Selain menohok melalui konsep-konsep filosofis mendalam seperti logosentrisme, fonosentrisme dan metafisika kehadiran, kita menjumpai pemikiran Deridda lainnya yang menelisik konsep-konsep fungsional yang cukup familiar dalam pemakaian masyarakat semisal “cinta”, “terima kasih” dan lain-lain yang didekonstruksi sedemikian rupa sehingga kita menangkap kedalaman pemikiran filosofisnya.
Sebagai bagian akhir ulasan menyangkut pemikiran Deridda, melalui bagian ketiga ini Penulis mengajak pembaca shopping pemikiran, merasakan bagaimana Deridda mengeliminasi makna umum dari kata “cinta”, dan makna kata “terima kasih (yang sedikit banyak mengandung linearitas makna dengan makna kata “cinta.”
A. Cinta.
“Aku sangat mencintaimu, dan rasa itupun ku harapkan darimu.”
“Jangan kau lupa untuk memimpikan aku di kala tidur sebentar malam.” Atau pernahkah mendengar lagunya Daniel Sahuleka “Don’t sleep away this night my baby. Please stay with me at least ‘till dawn...”
“Cinta ini menggelisahkan aku bila kau tidak menanggapinya.”
“Semoga aku adalah alasanmu tersenyum sepanjang waktu.”
Kalimat-kalimat diatas kita pahami sebagai kalimat-kalimat yang memantul rasa dalam makna cinta. Makna inilah yang oleh Deridda diadili dengan sudut pandang dekonstruktif. Dia memang filsuf yang kerap ditasbihkan sebagai salah seorang pemikir posmodernis yang memandang cinta secara unik dan terbalik. Memandang cinta dengan penuh prasangka.
Mengandaikan Deridda hendak mengatakan bahwa orang yang jatuh cinta itu narsis dalam egosentris secara sangat mendalam. Alasannya, dalam semesta suasana cinta kasih suatu pasangan, mereka dihinggapi secara alamiah situasi dominan tertentu. Situasi dimaksud itu yang oleh Penulis sebut “hasrat terutamakan.” Hasrat yang nyaris tidak menyajikan eksistensi “kita” secara seimbang karena terselubung oleh “aku”. Orang-orang yang jatuh cinta diandaikan mengidap semacam beban kebertahanan eksistensi personalitas dalam suatu ikatan bersama (beban untuk “harus menjadi yang lebih” atau “beban ingin lebih”).
Pribadi yang mencintai selalu ingin di ingat di atas segala kepentingan yang lain, selalu ingin didahulukan, selalu ingin lebih diperhatikan, selalu ingin di hubungi entah melalui telepon, video call, chat Whatsapp dan lain-lain, ingin selalu ada bersama-sama atau jalan-jalan bahkan selalu ingin dipuja, dan lain sebagainya.
Intinya bahwa seseorang yang sedang jatuh cinta tidak sedang mencintai orang lain atau Penulis mengambil kalimat “tidak sedang berada dalam suasana mono-dualitas” (satu di dalam dua dan dua yang menyatu). Baginya Cinta tidak lain semacam insting hidup manusiawi yang eksis bagi penegasan personalitas. Intensinya hanyalah memuaskan kehendak pribadi, bukan kehendak bersama. Dari sini, apa yang disebut sebagai cinta mentransformasi dirinya menjadi hasrat untuk mengendalikan sebisa mungkin sehingga rasa-rasanya nonsense --mengikuti cara pandang Deridda-- menemukan cinta sebagai kemurnian hati, sebagai anugerah, sebagai gejala yang agung yang saling melimpahi tanpa eksploitasi, dan sejenisnya. Selebihnya cinta itu dapat dipahami sebagai sekedar gejala reaksi bio-kimia tubuh semata yang sarat egosentrik.
Jika telah demikian tentu saja satu pihak akan dikorbankan; menjadi benda, obyek; yang pasrah “ditindak”.
Coba simak kalimat; “Aku (Romeo) mengerti kamu tetapi mengapakah kamu (Juliet) tidak mengerti aku (Romeo)?”
Kata “mengerti” dalam kalimat di atas mengandung arti “sungguh mengerti atau memahami secara utuh”, di mana di situ seharusnya tersedia cukup kelugasan batin dari Romeo untuk tidak meminta balik dimengerti oleh Juliet. Sebab, jika Romeo meminta untuk di mengerti oleh Juliet mengandung arti Romeo sebetulnya sedang ada dalam keadaan tidak memahami atau mengerti Juliet.
