Monday, September 19, 2022

"MOHON MAAFKAN KESALAHAN DAN KEBODOHAN SAYA"

Saya tidak menyangka akan melalui hari dengan suatu kebodohan yang tidak terkira. 

Saya telah lengah dan membiarkan emosi negatif menguasai bahkan dalam beberapa menit mengendalikan pikiran sadar saya. Mengubah saya dari pribadi yang seharusnya mencintai dan mengupayakan situasi-situasi damai, menghargai dan menjunjung rasa hormat kepada orang lain serta lebih memikirkan lebih dulu akibat dari apapun yang akan saya lakukan dibandingkan menyesalinya setelah terjadi.
Padahal dengan usia, pengalaman hidup dan latar belakang pendidikan yang saya jalani, saya bisa menjadi contoh baik dan bukan contoh buruk.

Sungguh-sungguh Saya telah kehilangan moral sosial dalam hubungan dengan orang lain di pagi ini hingga berapapun banyaknya hal baik yang saya lakukan sepanjang hari ini tidak dapat menghapus noda yang telah saya buat. 

Persisnya, tadi pagi (Selasa 20 September 2022) sekitar antara pukul 06:40 - 06:50 WIB, saya hendak melalui kepadatan pertigaan di bawah jembatan tol dan Kereta api cepat yang berlokasi di perbatasan antara kota "B" dan Kabupaten "B".

Saat itu saya hendak belok kanan ke arah sebuah komplek pemukiman. 
Keberadaan komplek itu sendiri menyebabkan jalur transportasi membentuk suatu pertigaan dengan arus lalulintas yang cukup padat, terutama di pagi dan sore hari.

Karena pertimbangan akan belok ke arah kanan maka saya mengambil posisi paling kanan dari jalur searah saya yang saya perkirakan akan memudahkan saya saat berbelok. 

Sebaliknya, dari arah berlawanan, muncul sebuah mobil warna putih yang jenis dan pelat nomornya tidak saya ingat. Tentu saja karena merasa tidak ada pentingnya saya mengetahui hal itu. 

INSIDEN TABRAKAN.
Dalam penilaian saya mungkin lebih tepatnya bukan tabrakan tapi saya yang di tabrak. 
Jadi, karena di depan saya ada sejumlah motor yang jalurnya searah dengan saya yang hendak maju namun terhalang arus sebaliknya menyebabkan motor saya tidak bisa maju. Dalam posisi motor saya terdiam di tempat karena kemacetan, saya menurunkan kaki untuk menahan keseimbangan motor. Pada saat itulah, sebuah mobil Putih (yang saya sebutkan di atas) dari arah komplek (sebelah jalur kanan) yang hendak berbelok masuk jalur berlawanan dengan arah motor saja mencoba menerobos kemacetan. Saat itulah, bagian kanan bumper mobil tersebut menabrak kaki kanan saya yang sementara menahan posisi motor agar seimbang. Akibatnya betis saya tertabrak dan terdorong ke belakang hingga terhimpit keras di antara bumper mobil dan sadel belakang motor saya. tulang kaki saya terasa sakit minta ampun karena tabrakkan itu. 
Seketika itu saya terdiam karena rasa sakit dan kemudian meledak menjadi emosi.

Pada sudut pandang saya, saya merasa benar karena motor saya sedang diam tetapi saya justeru yang ditabrak.
Sebaliknya mungkin karena pada sudut pandang orang yang menyetir mobil tersebut, yang bersangkutan merasa benar pada posisinya maka terjadilah perdebatan diantara kami yang berujung saling mengamcam.

Ternyata pada momentum inilah kebodohan dan emosi tidak penting menguasai pikiran dan perasaan saya secara penuh.
Rasa sakit di bagian kaki, emosi dan merasa di posisi benar menyebabkan saya mengejar mobil yang ternyata  supirnya juga memiliki niat yang bersambut denga niat saya (memperpanjang masalah). 

Lebih bodoh lagi, saya justru membawa rantai (yang biasa dipakai untuk merantai motor saat diparkir) dengan tujuan menggertak.

Ujung dari semua peristiwa itu adalah kamipun berduel di tengah kerumunan orang yang lalu lalang dan dilerai oleh beberapa orang.

Sungguh saya menyesali kebodohan ini, suatu kebodohan yang tidak pernah terpikirkan akan saya lakukan terhadap siapapun.

Kebodohan yang menyebabkan saya merasa sudah kehilangan nilai diri karena gagal menghormati nilai diri orang lain.
Hikmah dalam diri saya, kedewasaan saya, pemahaman-pemahaman baik dalam pikiran saya, seluruhnya runtuh ke tanah hanya oleh satu hal yakni "emosi dan rasa harga diri yang semu".

Andai saya tahu siapa orang yang sudah saya sakiti tubuh dan hatinya pagi tadi, dengan rendah hati, akan saya datangi untuk menyatakan maaf saya dan dengan tulus hati bersedia diperlakukan dengan rasa sakit yang sama sebagai konsekwensi yang harus saya tanggung jika dalam pandangannya hal itu adalah suatu keadilan.

Sungguh, dari lubuk hati saya yang terdalam saya mohon maaf.
Peristiwa ini akan jadi pengalaman pahit pertama yang tidak akan pernah terulang. 

Ajakan saya untuk siapapun yang membaca tulisan saya pagi ini, belajarlah pada kebodohan saya.
Bahwa "Kesabaran dan ketenangan harusnya menjadi hal paling utama saat kita ada di jalan." Lebih dari itu, menghormati orang lain dan selalu belajar ada di posisi orang lain adalah penting untuk mengevaluasi diri kita mengantisipasi tindakan-tindakan kita yang berpotensi negatif.

Kecil kemungkinan saya bertemu lagi dan minta maaf secara langsung pada orang yang saya sakiti tubuh dan hatinya pagi ini, namun kiranya tulisan ini menjadi cara lain menebus kasalahan saya (berharap tidak ada orang lain yang meniru kebodohan saya).

No comments:

Post a Comment