Monday, January 1, 2024

PENGALAMAN BER-PADUAN SUARA DAN APA YANG DIDAPAT

Penulis: Hendry Nofry Pasalbessy. 


Vibrasi historis terasa menggetar halus di benak imajinasi. Mem-visualisasi horizon-horizon memorial yang sejenak mengantarkan beta kembali menelusur ke masa awal bersentuhan serius dengan baris-baris notasi partitur lagu Paduan Suara (kurang lebih di antara usia 11 atau 12 tahun). 

Di masa itu, sebagai Jemaat muda hasil pemekaran dari Jemaat GPM Rehoboth --di Klasis Pulau Ambon-- dinamika Nehemia memperlihatkan begitu banyak bibit muda potensi sumber daya manusia bagi masa depan Jemaat, termasuk anak-anak Sekolah Minggu/Tunas Pekabaran Injil (SM/TPI) yang berbakat di bidang seni tarik suara. 
Dalam situasi ini maka memperoleh kesempatan menjadi anggota paduan suara bukan hadiah yang dapat diperoleh dengan mudah melainkan resultan kompetisi. Harus demikian karena banyak anak seumuran beta dengan potensi suara yang hebat-hebat pun punya kesamaan hasrat. Anak-anak Sekolah Minggu di Benteng hingga Gunung Nona ketika itu memang punya kualitas vokal luar biasa.

Lolos melalui seleksi vokal oleh Pelatih Paduan Suara dan "Pengasuh" (guru Sekolah Minggu) dan di nilai punya karakteristik dan modulasi vokal yang kompatibel dengan jenis suara tinggi, kemudian "beta dapa taru" (saya ditempatkan) di kelompok suara tenor. 
Sejak itulah, beta menikmati berlayar dalam improvisasi momen-momen olah nada.

Dari Paduan suara anak dan remaja, merambah ke paduan suara dewasa Jemaat, Paduan suara PELPRI (Pelayanan Pria/Kaum Bapak) Jemaat serta Klasis Pulau Ambon, paduan suara universitas Pattimura dan beberapa paduan suara lain.

Lompatan-lompatan pengalaman Ini, beta rasakan menjadi bentangan horizon luas yang memberi jalan memasuki suatu fase yang rupanya membentuk beta dalam setidaknya dua hal:
1. Sense dan bakat musikalitas. 
2. Performance Kepemimpinan Organisasi. 


Bahwa ternyata tumbuh melalui Paduan Suara membentuk ciri musikalitas beta di kemudian hari hingga hari ini. Beberapa anugerah kecil yang lahir darinya nampak melalui fasih membaca partitur lagu, --meski tentu jauh dari jago apalagi menyentuh level beberapa pelatih hebat yang pernah men-train beta.
Dalam nuansa melankoli, ingin menyampaikan Terima kasih kepada mereka (Om Teko Siahay, Om Beng Yohannes, Ibu Merry Matayane, Ibu Merry Soissa, Om Nyong Tuanakotta, hingga Ronny Loppiesz). Tidak lupa Minggus Sahuburua (ketika beta aktif menjadi anggota paduan suara mahasiswa Unpatti). Beberapa di antara mereka memang telah "berpulang".

KEDUA: terasa ada percikan sense of art yang tercetus dari dalam diri. Nampak lewat pengalaman membikin lagu berbasis notasi partitur meski tidak satupun yang menyentuh exposure di ruang publik karena mungkin minus intuisi entertain selain ciri musikalitasnya tidak mampu menjawab selera masyarakat umum.
Sedikit kemampuan bermain beberapa jenis alat musik, rasanya juga datang melalui pengetahuan berpaduan suara.

Lebih dari itu, Paduan Suara kiranya punya sisi hebat lain yang karena mampu menavigasi arah moral dan karakter seseorang jika orang itu eksis secara konsisten dalam interval waktu yang panjang bersama Paduan Suara. Dan itu setidaknya yang beta alami sendiri. 

Banyak aspek edukasi hidup yang menempa profil seorang penyanyi Paduan Suara dan turut mengaktivasi kecerdasan kepemimpinannya. 
Sekelumit diantaranya yakni:

1. Syarat paling dasar memulai bernyanyi sebagai paduan adalah "attaching".
Pengambilan not pertama, oleh beberapa orang pelatih dianggap nyawa kepelatihannya dalam men-train suatu paduan. bahkan ada juri perlombaan yang memandangnya sebagai "Diamond of musical note' di antara tumpukkan angka dalam perjalanan di atas partitur suatu lagu.

Pengalaman mengikuti beberapa perlombaan mengajarkan bahwa attaching kitalah yang menentukan juri memutuskan apakah menggenggam pena (berarti dia akan mengoreksi bias bidik nada yang terdengar) atau tersenyum kagum dalam anggukkan kepala (tanda memuji kesempurnaan bidik nada yang dilakukan). 