Pesan filosofisnya, jika kita mengatakan memahami pasangan kita maka dalam segenap baik-buruknya, diacuhkan, tidak direspon balik bahkan jika dihakimi pun cukuplah mengerti saja dalam segenap keluasan dan kelugasan batin kita. Jangan berorientasi mengharapkan respon dimengerti atau dipahami, sebab bila itu yang terjadi, kita sendirilah yang sedang menerabas esensi mencintai yang kita proklamirkan melalui kata-kata.
Penulis terimajinasi oleh kalimat populer dalam beberapa tahun di kalangan anak-anak muda yang gandrung mengucapkan “jangan mencintai, cukup aku saja. Cinta itu berat.” Kalimat ini bagai memberi nafas kembali kepada afirmasi Søren Aabye Kierkegaard --filsuf dan kritikus beraliran eksistensialisme sekaligus bapak filsafat eksistensialisme-- yakni; “Cinta yang sempurna adalah cinta yang tidak membuatmu bahagia.” Suatu pernyataan yang bersahut mendukung dekonstruksi dalam cara berpikir Deridda meskipun sebetulnya mereka berdua memiliki posisi pandangan yang bertolakbelakang secara diametral tentang cinta dimana Kierkegaard dapat dikelompokkan bersama dengan Jean-Jacques Rousseau, Karl Marx, dan Erich Fromm sebagai kelompok filsuf yang memiliki pandangan optimis tentang cinta sementara para penganut pandangan pesimis ditunjukkan filsuf seperti; Thomas Hobbes, Sigmund Freud, Alfred Charles Kinsey, Jean-Paul Sartre, dan tentu saja Jacques Derrida.
Jadi bila orang yang kamu cintai dalam hidupnya ternyata tidak mencintai kamu, atau membenci bahkan melukai kamu maka atas mana cinta itu, teruslah tetap mencinta. Sebab cinta tidak berpamrih apalagi korup.
“If You have any reason to love someone, you are really doesn’t love her/him” (kalau kamu punya alasan untuk mencintai orang lain sebetulnya kamu sedang tidak mencintai dia). kenapa? Karena cinta tidak butuh alasan, demikian ungkapan Deridda.
B. Terima Kasih.
Dalam bukunya yang berjudul “Forgifness and politanisme” (pemaafan dan kosmopolitanisme) pemikiran Deridda secara sangat efisien mendekonstruksi konsep cara berterima kasih dengan mengambil contoh yang terdapat dalam paktek “potlach.”
Potlach ini adalah transaksi yang mengikat solidaritas masyarakat melalui pemberian benda ekonomis sekaligus sarana ritus kebudayaan yang dalam makna menyatakan terima kasih. Potlach diperkenalkan melalui buku karya Marcell Mauss yang berjudul “Bentuk dan Fungsi Pertukaran di Masyarakat Kuno”, sebagai konsep ekonomi yang secara antropologis yang dilatari jiwa sosial masyarakat yang bersifat khas.
Melalui konsep inilah, Deridda mendekonstruksi makna “terima kasih” atau makna “pemberian cuma-cuma” atau hibah. Bahkan ketika terima kasih itu hanya disampaikan dalam wujud kata-kata sekalipun.
Dalam pemikiran Deridda, menyampaikan terima kasih bersamaan ataupun setelah menerima suatu pemberian ucapan terima kasih sebetulnya menggugurkan pemberian yang diterima. Maksudnya, ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain secara cuma-cuma, dan orang yang menerima pemberian kita itu mengucapkan terima kasih kepada kita, kita sebetulnya juga sudah menerima pemberian dari orang itu meskipun belasan yang kita terima bukan berbentuk barang atau sesuatu yang lain yang senilai apa yang diterimanya dari kita. Artinya pemberian kita sudah tidak lagi utuh karena kitapun menerima sesuatu dari orang lain itu. Dengan demikian, UCAPAN TERIMA KASIH PUN MENGGUGURKAN MAKNA PEMBERIAN.
Dengan demikian, esensi yang didekonstruksi oleh Deridda terkait makna suatu pemberian, menemukan linearitasnya dengan ajakkan dan ajaran dalam agama-agama bahwa pemberian yang paling paripurna itu adalah pemberian yang diam-diam dan tanpa diketahui dari mana asalnya. Ajaran Kristen memiliki sandaran akan hal ini sebagaimana ada dalam Matius 6:3 (Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu).
-------------------
Bandung, 27 Maret 2021
SELAMAT ULANG TAHUN
1. Anakku Sendy Pasquitta Viscell Pasalbessy
2. AMGPM
No comments:
Post a Comment