerintah sebagai pemegang otoritas pemaksaan kepatuhan. Suatu kombinasi yang komplit dan berkelindan antara instrumen paksa, modal dan "penenang" yang penggunaannya menjadi begitu mudah menundukkan pemberontakkan kelas proletar yang senyatanya rentan penindasan karena tidak punya modal, mesin dan keberpihakkan regulasi.

Saat Marx mengimpresi agama sebagai candu, secara antagonik, Marx sementara mengkonstruksi pandangannya bahwa kekuatan agama yang besar tersebut bisa membentuk ilusi kebahagiaan di benak dan pikiran masyarakat dan jadi semacam opium bagi orang-orang (kaum proletar) yang didera rasa sakit dan sengsara. Suatu keadaan yang sungguh-sungguh dimengerti serta dimainkan secara efektif oleh para religiokrat (kaum agamawan). Maka, sekedar terjebak hanya pada frasa "agama adalah candu" tanpa membongkar secara utuh meta meaning yang yang diintroduksi Marx, menyebabkan posisi argumentasi Marx tentang adanya ilusi kebahagiaan yang ditawarkan agama dihakimi sebagai perlawanan atau antitesis agama. Dimana dalam pandangannya, ilusi kebahagiaan ini justeru sangat mudah melemahkan semangat perlawanan kaum tertindas terhadap kelas diatasnya yang opresif, kelas sosial yang ‘tanpa hati dan jiwa’. Penulis menginterpretasi pandangannya ini sebagai cermin yang memantulkan emosi intelektual filosofis marx.
-----------------------
(Bersambung)

No comments:

Post a Comment