Apa yang ada di satu not pertama itu? Tidak lain dari kelembutan, kesatuan dan keharmonisan tim, ketepatan bidik hingga rasa konfiden setiap penyanyi. Dan, itu adalah wujud penghormatan kepada jiwa sebuah lagu yang wajib ditampakkan.
Artinya satu not saja dalam partitur telah melatih seorang penyanyi dalam sejumlah hal. Tentang kepekaan, tentang tidak egois untuk terlalu dominan, tentang menghargai kapasitas orang di sekeliling, punya sense reaktif yang presisi, memahami secara tepat dan percaya diri.
Artinya satu not saja dalam struktur partitur mengungkap  substansi-substansi leadership secara baik dan terukur.

2. Unisono. Natur setiap paduan suara yang sungguh-sungguh berorientasi seni menyimpan berbagai teknik dalam mengekspresikan emosi serta mentransformasikannya kepada pendengar. Ekspresi ini nampak melalui teknik penyatuan suara atau dikenal dengan istilah unisono. Teknik ini mengajarkan bahwa baik sajian maupun lantunan not-not dalam partitur lagu tidak hanya tentang pembagian yang harmonis (Soprano, Tenor, Bariton, Bas, Alto, dan sebagainya) tapi juga tentang kesatuan atau "Unisono".

Dalam perspektif leadership, unisono mengajarkan tentang jiwa korsa, semangat kesatuan dimana semuanya sama rata sama rasa. Menampakkan kebulatan yang satu dari latar keragaman/heterogenitas.
Leader yang efektif, muncul dari dalam keragaman yang mengkompromi realitasnya ke dalam jiwa korsa yang unisono.

3. Paduan Suara yang dijalankan secara fokus, selalu menampakkan solidaritas satu keluarga. 
Keintiman ini di rajut melalui praktek olah karakter dan batin yang menumbuhkan simpati dan empati. 

Memiliki rasa simpati dan empati adalah keharusan dari jiwa kepemimpinan karna di atasnya terletak nilai kemanusiaan yang menuntun kepada sensitivitas memahami orang lain.
Untuk itulah, empati merupakan kunci pengembangan leadership dalam diri seorang penyanyi Paduan Suara yang diperoleh dari pem-batin-an hubungan kekeluargaan.
Pemimpin yang memiliki simpati dan empati akan mudah menggerakkan sistem dan struktur yang dipimpinnya. 

4. Perjumpaan dalam Paduan Suara (kegiatan repetisi) adalah perjumpaan dalam latihan dan lagu. Ini mengajarkan tentang titik fokus.
Mengelola kebersamaan perlu fokus dan tidak mendistraksinya oleh wacana atau diskusi tidak bermutu seperti bergosip. Artinya, sebagian dari esensi repetisi adalah tentang penetapan titik fokus dan tujuan.

Penetapan titik fokus dan tujuan menjadi kekuatan dalam teori nilai lebih yang patut dimiliki setiap pemimpin.
Dengan demikian, kebiasaan repetisi yang dikelola secara efektif berpotensi membangun ciri leadership pada diri seorang penyanyi paduan suara dari aspek pengenalan fokus dari tujuan primer pengelolaan suatu momentum. 

5. Bernyanyi dalam paduan suara mengajarkan bagaimana melakukan interpretasi kata dan memberinya makna melalui alunan berkarakter (crescendo maupun decrescendo).
Melalui pengaktifan daya interpretasi, pesan-pesan implisit yang menjadi jiwa lagu yang tidak terucap dengan lugas dapat di tangkap dan dimaknai lebih leluasa. 
Kecakapan interpretasi sungguh dibutuhkan oleh seorang pemimpin karena dipakai sebagai tool membaca ekspresi lingkungan kepemimpinannya, tahu bagaimana mengelola suatu fakta atau fenomena yang muncul serta memberi makna kepadanya. 
Artinya, orang-orang bijak serta pemimpin sangat bisa dilahirkan melalui suasana paduan suara.

6. Paduan suara yang baik ditempa melalui intensivitas dan simultansi olah vokal. Tanpa itu keindahan dan kemerduan suara sulit dicapai.
Ini mengajarkan bahwa konstruksi yang baik adalah hasil asah. Butuh tempa dan pemurnian untuk menikmati kemilau "berlian diri" seseorang penyanyi.
Tidak ada pemimpin efektif yang muncul tanpa dibentuk dan dilatih. Dan, kultur paduan suara mampu melakukannya.

Cukup demikian dulu, dan semoga tulisan ini ada manfaatnya.

No comments:

Post a Comment